6 Teks Ceramah Singkat tentang Malam Lailatul Qadar Beserta Pesan Hikmahnya

Langkah Emas Raih Kemenangan

6 Teks Ceramah Singkat tentang Malam Lailatul Qadar Beserta Pesan Hikmahnya

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Selasa, 10 Mar 2026 18:30 WIB
Ilustrasi kultum dan khutbah di masjid. (Gemini AI)
Ilustrasi Ceramah Foto: (Gemini AI)
Jakarta -

Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Allah SWT menjelaskan keutamaan malam Lailatul Qadar dalam Surah Al-Qadr, ketika para malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi dengan izin Allah untuk mengatur berbagai urusan.

Ceramah tentang malam Lailatul Qadar biasanya berisi ajakan kepada umat Islam untuk meningkatkan ibadah, terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Melalui ceramah tersebut, para penceramah juga menyampaikan pesan-pesan hikmah agar jamaah semakin memahami keutamaan malam Lailatul Qadar sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk meraih ampunan dari Allah SWT.

Teks Ceramah Singkat tentang Malam Lailatul Qadar

Berikut beberapa contoh teks ceramah singkat tentang malam Lailatul Qadar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Lailatul Qadar Lebih Baik daripada Seribu Bulan

Berikut teks ceramah singkat tentang malam Lailatul Qadar yang diambil dari buku Kumpulan Kultum Setahun Jilid 2 yang disusun oleh Fuad bin Abdul 'Aziz Asy-Syalhub.

Segala puji bagi Allah yang telah menjamin untuk memelihara Al-Qur'an dan menjaganya dari penyelewengan, kesalahan, dan lupa. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada sebaik-baik manusia yang menunaikan salat, berpuasa, dan membaca Al-Qur'an. Semoga shalawat juga senantiasa dicurahkan kepada beliau dan kepada segenap keluarganya dengan diiringi salam.

ADVERTISEMENT

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadr: 1-5)

Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) adalah malam yang penuh berkah, sebagaimana disebutkan dalam surat Ad-Dukhan. Allah Ta'ala berfirman:

"Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul." (Ad-Dukhan: 1-5)

Malam ini memiliki kedudukan yang agung, karena pada malam inilah Al-Qur'an diturunkan. Malam ini setara dengan nilai ibadah selama seribu bulan, sekitar delapan puluh tiga tahun empat bulan. Pada malam tersebut, para malaikat turun, termasuk Ar-Ruh (Jibril), bersama dengan banyaknya rahmat dan berkah. Malam kemuliaan ini dipenuhi dengan kesejahteraan, kebaikan, dan berkah hingga terbitnya fajar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (Ad-Dukhan: 4)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada malam kemuliaan ini, segala sesuatu dari Lauh Mahfuzh dirinci hingga sampai kepada para penulis perkara, termasuk ketetapan mengenai ajal dan rezeki. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Abu Malik, Adh-Dhahhak, dan beberapa ulama salaf lainnya. Allah juga menegaskan bahwa ketetapan ini bersifat muhkam, tidak akan diganti dan tidak akan diubah.

Di antara dalil yang menjelaskan keutamaan malam kemuliaan adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

"Barangsiapa melakukan salat pada malam kemuliaan dengan penuh keimanan dan penuh harap akan ridha Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lampau." (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah karunia besar dari Allah Ta'ala. Amal yang sedikit mendapat pahala yang besar. Ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Muhammad, mengingat usia mereka yang lebih pendek dibandingkan umat sebelumnya. Oleh karena itu, mereka diberi kesempatan memperoleh pahala besar melalui puasa dan salat malam pada bulan Ramadan. Seorang Muslim yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan salat dan doa akan mendapatkan pahala yang setara dengan ibadah selama delapan puluh tiga tahun dan empat bulan. Segala puji dan anugerah hanya milik Allah.

Terkait waktu terjadinya Lailatul Qadar, para ulama berbeda pendapat. Namun, yang paling kuat adalah bahwa malam ini terjadi pada malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Upayakan mendapatkan malam kemuliaan pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap Muslim hendaknya bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dengan harapan memperoleh malam yang penuh berkah ini. Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam tersebut adalah:

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni, maka ampunilah aku."

Dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha, ia berkata:

"Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam apa yang merupakan malam kemuliaan, apa yang harus aku ucapkan?' Beliau menjawab, 'Katakanlah:

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Mahamulia, dan suka mengampuni, maka ampunilah aku)." (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, serta seluruh umatnya. Dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

2. Meraih Keberkahan Lailatul Qadar

Selanjutnya kultum singkat tentang lailatul qadar yang dikutip dari buku Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun susunan A.R. Shohibul Ulum.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Tidak terasa Ramadan telah memasuki sepertiga akhir. Ini berarti kita sudah berada di 10 malam terakhir Ramadan, yang oleh masyarakat Jawa sering disebut dengan likuran. Pada malam-malam ini, banyak umat Muslim yang berbondong-bondong melakukan iktikaf di masjid guna mendapatkan Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Setiap Muslim berlomba-lomba untuk meraihnya, terutama pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.

Suasana malam menjelang dini hari hingga fajar menjadi semarak di berbagai masjid. Suasana ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya di bulan Ramadan, apalagi dengan hari-hari di luar Ramadan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadar: 3)

Dalam surah ini, Allah menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, sebuah malam yang penuh berkah. Ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai lebih baik daripada ibadah selama 83 tahun 4 bulan. Ini merupakan anugerah luar biasa yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad, yang umurnya relatif lebih pendek dibandingkan umat terdahulu.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mencari dan memburu Lailatul Qadar adalah sunnah Rasulullah. Beliau sendiri sangat giat dalam mencarinya dengan memperbanyak ibadah, membangunkan keluarganya, serta menjauhi hubungan suami istri demi fokus beribadah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:

"Barang siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim)

Secara ringkas, berikut beberapa amalan untuk meraih Lailatul Qadar:

  1. Menghidupkan malam Lailatul Qadar sebagai bukti keimanan seseorang. Rasulullah bersabda: "Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari)
  2. Berpuasa dengan penuh keimanan karena ibadah puasa berkaitan erat dengan Lailatul Qadar. Rasulullah bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari)
  3. Mencari Lailatul Qadar di 10 malam terakhir sebagaimana disebutkan dalam hadits dari 'Aisyah bahwa Nabi selalu mencari Lailatul Qadar di malam-malam tersebut. (HR. Bukhari)
  4. Mengutamakan malam-malam ganjil di 10 malam terakhir, terutama malam 21, 23, 25, 27, dan 29. (HR. Bukhari)
  5. Berdasarkan beberapa riwayat, Lailatul Qadar sering terjadi pada malam ke-27 dan juga malam ke-23. Abdullah bin Unais menyebut bahwa Nabi pernah melihat Lailatul Qadar pada malam 23. (HR. Muslim)
  6. Lailatul Qadar dapat terlihat dalam mimpi yang benar. Beberapa sahabat Nabi pernah bermimpi melihat Lailatul Qadar di 7 malam terakhir. (HR. Bukhari)
  7. Ciri-ciri malam Lailatul Qadar: Tidak panas, tidak dingin, tidak berawan, tidak berangin, dan tidak hujan. Keesokan paginya, matahari terbit dengan cahaya yang lembut. (HR. As-Suyuthi)
  8. Kadang-kadang Lailatul Qadar juga disertai hujan, sebagaimana dalam hadits Abu Said Al-Khudri yang menyebutkan bahwa Nabi sujud di atas tanah yang basah. (HR. Bukhari)
  9. Pagi setelah Lailatul Qadar, matahari bersinar dengan cahaya putih yang tidak menyilaukan. (HR. Muslim)
  10. Lailatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yang beriman dan mengharap ridha Allah. (HR. Muslim)
  11. Malaikat yang turun pada malam itu lebih banyak dari jumlah kerikil di bumi. (HR. Thayalisi)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Jika kita merasakan kehadiran Lailatul Qadar, maka perbanyaklah membaca doa yang diajarkan Rasulullah kepada 'Aisyah:

"Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni." (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku). (HR. Tirmidzi)

Allah sengaja merahasiakan waktu pasti Lailatul Qadar agar kita bersungguh-sungguh mencarinya. Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan kesempatan ini dengan beribadah sebaik-baiknya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan Lailatul Qadar dan keluar dari Ramadan sebagai pribadi yang bertakwa. Aamiin.

3. Malam Lailatul Qadar

Betapa banyak anjuran amal ibadah yang dianjurkan untuk umat Muslim selama Ramadan. Mulai dari amalan sunnah, sahur, bertadarus Al-Qur'an, hingga salat tarawih. Salah satu anjuran utama yang terdapat pada bulan agung ini adalah meraih malam Lailatul Qadar. Allah SWT dalam Al-Qur'an secara tegas menyampaikan bahwa momen sakral Lailatul Qadar,

إِنَّا أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالْرُّوحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِهِّمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِىَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.

Artinya, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS Al-Qadar [97]: 1-5)

Berkaitan dengan ini, Imam Malik dalam al-Muwattha meriwayatkan satu hadits,

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوْا مِنَ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِيْ بَلَغَ غَيْرُهُمْ فَيْ طُوْلِ الْعُمْرِ، فَأَعْطَاهُ اللهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ.

Artinya, "Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya (yang relatif panjang) sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka karena panjangnya usia mereka, maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan". (Imam Malik, al-Muwattha: juz I, h. 321)

Hanya saja, kepastian kapan malam agung ini terjadi belum ada yang bisa memprediksi, apakah di awal Ramadan, pertengahan, atau di penghujung bulan. Jika kita umpamakan, malam Lailatul Qadar bagaikan permata sangat indah yang tersimpan di tempat sangat tersembunyi. Semua orang menginginkannya, tetapi hanya bisa memprediksi keberadaannya. Dalam satu hadits terkait malam Lailatul Qadar, Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ.

Artinya, "Sesungguhnya bulan ini (Ramadan) telah datang kepada kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi dari (meraih)nya, sungguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali orang yang memang terhalangi dari kebaikan." (HR Ibnu Majah)

Meskipun kedatangan malam Lailatul Qadar dirahasiakan, akan tetapi para ulama berusaha (berijtihad) untuk memprediksi kapan malam mulia tersebut jatuh. Kita bisa mengacu pada pendapat-pendapat yang mereka kemukakan, kendati pada akhirnya kita juga berkesimpulan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar tetap menjadi misteri karena tidak bisa diprediksi ketepatannya seratus persen.

Jika kita himpun, ada banyak sekali ragam prediksi para ulama tentang jatuhnya malam Lailatul Qadar. Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani sendiri menjelaskan setidaknya ada 45 pendapat terkait waktu terjadinya malam mulia tersebut. Hanya saja, dari sekian pendapat yang ada ia berkesimpulan bahwa argumen yang paling kuat adalah yang mengatakan terjadi pada tanggal-tanggal ganjil di bulan Ramadan.

Sementara Imam Syafi'i lebih spesifik lagi berpendapat bahwa tanggal 21 dan 23 Ramadan lebih potensial terjadi malam Lailatul Qadar. Sedangkan mayoritas ulama termasuk Syekh Nidzamuddin an-Naisaburi berpendapat pada 27 Ramadan. (Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fatḥul Bārī: juz V, h. 463)

Menurut Imam Fakruddin ar-Razi, hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar adalah supaya umat muslim bersungguh-sungguh melakukan ibadah selama satu bulan Ramadan penuh untuk meraih malam istimewa tersebut. Jangan sampai kita lengah satu hari saja. Tentu kita tidak menginginkan malam Lailatul Qadar jatuh saat kebetulan kita sedang malas beribadah. (Fakhruddin ar-Razi, Mafātīḥul Ghaib, 1981: juz XXXII, h. 28)

Senada dengan ar-Razi, Syekh Nidzamuddin an-Nasibasuri dalam tafsirnya Gharāibul Qur'ān wa Raghāibul Furqān menyampaikan,

الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي الَّليَالِي كَالْحِكْمَةِ فِي إِخْفَاءِ وَقْتِ الوَفَاةِ وَيَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَرْغَبَ الْمُكَلَّفُ فِي الطَّاعَاتِ وَيَزِيْدَ فِي الاِجْتِهَادِ وَلَا يَتَغَافَلَ وَلَا يَتَكَاسَلَ وَلَا يَتَّكَلَ.

