Doa agar Lancar Bicara dan Tidak Gugup Saat Presentasi

Doa agar Lancar Bicara dan Tidak Gugup Saat Presentasi

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Minggu, 10 Mei 2026 10:00 WIB
Doa agar Lancar Bicara dan Tidak Gugup Saat Presentasi
Ilustrasi Berdoa. Foto: Murad Khan/Pexels
Jakarta -

Sering kali umat Islam merasa gugup dan tegang setiap kali akan melakukan presentasi di depan banyak orang. Rasa gugup adalah hal yang manusiawi, namun dalam Islam, kita diajarkan untuk memohon kekuatan kepada Allah SWT agar diberikan kelancaran dalam berucap.

Ada doa yang disebutkan dalam Al-Qur'an untuk mengatasi rasa gugup dan membuat bicara kita lebih mudah dimengerti. Berikut ulasan lengkap mengenai doa, adab berbicara, serta kisah Nabi Musa ketika menghadapi Fir'aun yang dirangkum oleh detikHikmah.

Doa agar Lancar Berbicara dan Tidak Gugup

Dikutip dari buku Ibadah Para Juara karya Rizem Aizid, doa lancar berbicara dan tidak gugup berasal dari Al-Qur'an surat Thaha ayat 25-28. Doa ini dapat umat Islam panjatkan untuk meningkatkan kecerdasan bahasa, sehingga seseorang dapat berbicara dengan lebih lancar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, doa ini juga dibaca untuk kelapangan dada (kecerdasan emosi) dan kelancaran segala urusan. Berikut bacaan doanya:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسْرْ لِي أَمْرِى وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

ADVERTISEMENT

Rabbisyrahlii shadrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatan min lisaanii, yafqahuu qaulii.

Artinya: "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku."

Adab Berbicara dalam Islam

Dijelaskan dalam buku Segenggam Mutiara Nabawi: Sepuluh Hadis Kedua Kitab Al Arbain An Nawawiyyah karya Abdullah Syauqi, Islam telah mengatur beberapa adab ketika seseorang berbicara antara lain sebagai berikut:

1. Berbicara Hal yang Bermanfaat

Pembicaraan hendaknya berisi hal yang bermanfaat, bukan membicarakan sesuatu yang diharamkan. Membicarakan sesuatu yang bermanfaat merupakan sifat dari orang beriman

2. Membatasi Pembicaraan

Membatasi pembicaraan, termasuk pembicaraan yang bersifat mubah (boleh) karena kemungkinan akan terjerumus pada pembicaraan yang makruh bahkan haram. Sahabat Umar bin Khattab berkata:

مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقْطُهُ وَمَنْ كَثُرَ سَقْطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Artinya: "Siapa yang banyak bicara maka akan banyak salahnya. Siapa yang banyak salah maka akan banyak dosanya. Dan siapa saja yang banyak dosanya maka neraka lebih utama baginya."

3. Berbicara Sesuai dengan Kebutuhan

Umat Islam dianjurkan untuk berbicara sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan yang dimaksud yaitu pembicaraan dalam rangka menjelaskan kebenaran serta perintah amar ma'ruf nahi munkar.

Membicarakan hal demikian merupakan sebaik-baiknya pembicaraan. Bahkan diam dalam masalah ini termasuk perbuatan maksiat yang mendapat dosa bagi pelakunya, karena diam dari menegakkan kebenaran disebut sebagai syaiton akhros (setan yang bisu).

Kisah Nabi Musa Ketika Menghadapi Firaun

Doa kelancaran bicara merujuk pada kisah Nabi Musa yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk mendakwahi Raja Fir'aun.

Dinukil dari buku Manajemen Diri karya Dr. Ahmad Hosaini, ketika Nabi Musa diperintah Allah SWT untuk menghadapi Raja Fir'aun, ada senjata yang cukup ampuh yang beliau baca, yaitu doa kepada Allah agar diberikan kemudahan, tidak kaku dan tidak gemetar dalam menghadapi Fir'aun. Doa Nabi Musa ini diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Thaha ayat 25-28.

Doa tersebut menjadi salah satu sebab Nabi Musa diberi kelancaran dan kemudahan untuk mematahkan argumentasi Raja Fir'aun.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads