Salah satu kamar hotel di kawasan Jarwal, Makkah, siang itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Kamar itu adalah tempat nenek Jumaria asal Maros, Sulawesi Selatan tinggal selama berhaji.
Beberapa jemaah dari kamar lain tampak berdiri di depan pintu kamar nenek Jumaria, sambil sesekali melongok ke dalam kamar, penasaran bagaimana nenek Jumaria diwawancara oleh tim Media Center Haji (MCH).
"Ini kamarnya ibu Jumaria yang terkenal itu," bisik salah seorang jemaah lain asal Maros kepada salah satu tim MCH di Makkah, Sabtu (16/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lorong hotel, sejumlah tetangga kamar dan jemaah lain sesekali berhenti dan berkumpul melihat keramaian kecil di kamar nenek Jumaria. Mereka mengaku ikut senang karena sosok perempuan sederhana dari kampung mereka dikenal hingga luar negeri.
"Bangga sekali, orang asal kampung kami bisa dikenal dunia," ujar salah seorang jemaah yang ikut menengok dari depan pintu kamar.
Di dalam kamar, perempuan asal Desa Kurusumange itu duduk di kasurnya sambil menggenggam ujung kerudung hitam yang beberapa kali dipakainya mengusap air mata haru. Di sampingnya, Ketua Kloter UPG 14 Sitti Hawaisyah dan teman-teman sekamarnya sesekali membantu menjawab pertanyaan tim MCH ketika perempuan lansia itu sulit berkata-kata karena perasaan bahagia yang membuncah.
Sejak tiba di Tanah Suci, nenek Jumaria dikenal banyak orang. Kisah hidupnya yang tinggal seorang diri selama puluhan tahun, menabung sedikit demi sedikit di ember hingga akhirnya berangkat haji, membuat sosoknya dijadikan bagian dari dokumentasi promosi internasional haji Arab Saudi 2026.
Namun di balik sorotan itu, nenek Jumaria tetaplah sosok sederhana yang mudah tersipu ketika dipuji. "Nggak tahu (kalau dirinya terkenal). Alhamdulillah, saya lihat, saya dengar itu. Senang juga," katanya pelan sambil tersenyum malu.
Di usianya yang sekitar 70 tahun, nenek Jumaria akhirnya benar-benar tiba di Tanah Suci. Momen yang paling membekas baginya adalah saat di Masjid Nabawi mengunjungi makam Rasulullah di Raudhah, dan saat pertama kali melihat Ka'bah di Masjidil Haram.
Begitu ditanya soal itu, air matanya langsung tumpah. Kalimatnya terhenti di tengah jalan sebelum berubah menjadi tangis haru. "Alhamdulillah saya senang sekali. Kenapa aku bisa di sini. Saya orang miskin...," ucapnya lirih.
Jumaria, jemaah haji asal Maros yang jadi ikon haji 2026. Foto: Dok MCH 2026 |
Rasa haru itu dirasakan semua yang ada di ruangan. Beberapa orang tampak menundukkan kepala, ikut meneteskan air mata haru, termasuk tim MCH. Perempuan lansia itu melanjutkan ceritanya tentang perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci.
Sebelum tiba di Madinah dan Makkah, hidup Jumaria berjalan dalam kesunyian selama lebih dari dua dekade. "Tidak ada anak," ujarnya saat ditanya tentang keluarganya.
Hari-harinya di desa diisi dengan rutinitas sederhana. Selepas Subuh ia memberi makan ayam, menyapu rumah, mengambil air, mencuci pakaian, lalu memasak sendiri. Setelah pekerjaan rumah selesai, ia menuju sawah dan kebun.
"Kalau selesai pekerjaan di rumah, pergi ke sawah. Lihat-lihat padi, bersih-bersihkan rumputnya," tuturnya.
Sawah itu berada di dekat rumahnya, sementara kebun yang ia rawat adalah milik tetangganya. Di kebun itu ia menanam ubi jalar, ubi kayu, hingga jagung. "Dimakan sendiri saja. Karena bukan saya punya kebun. Kebunnya orang. Saya kerja," katanya.
Dari hasil bertani dan berkebun itulah Jumaria mulai menabung untuk berhaji. Sedikit demi sedikit uang ia sisihkan selama bertahun-tahun. "Kalau saya dapat 100 ribu, saya simpan 50 ribu, kumpulkan," ujarnya.
Saat ditanya di mana ia menyimpan uang tabungan hajinya, suasana kamar mendadak pecah oleh tawa kecil. "Di ember," jawab Jumaria singkat sambil ikut tertawa malu.
Ia mengaku tak pernah membuka rekening bank karena lokasi bank jauh dan dirinya tak memahami caranya. "Saya nabung di ember saja," ulangnya.
Butuh waktu panjang sampai akhirnya ia bisa mendaftar haji pada 2011. Jumaria dikenal sangat semangat menjalani ibadah haji. Bahkan setibanya di Makkah, ia sudah menjalani umrah sunnah setelah sebelumnya menyelesaikan umrah wajib.
Ketua kloter dan teman-teman sekamarnya mengaku sering kewalahan mengikuti semangat perempuan lansia itu. Pendamping Jumaria bahkan menyebut perempuan itu nyaris tak pernah mengeluh selama perjalanan ibadah.
"Masyaallah beliau sangat kuat," ujar Ketua Kloter UPG 14 Sitti Hawaisyah yang mendampinginya.
Hawaisyah bahkan menyebut semangat nenek Jumaria sudah dimulai sejak sebelum keberangkatan. "Beliau ini tidak pernah absen manasik haji, selalu datang," ungkapnya.
Saat ditanya apa rahasia kebugaran tubuhnya, Jumaria mengatakan hal itu karena ia terbiasa banyak bergerak. "(Karena) berkebun dan bertani. Banyak minum juga, sedikit-sedikit minum," jawab Jumaria.
Kini, setelah puluhan tahun hidup sendiri di kampung kecilnya di Maros, Jumaria bersiap menjalani puncak ibadah haji di Arafah. Saat ditanya doa apa yang ingin ia panjatkan di Tanah Suci, perempuan lansia itu kembali terharu.
Bibirnya bergetar, lalu air mata meluncur jatuh di pipinya. Jumaria perlahan mengatupkan kedua tangannya ke wajah. Yang jelas, semua orang di dalam kamar itu tahu betapa haru dan bahagianya nenek Jumaria, perasaan yang rasanya sulit diucapkan dengan kata-kata.
(rns/kri)













































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Sebelum Idul Adha