Artinya, "Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar di antara malam-malam bulan Ramadan adalah seperti dirahasiakannya kematian dan hari kiamat. Sehingga manusia dengan penuh suka cita menjalankan ibadah, lebih bersungguh-sungguh, tidak lalai, tidak bermalas-malasan, dan tidak lesu." (Nidzamuddin an-Naisaburi, Gharāibul Qur'ān wa Raghāibul Furqān, 2015: juz VI, h. 537)

Kendati malam Lailatul Qadar tidak bisa kita pastikan kapan terjadinya, selain mengikuti prediksi para ulama, kita juga bisa memprediksi kedatangannya dengan mengamati kondisi alam yang terjadi. Berikut adalah beberapa ciri-ciri malam Lailatul Qadar dilihat dari gejala alam berdasarkan beberapa hadits Nabi.

Pada pagi harinya sinar matahari tidak terlalu panas dan cuaca terasa sejuk. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim.

Malam harinya langit terlihat bersih, tidak terdapat awan, suasana terasa tenang dan sunyi, udara juga tidak dingin tidak pula panas.

Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاءُ

Artinya, "Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan." (HR Ath-Thayalisi dan Al Baihaqi)

Hanya saja, prediksi berdasarkan gejala alam tersebut tidak bisa dijadikan acuan untuk bisa meraih malam Lailatul Qadar. Ibnu Hajar al-'Atsqalani sendiri menegaskan bahwa ciri-ciri gejala alam tersebut akan tampak setelah malam Lailatul Qadar-nya, bukan sebelum atau saat sedang terjadi sehingga kita bisa mempersiapkan diri sebelum tepat kedatangannya. (Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fatḥul Bārī: juz IV, h. 260).

Pada akhirnya kita berkesimpulan bahwa malam Lailatul Qadar tidak bisa diprediksi kapan tepatnya. Kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar dengan memperbanyak ibadah selama satu bulan Ramadan dengan harapan bisa meraih malam istimewa ini.

4. Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadan

Umat Islam sedang menjalani 10 hari terakhir bulan Ramadan. Pada rentang waktu itulah kita dianjurkan untuk lebih sungguh-sungguh beribadah supaya dipertemukan dengan satu malam yang disebut Lailatul Qadar. Yakni satu malam yang keutamaannya lebih baik daripada seribu bulan, atau 83 tahun.

Sangat wajar apabila kita ingin berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabul khairat) untuk menyongsong Lailatul Qadar. Alasannya sederhana bahwa jatah umur dan kesempatan hidup kita di dunia belum tentu sampai 83 tahun. Sementara dalam Surat al-Qadar dinyatakan, bahwa Lailatul Qadri khairun min alfi syahr yang artinya Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Dengan pertimbangan itulah umat Islam di mana pun berada sangat menantikan Lailatul Qadar.

Malam yang disebut Lailatul Qadar bukanlah malam perayaan yang dirayakan. Kalau umat Islam mau merayakan satu malam, maka bukankah sudah ada malam bersejarah yang lebih pasti? Misalnya "Malam Isra'-Mi'raj" atau "Malam Nuzulul Qur'an" yang sudah dikalenderkan.

Malam Lailatul Qadar juga bukan menjadi malam penentuan, sekalipun dari segi namanya menggunakan lafal "al-qadar". Penentuan nasib manusia, rezekinya, umurnya, dan hal-hal lainnya sudah ada waktu khusus yang disebut "Nisfu Sya'ban"; di mana kita biasa bermunajat kepada Allah agar diberikan yang terbaik pada malam tersebut.

Dalil Lailatul Qadar

Semangat Umat Islam menyambut Lailatul Qadar semata-mata karena kemuliaan malam tersebut yang secara runtut dijelaskan dalam Surat al-Qadar ayat 1 - 5. Firman Allah SWT: yang artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apa Lailatul Qadar? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat dan Jibril dengan ijin tuhan mereka untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Di dalam Al-Qur'an, keterangan kitab suci bagi umat Islam ini diturunkan di waktu malam tidak hanya disebutkan di dalam surat al-Qadar saja. Akan tetapi juga terdapat di dalam Surat ad-Dukhan ayat 3 dengan kalimat "lailatin mubarakatin" (malam yang penuh berkah). Firman Allah SWT yang artinya: Sesungguhnya Aku turunkan Al-Qur'an pada malam yang penuh berkah. Sesungguhnya kami adalah pemberi peringatan.

Sama-sama menjelaskan peristiwa turunnya Al-Qur'an, tetapi dalam satu ayat disebut Lailatin Mubarakatin sementara dalam satu Surat disebut Lailatul Qadar. Namun umat Islam lebih condong kepada penyebutan Lailatul Qadar sebab ia bukanlah pengkalenderan malam turunnya Al-Quran.

Selain itu juga ada hal dalam surat al-Qadar, yaitu ketika terjadi pengulangan kata dalam bentuk pertanyaan; "Tahukah kamu Lailatul Qadar? Pertama, Lailatul Qadar keutamaannya melebihi seribu malam. Kedua, pada Lailatul Qadar para malaikat yang masing-masing memiliki tugas khusus yang berhubungan dengan urusan manusia, termasuk malaikat Jibril, turun semua ke bumi. Mereka membawa kedamaian dan keselamatan serta memohonkan ampunan untuk umat Islam, sampai terbit fajar.

Gambaran Surat al-Qadar mengenai keutamaan Lailatul Qadar inilah yang membangkitkan semangat umat Islam untuk bertafakkur, beramal, dan memperbanyak ibadah di 10 malam terakhir bulan Ramadan yang tak dapat diprediksi dan ditentukan. Benar, bahwa Lailatul Qadar terselubung penuh misteri! Adapun prediksi dan penentuan Lailatul Qadar yang dikemukakan para ulama hanya bersifat takwili atau apologi.

Misalnya ada yang membuat patokan Lailatul Qadar terjadi setiap 27 Ramadan. Hal ini karena dalam perhitungan jumlah kata pada Surat al-Qadar terdapat 30 kata dan 114 huruf: menyerupai jumlah juz Al-Qur'an dan pembagian surat Al-Qur'an. Kemudian, Lailatul Qadar diprediksi jatuh setiap 27 Ramadan dikarenakan lafal "HIYA" (Hatta Math'alil fajr) --yakni dhomir yang menunjuk langsung "Lailatul Qadar"-- adanya pada urutan ke-27 dari total 30 kata dalam Surat al-Qadar.

Sekalipun demikian tidak ada anjuran bahwa kita cukup beribadah di malam tertentu seperti malam 27 Ramadan saja. Melainkan di 10 malam terakhir bulan Ramadan, kita dianjurkan untuk lebih giat beribadah kepada Allah SWT guna menyambut Lailatul Qadar.

Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

Kebiasaan umat Islam di dunia untuk menghidupkan 10 malam terakhir di bulan Ramadan adalah dengan cara beri'tikaf. Ibadah ini merupakan ajaran yang dipraktikkan secara langsung oleh Rasulullah Saw. Dari Siti Aisyah diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw melakukan I'tikaf pada 10 terakhir Ramadan semenjak beliau menetap di kota Madinah hingga beliau wafat.

Beri'tikaf merupakan usaha untuk mendekatkan diri (muraqabah) kepada Allah dengan penuh ikhlas. Pada momentum inilah kita menyerahkan diri kepada Sang Khaliq. Kita berupaya untuk taat beribadah kepada Allah SWT sesuai petunjuk-Nya dan tak ingin berpaling dari-Nya. Seolah-olah kita berdiri di depan pintu rahmat-Nya menunggu datangnya pengampunan dari Allah SWT.

Menurut Syekh Mahmud Syaltut dalam Kitab Min Taujihat al-Islam, ada 3 (tiga) fungsi peribadatan di dalam memakmurkan 10 malam terakhir Ramadan. Pertama, wujud syukur kita kepada Allah SWT yang telah menurunkan Al-Qur'an di bulan Ramadan sebagai petunjuk (Huda) dan penerang (bayyinat) bagi umat manusia. Kedua, menambatkan jiwa kepada hal yang dapat mengokohkannya dan mampu menguatkan rohaninya. Ketiga, menaikkan jiwa ke maqam tertinggi selayaknya golongan malail a'la.

Oleh sebab itu jika seandainya kita ada halangan melakukan peribadatan di masjid, kita dapat memakmurkan 10 malam terakhir Ramadan di rumah masing-masing. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an di rumah; selain sebagai ungkapan syukur diturunkannya kitab suci di bulan Ramadan juga dalam rangka menyinari rumah kita dengan Al-Qur'an. Perbanyaklah berdzikir dan bersholawat supaya terikat jiwa-jiwa kita dan mereka untuk lebih cinta kepada Allah dan nabi Muhammad Saw.

Ajaklah anggota keluarga kita untuk berdoa dan bermunajat, semoga Allah mengangkat derajat kita dan dijadikan kita semuanya termasuk golongan hamba-hamba Allah yang dikasihi-Nya. Amiin.

5. Amalan Malam Lailatul Qadar

Iktikaf menjadi salah satu amalan yang bisa dilakukan untuk meraih Lailatul Qadar.

Iktikaf berasal dari bahasa Arab. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, iktikaf adalah berdiam diri beberapa waktu di masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu.

Allah SWT berfirman:

وَاِذۡ جَعَلۡنَا الۡبَيۡتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمۡنًاؕ وَاتَّخِذُوۡا مِنۡ مَّقَامِ اِبۡرٰهٖمَ مُصَلًّى وَعَهِدۡنَآ اِلٰٓى اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ اَنۡ طَهِّرَا بَيۡتِىَ لِلطَّآٮِٕفِيۡنَ وَالۡعٰكِفِيۡنَ وَالرُّکَّعِ السُّجُوۡدِ

Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud." (QS Al-Baqarah: 125)

Dalam melaksanakan iktikaf, ada beberapa syarat dan rukun yang harus diperhatikan. Syaratnya adalah Muslim, berakal, suci dari hadats besar. Adapun rukunnya adalah niat, berdiam diri di masjid, masjid, dan orang yang beriktikaf. Di samping syarat dan rukun, ada juga larangan-larangan dalam iktikaf.

Kemudian apa saja manfaat dari ibadah iktikaf bagi umat Islam yang bisa diperoleh?

Ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan bagi orang-orang yang beriktikaf. Di antaranya adalah:

Pertama, mendapatkan pahala dua ibadah haji

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam dan juga merupakan ibadah yang sangat didambakan oleh umat Islam di seluruh dunia terlebih Indonesia. Tidak ada balasan lain kecuali surga bagi orang yang haji mabrur.

Ibadah iktikaf yang dilakukan oleh Muslimin dengan ikhlas karena Allah akan mendapatkan balasan yang luar biasa dengan balasan 2 lipat pahala haji. Wajar jika banyak Muslim, khususnya di Bulan Ramadan banyak yang melakukan iktikaf, mengingat pahalanya sangat besar.

Rasulullah bersabda:

وَ قَالَ اَيْضًا مَنْ اِعْتَكَفَ عَشْرًا فىِ رَمَضَانِ كاَنَ كَحَجَتَيْنِ وَعُمْرَتَيْنِ رواه البيهقي

"Nabi juga bersabda barang siapa yang beriktikaf sepuluh hari di Bulan Ramadan, maka baginya pahala dua haji dan dua umrah." (HR Al-Baihaqi)

Kedua, dijauhkan dari api neraka

Orang yang melakukan iktikaf dengan baik dan benar, maka ia akan dihindarkan dari siksa api neraka yang luar biasa panasnya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang artinya kurang lebih:

"Barang siapa yang berjalan di dalam membantu keperluan saudara muslimnya, maka itu lebih baik baginya dari iktikaf sepuluh tahun lamanya. Dan barang siapa yang beriktikaf satu hari karena mengharap ridha Allah SWT, maka Allah menjadikan di antara dia dan api neraka jarak sejauh tiga khandaq/parit. Setiap khandaq dari khandaq lainnya jaraknya sejauh langit dan bumi." (HR Thabrani, Mu'jam Al-Awsath)

Ketiga, mendapatkan ampunan dari Allah

Tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa terkecuali sudah diampuni Allah. Yang terbaik bagi orang yang memiliki dosa adalah menyadari akan kepemilikan dosanya dan berusaha untuk memohon ampun atas dosa yang dimilikinya.

Rasulullah SAW yang sudah dijamin masuk surga saja masih beristighfar setidaknya 70x dalam sehari, sementara kita umat manusia yang belum ada jaminan yang pasti akan mendapatkan surganya, maka hendaknya memperbanyak memohon ampun dan melakukan ibadah yang menstimulan pengampunan dosa menjadi sangat penting.

Rasulullah bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ

Aisyah RA bercerita bahwa: Nabi SAW (selalu) beriktikaf di sepuluh terakhir Bulan Ramadan sampai Allah SWT mewafatkan beliau." (HR Bukhari & Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa yang menghidupkan malam lailatul qodar dengan iman dan ihtisab (mengharapkan pahala), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau." (HR Bukhari)

Iktikaf yang dilakukan dengan baik dan benar, akan bisa menstimulasi pengampunan dosa-dosa kita, sehingga Rasul sudah mencontohkan kepada kita agar semangat beriktikaf.

Keempat, mendapatkan malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat baik. Malam Lailatul Qadar nilainya lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Hal ini merupakan kelebihan yang diberikan kepada umat Muhammad, mengingat umurnya relatif pendek, sekitar 63 tahun.

Kapan terjadinya Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah, karenanya Lailatul Qadar hanya akan didapatkan oleh orang yang banyak beribadah di Bulan Ramadan, khususnya di akhir Ramadan.

Mengingat tingginya nilai Lailatul Qadar, maka sangat rugi jika di antara Muslimin yang kendor dalam kegiatan di sepuluh terakhir Ramadan.

Untuk itu, iktikaf merupakan sarana penyemangat ibadah di akhir Ramadan agar lebih mudah dalam menggapai Lailatul Qadar. Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالْرُّوحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِهِّمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِىَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS Al-Qadar: 1-5)

Kelima, mendapatkan balasan cinta dari Allah

Jika kita sudah dicinta dan mencinta kepada Allah, maka yang lain tidak berpengaruh atau dianggap angin lalu. Orang-orang yang melakukan iktikaf dengan baik dan benar, Allah akan memberikan cinta kepadanya dan akan mengampuninya sebagaimana firman-Nya:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ (ال عمران: ٣١)

Artinya: "Katakan (Muhammad)!, Jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS Ali Imran: 31)

Jemaah yang dimuliakan Allah SWT, semoga bisa bersemangat untuk melakukan iktikaf, lebih-lebih saat sepuluh hari Ramadan. Semoga Allah SWT memudahkan dan memberi kekuatan serta semangat kepada kita untuk bisa memaksimalkan iktikaf, sehingga kita pantas mendapatkan posisi yang tinggi di mata Allah, mendapatkan ampunan dan rahmatNya di dunia dan akhirat. Aamiin

6. Menguak Misteri Malam Lailatul Qadar

Bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa. Bulan pembinaan rohani bagi kaum muslim. Bulan yang di dalamnya umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan puasa.

Keutamaan bulan Ramadan, tidak hanya pada kewajiban puasa tersebut. Di dalamnya, terdapat malam yang nilainya lebih utama atau lebih baik dari seribu bulan, yakni malam Lailatul Qadar. "Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan" (QS Al Qadr ayat 3).

Seribu bulan merupakan sebuah kiasan yang menunjukkan keagungan dari malam tersebut. Yaitu lebih dari 80 tahun, sehingga kiranya seseorang tidak diberikan umur yang panjang, maka cukuplah baginya untuk mendapatkan anugerah pada malam tersebut. Hal ini menjadi kesempatan bagi seseorang untuk menambah pahala ibadahnya.

Ini merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah SWT untuk umat Muhammad SAW. Rahmat tersebut tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu.

Malam Lailatul Qadar disebut juga sebagai malam yang penuh berkah. Pada malam tersebut Allah SWT menurunkan kandungan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 1:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam Lailatul Qadar."

Namun, tidak ada satu orang pun yang mengetahui kapan Lailatul Qadar akan datang. Tidak diketahuinya secara pasti berlangsungnya malam Lailatul Qadar menjadi sumber semangat bagi kita agar selalu menghidupkan seluruh malam bulan Ramadan. Terlebih lagi pada malam-malam terakhirnya.

Selain itu, diharapkan selama sebulan penuh diri kita menjaga dari kemaksiatan. Mari lebih mengarahkan diri pada ketaatan dan mempersiapkan diri menerima limpahan dari Allah SWT. Akhirnya, saat selesai bulan Ramadan, kita lulus ujian, mendapatkan anugerah dan ampunan kembali menjadi insan yang fitri dan suci. Wallahu a'lam bish shawab.



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads