- 7 Contoh Kultum Singkat Untuk Remaja dan Anak Sekolah 1. Kultum Pertama: Menghidupkan Fungsi Remaja pada Bulan Ramadan 2. Kultum Kedua: Amalan Remaja dan Wanita Haid pada Bulan Puasa 3. Kultum Ketiga: Ramadan Bulan Al-Qur'an 4. Kultum Keempat: Keutamaan dan Keistimewaan Ramadan 5. Kultum Kelima: Menyambut Ramadan Bulan Penuh Ampunan 6. Kultum Keenam: Jaga Kemurnian Tauhid: Bahaya Bersumpah Atas Nama Selain Allah 7. Kultum Ketujuh: Ramadan Tiba: Bersihkan Hati, Luruskan Niat, Sambut Dengan Cinta
Ramadan telah tiba, bulan yang penuh berkah dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Di bulan ini, umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak ibadah, dan menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk remaja dan anak sekolah, momen Ramadan bisa dijadikan waktu belajar disiplin, menjaga lisan, meningkatkan akhlak, serta mempererat silaturahmi dengan teman dan keluarga.
Kultum singkat Ramadan yang disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami akan membantu mereka mengerti makna puasa, pentingnya salat, serta adab pergaulan yang baik. Dengan penyampaian yang singkat, jelas, dan sesuai usia, pesan kebaikan lebih mudah diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
7 Contoh Kultum Singkat Untuk Remaja dan Anak Sekolah
Berikut ini adalah contoh kultum yang cocok disampaikan kepada remaja dan anak sekolah, dikutip dari buku Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun karya A.R. Shohibul Ulum, Kumpulan Kultum Ramadhan: Berkaca Pada Jiwa 2 karya Prito Windiarto dan Taupiq Hidayat, serta Jejak Ramadhan: Kumpulan Kultum Ramadhan 30 Hari Penuh Hikmah.
1. Kultum Pertama: Menghidupkan Fungsi Remaja pada Bulan Ramadan
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَوْصَلَ الْمُقْبِلِينَ إِلَيْهِ بِفَضْلِهِ إِلَى الْمَرَاتِبِ الْعَلِيَّةِ، وَبَلَغَهُمْ بِبَرَكَةِ نَبِيِّهِ كُلَّ أُمْنِيَّةٍ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى حَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ الْعَبْدِ الصَّالِحِ الْقَائِمِ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ حَقِّ الرُّبُوْبِيَّةِ، وَآلِهِ وَصَحْبِهِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّداً صَاحِبُ الْأَخْلَاقِ السَّنِيَّةِ الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدَه
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Moral dan religi merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja, karena dapat mengendalikan tingkah laku. Sehingga, mereka tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan dan merugikan kehendak atau pandangan masyarakat.
Di sisi lain, tiadanya moral dan religi sering kali dirunding sebagai faktor penyebab meningkatnya kenakalan remaja. Di sinilah puasa, khususnya pada bulan Ramadan yang merupakan madrasah moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji.
Ramadan merupakan momen yang baik bagi remaja untuk mengisi dan beraktivitas positif dalam melatih diri dengan menanamkan nilai-nilai Islam yang benar. Shalat lima waktu berjemaah, bertadarus, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya dalam rangka memakmurkan masjid pada bulan Ramadan.
Ajaklah remaja-remaja yang lain untuk aktif sebagai remaja masjid. Ikutilah pesantren kilat yang diadakan oleh lembaga-lembaga atau pengurus masjid setempat. Sebab, di sanalah juga terdapat pahala yang begitu melimpah.
Allah telah berfirman dalam surah at-Taubah ayat 18,
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهِ فَعَسَى أُوْلَئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (۸۱)
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."
Ayat yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan memakmurkan masjid yang didirikan karena Allah, dalam semua bentuk pemakmuran masjid, bahkan perbuatan terpuji ini merupakan bukti benarnya iman dalam hati seorang hamba. Pertanyannya, bagaimana agar Ramadan dapat menjadi wadah untuk membina karakter yang berasaskan al-Quran dan as-Sunnah bagi remaja? Sebagaimana diketahui pemuda sebagai tulang punggung bangsa dan eksistensi masjid serta sebagai basis pembentuk spiritual anak bangsa adalah dua hal yang harusnya sejalan?
Muslimin yang dirahmati Allah,
Perlu diketahui bahwa kepribadian remaja sangat ditentukan oleh peranan orangtua. Harus ada tindakan yang khusus yang harus dilakukan oleh orangtua jika mereka ingin remaja-remaja dan anak-anaknya memiliki kepribadian yang Qurani:
Pertama, orangtua harus menjadi qudwah, yakni menjadi pemimpin yang memberikan keteladanan.
Kedua, jadikanlah rumah kita rumah yang dihiasi dengan zikir dan keimanan.
Ketiga, Ikatkanlah anak-anak kita dengan al-Quran mulai dari membaca, menghafal, serta mengamalkan kandungan al-Quran.
Keempat, jagalah mereka agar terhindar dari pergaulan yang merusak.
Kelima, senantiasa memberi motivasi kepada mereka agar mencintai al-Quran dan akhlak yang baik.
Keenam, perhatikan pakaian mereka jangan sampai memakai pakaian-pakaian yang dilarang dalam Islam.
Ketujuh, berdoalah untuk mereka agar manjadi anak yang saleh bermanfaat bagi masyarakat agama dan bangsa.
Jemaah hafizhakumullah,
Ramadan memiliki arti penting bagi remaja jika Ramadan diisi dengan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat, selain melaksanakan ibadah-ibadah khusus yang dianjurkan selama bulan Ramadan. Kegiatan positif tersebut bisa seperti pesantren kilat, perbanyak silaturahim, bersedekah, dan sebagainya.
Dengan harapan bisa memberikan kekuatan kepada mental remaja untuk menghadapi tantangan zaman. Remaja yang memiliki mental dan jiwa yang kuat secara spiritual akan mewarnai tindakan dan cara bersikap, ketika menghadapi suatu masalah.
Ramadan selama sebulan penuh adalah wadah latihan mengembalikan mental ke kondisi fitrahnya, yaitu kesucian. Hasilnya diharapkan dapat diterapkan dalam 11 bulan berikutnya. Keberhasilan latihan ini dapat dilihat dalam kehidupan keseharian di luar Ramadan.
Ketika remaja Indonesia, di kalangan terdekat kita pada khususnya bisa memaksimalkan dan memanfaatkan bulan yang mulia ini dengan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat, sebenarnya bangsa Indonesia sedang mempersiapkan calon generasi Rabbani yang mereka hanya takut kepada Allah, mereka hanya melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhkan perbuatan yang dilarang oleh Allah.
2. Kultum Kedua: Amalan Remaja dan Wanita Haid pada Bulan Puasa
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ السَّلَامِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَإِلَيْهِ يَعُوْدُ جَمِيعُ صِفَاتِ السَّلَامِ، اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلَّمْ وَتَرَحَمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي اصْطَفَى رَبُّهُ عَلَى سَائِرِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ هُمْ مَصَابِيحُ اللَّيَالِي وَالْأَظْلَامِ، وَعَلَى جَمِيعِ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. وَقَالَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِي الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، الحديث. اما بعد
Jemaah yang dirahmati Allah,
Bulan Ramadan adalah saat yang paling ditunggu untuk menunaikan ibadah puasa. Sayangnya, tidak semua orang bisa merasakan nikmatnya berpuasa selama bulan Ramadan serta melakukan segala amalan baik yang diganjar berlipat ganda daripada bulan lainnya.
Ada beberapa golongan yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa seperti uzur (sudah tua) dan musafir (seseorang yang dalam perjalanan). Ada pula yang haram hukumnya untuk menjalankan puasa, yakni wanita yang sedang nifas dan haid di bulan Ramadan.
Dalam hadis disebutkan dengan jelas adanya larangan shalat dan puasa bagi seorang wanita yang mengalami haid. Dari Abu Sa'id, Rasulullah SAW bersabda,
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلَّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا
"Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita." (Muttafaqun 'alaih, HR. Bukhari dan Muslim)
Juga dalil tentang larangan menyentuh mushaf al-Quran, Allah berfirman dalam surah al-Waqi'ah ayat 79.
لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (۹۷)
"Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan."
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sedih. Mungkin itu yang dirasakan oleh para perempuan taat yang tak bisa menjalani ibadah puasa Ramadan secara penuh. Kodratnya sebagai perempuan dewasa yang pasti mengalami haid atau menstruasi tiap bulan menghalanginya untuk menjalankan sejumlah ibadah tertentu.
Puasa, bahkan, secara otomatis batal ketika darah itu keluar meski si perempuan sudah menahan lapar seharian hingga menjelang maghrib tiba. Dan atas batalnya ini ia diharuskan mengganti (qadha') di luar bulan Ramadan.
Menjalani puasa dengan berbagai kesulitannya ini saja sesungguhnya termasuk ibadah tersendiri bagi perempuan. Butuh kesabaran dan keikhlasan melewatinya, yang belum tentu bisa dilakukan oleh setiap laki-laki.
Dalam kitab Taqrib dijelaskan, ada delapan jenis ibadah yang dilarang bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, yakni shalat, puasa, membaca al-Quran, menyentuh dan membawa mushaf, masuk masjid, tawaf, jimak, dan bersenang-senang di sekitar organ kemaluan. Ulama berbeda pendapat dengan delapan larangan yang dianut mayoritas ulama Syafi'iyah ini. Misalnya, Mazhab Maliki secara mutlak membolehkan membaca al-Quran, dan Mazhab Hanbali membolehkan iktikaf di masjid.
Bulan Ramadan menjadi momen melipat gandakan kebaikan. Perempuan yang sedang haid atau nifas memang mendapat batasan untuk menunaikan ibadah-ibadah tersebut. Beberapa wanita sering kali merasa menyesal tidak dapat ikut melaksanakan ibadah bersama dengan teman-teman sesama Muslim. Banyak yang galau dan bersedih karena tidak dapat menunaikan rukun Islam ketiga ini.
Akan tetapi, penyesalan dan kesedihan adalah hal yang tidak baik. Kita harus percaya bahwa haid dan nifas adalah ketetapan Allah dan itu adalah sebaik-baik yang Allah takdirkan kepada kita.
Hadirin yang berbahagia,
Ibadah itu banyak, ada yang ibadah mahdhah (segala bentuk aktivitas yang cara, waktu, atau kadarnya telah ditetapkan Allah dan Rasulullah) dan ghairu mahdhah (semua bentuk amal kegiatan yang tujuannya untuk mendekati Allah, namun tempat dan waktunya tidak diatur secara terperinci oleh Allah). Bukan berarti Muslimah yang sedang haid tidak boleh beribadah. Ia bisa melakukan ibadah-ibadah lain yang jumlahnya lebih banyak, dan anjurannya memang jelas dalam dalil-dalil yang bersifat umum.
Berikut adalah 5 amalan baik yang dapat dilakukan atau dipraktikkan dan mudah-mudahan dapat berbuah pahala bagi yang mengamalkannya.
Pertama, menyiapkan hidangan berbuka puasa (iftar)
Salah satu amalan yang dapat dilakukan oleh wanita yang sedang haid/nifas dan tidak dapat melaksanakan kewajiban puasa Ramadan adalah membuat hidangan berbuka puasa. Diriwayatkan at-Tirmizi mengenai pahala orang yang menyediakan hidangan (iftar) untuk orang yang berpuasa. Zaid bin Khalid al-Juhani berkata; Rasulullah bersabda:
"Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun."
Kedua, memperbanyak zikir dan doa
Zikir adalah perbuatan yang dianjurkan untuk siapa saja dan kapan saja. Jenis zikir sangat banyak, bisa berupa ucapa ntasbih, tahmid, takbir, hauqalah, dan sebagainya. Aktif dalam majelis istighatsah, tahlilan, atau forum zikir lainnya, karena itu termasuk bernilai ibadah.
Dalam konteks Ramadan, umat Islam dianugerahi kesempatan Lailatul Qadar yang disebut al-Quran setara dengan seribu bulan. Meski banyak ulama yang meyakini momen itu jatuh pada sepuluh terakhir Ramadan, sejatinya jadwal pastinya hanya Allah yang tahu.
'Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, andaikan aku bertemu Lailatul Qadar, doa apa yang bagus dibaca?" Rasul menjawab:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku." (HR. Ibnu Majah)
Perempuan haid/nifas, sebagaimana umat Islam pada umumnya, sangat dianjurkan memanfaatkan hari demi hari, detik demi detik, sepanjang bulan suci ini untuk beribadah, termasuk berzikir. Dan, para fuqaha sepakat bahwa tiga poin ibadah, yaitu istighfar, zikir, dan doa tidak disyaratkan yang melakukannya harus dalam keadaan suci dari hadas baik hadas besar maupun hadas kecil.
Ketiga, membantu orang lain (khidmat)
Kata "khidmat" dapat berarti membantu atau melayani orang lain. Keutamaan amalan ini adalah meringankan pekerjaan atau kesusahan orang lain. Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kisah berikut:
Dari Anas r.a., ia berkata; "Dulu kami pernah bepergian bersama Nabi, dan di antara kami ada yang melaksanakan puasa dan ada pula yang tidak berpuasa. Kemudian di hari yang sangat terik itu kami berhenti di suatu tempat dan orang yang bisa berteduh hanyalah orang yang mempunyai pakaian, bahkan di antara kami ada orang berlindung dari sinar matahari hanya dengan tangannya saja.
Maka orang-orang yang berpuasa pun berjatuhan. Maka orang yang tidak berpuasa bangkit, kemudian mendirikan tenda dan memberi minum hewan tunggangan mereka. Maka Rasulullah pun bersabda: 'Hari ini mereka yang berbuka telah menuai pahala'."
Keempat, memperbanyak sedekah
Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa, dari Abdullah bin 'Umar dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda: "Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar. Sebab, aku melihat kaum wanitalah yang paling banyak menjadi penghuni Neraka."
Kelima, mencari ilmu (thalabul 'ilmi)
Mencari ilmu menjadi pilihan bagus ibadah bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, baik dilakukan secara otodidak dengan membaca buku atau kitab, ataupun melalui bimbingan guru dengan mendatangi majelis-majelis ilmu.
Selama bulan Ramadan, kajian mengenai ilmu-ilmu keislaman semakin gencar dilaksanakan. Majelis ilmu tersebar di berbagai tempat, menunggu kita untuk menghadirinya. Mendatangi majelis-majelis ilmu sangat baik terutama untuk menambah pengetahuan keagamaan.
Mencari ilmu dalam Islam bersifat wajib (faridhah). Manfaatnya yang sangat besar bagi diri sendiri dan orang lain membuat kegiatan tersebut masuk kategori ibadah, bahkan setara dengan jihad.
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلَّمَهُ لِلَّهِ خَشْيَةٌ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمَدَارَسَتَهُ تَسْبِيحُ، وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادُ
"Belajarlah ilmu, sesungguhnya belajar ilmu kerana Allah adalah suatu bentuk ketakwaan. Mencari ilmu adalah ibadah, menelaahnya adalah tasbih, dan mengkajinya adalah jihad." (HR. ad-Dailami)
Selain kelima contoh di atas masih banyak bentuk-bentuk ibadah lain yang bisa dilakukan perempuan yang tengah menstruasi atau nifas. Aktivitas-aktivitas itu tak hanya yang berelasi khusus dengan Allah, tapi juga bisa sekaligus dengan sesama manusia.
Muslimin hafizhakumullah,
Bagaimana dengan membaca al-Quran? Bolehkah? Seperti disebutkan di atas, ulama berbeda pendapat soal ini. Dalam Mazhab Syafi'i ulama sepakat bahwa perempuan haid/nifas tidak diperkenankan menyentuh atau membawa mushaf. Akan tetapi, sebagian lain membolehkan membaca al-Quran (tanpa menyentuhnya) dengan niat zikir, doa, atau mempelajarinya.
Mengenai hal ini dalam kitab l'anatuth Thalibin telah dijelaskan bahwa, "Apabila ada tujuan berzikir saja atau berdoa, atau mencari berkah atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apa pun (selama tidak berniat membaca al-Quran), maka (membaca al-Quran bagi perempuan haid) tidak diharamkan.
Sebab, ketika dijumpai suatu qarinah, yang dibacanya itu bukanlah al-Quran, kecuali jika memang dia sengaja berniat membaca al-Quran. Walaupun bacaan itu sesungguhnya adalah bagian dari al-Quran semisal surah al-Ikhlas."
Semoga beberapa amalan di atas dapat selalu diamalkan oleh seluruh Muslimah, khususnya. Aamiin.
3. Kultum Ketiga: Ramadan Bulan Al-Qur'an
الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَهَدَانَا إِلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ صِرَاطِ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَالِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحمدٍ فِي الْأَوَّلِينَ وَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحمدٍ فِي الْآخِرِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَا بَعْدُ
Jemaah yang berbahagia,
Ramadan sebagai bulan istimewa penuh rahmat, berkah, dan magfirah, di dalamnya diturunkan al-Quran, kitab termulia diturunkan kepada Rasulullah termulia dan pada malam termulia (malam al-Qadar) serta pada bulan yang termulia.
Oleh sebab itu, Rasulullah lebih sering dan lebih banyak membaca al-Quran pada bulan ini dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bahkan, Malaikat Jibril pun turun langsung untuk me-murajaah atau mengecek bacaan al-Quran beliau.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam shahihain, dari Ibnu 'Abbas, ia berkata,
كان النبي - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السلامُ - يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ الله - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
"Nabi adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya pada bulan Ramadan. Jibril mengajarkan al-Quran kala itu. Dan Rasul adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Rajab menuturkan,
"Dalam hadis Ibnu 'Abbas di atas bahwa tadarus yang berlangsung antara beliau (Nabi) dan Jibril di malam hari menunjukkan sunnahnya memperbanyak membaca al-Quran malam hari di bulan Ramadan. Sebab, pada malam hari sudah tidak ada lagi kesibukkan, semangat menguat, hati dan lisan akan saling bersepakat untuk tadabur, berdasarkan firman Allah, 'Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.' (QS. al-Muzammil: 6)"
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Di antara alasan bahwa bulan Ramadan adalah bulan al-Quran, yaitu dibuktikan dengan bacaan ayat al-Quran yang begitu banyak dibaca di shalat malam bulan Ramadan dibanding bulan lainnya. Dalam Lathaiful Ma'arif, halaman 303 disebutkan bahwa Nabi pernah shalat bersama Hudzaifah bin al-Yaman pada malam Ramadan, lalu beliau membaca surah al-Baqarah, surah an-Nisa' dan surah Ali 'Imran. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, beliau pun berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka.
Begitu pula 'Umar bin Khattab pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka'ab dan Tamim ad-Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam shalat tersebut membaca 200 ayat dalam satu rakaat. Sampai-sampai ada jemaah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan shalat pun selesai dikerjakan hingga menjelang fajar. Pada masa tabi'in,
yang terjadi, surah al-Baqarah dibaca tuntas dalam 8 rakaat. Jika dibaca dalam 12 rakaat, berarti shalatnya tersebut semakin diperingan.
Hadirin yang berbahagia,
Oleh karena itu, setiap hamba yang ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah sebagaimana para Salafus Salih, maka harus banyak berinteraksi dengan al-Quran. Kewajiban kita sebagai Muslim untuk berinteraksi dengan al-Quran minimal dengan lima (5) hal:
Pertama,
Membaca al-Quran dengan benar. Artinya, kita wajib membaca al-Quran sesuai dengan aturan tajwid, sebagaimana yang telah diajarkan secara talaqqi dari Rasulullah sampai kepada kita.
Kedua,
Memahami makna al-Quran, artinya kita wajib berusaha memahami makna al-Quran secara baik dan benar, sehingga bisa mengambil petunjuk dan pedoman hidup yang terkandung di dalamnya.
Ketiga,
Mengamalkan isi kandungan al-Quran. Untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, kita wajib menjadikan al-Quran sebagai manhajul hayah (pedoman hidup). Allah menegaskan, "Barang siapa yang berpaling dari al-Quran-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit dan kelak akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124-125)
Keempat,
Menghafalkan al-Quran. Kita dituntut untuk menghafalkan ayat-ayat dan surah dalam al-Quran semampunya. Sebab, seorang Muslim yang dalam dadanya tidak ada hafalan al-Quran bagaikan rumah yang hancur berantakan.
Kelima,
Berinteraksi dengan al-Quran adalah menadaburi ayat-ayat al-Quran. Sebagai Muslim, kita dituntut untuk merenungi kandungan makna dan isi al-Quran, sehingga kita bisa menghayati ayat-ayat dan mengambil ibrah serta pelajaran darinya.
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Di sinilah letak kebahagiaan yang dapat diperoleh setiap hamba ketika mendapat kesempatan mengarungi kehidupan pada bulan Ramadan; selain puasa, qiyamulail lail, juga tadarus al-Quran, yang merupakan sumber kemuliaan Islam dan umatnya.
Selamat berinteraksi dengan al-Quran pada bulan Ramadan yang disebut sebagai syahrul Quran, bulannya al-Quran.
4. Kultum Keempat: Keutamaan dan Keistimewaan Ramadan
Alhamdulillah. Segala puji hanya untukNya. Penguasa alam semesta. KaruniaNya tak terhingga.
Sholawat dan salam teruntuk junjungan mulia, Muhammad saw. Semoga kita dapat mengikuti sunnahnya.
Tak terasa, hari ini kita sudah berada di masa bulan kemuliaan. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih utama dari 1000 bulan. Inilah saat salah satu ibadah teragung, yakni puasa, wajib dikerjakan.
Kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa bulan Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Di bulan nan indah ini kita diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa spesial karena ia benar-benar jalur langsung antara seorang hamba dengan RabbNya. Ibadah ini langsung dinilai oleh Allah Sang Maha Kuasa. Rasulullah saw. meriwayatkan firman Allah SWT.
Dalam hadits Qudsi yang artinya, "Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya." (HR Ahmad dan Muslim).
Pada kesempatan ini izinkan saya untuk memaparkan ulang keutamaan puasa yang dihimpun dari berbagai sumber.
Pertama. Puasa sebagai penghapus dosa-dosa.
Rasululah saw. bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan, karena penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni" (HR. Bukhori dan Muslim)
Selain itu. dalam hadits lain disebutkan bahwa, "Shalat wajib lima waktu, (dari) satu jumat ke jumat selanjutnya, (dari) Ramadan ke Ramadan, akan dapat menghapuskan dosa-dosa, selama dia tidak melakukan dosa besar." (HR. Muslim)
Dua hadits di atas jelas menunjukan bahwa jika kita berpuasa dengan sebenar-benarnya penuh keimanan, ikhlas demiNya dan mengharap ganjaran dariNya, maka dosa-dosa kita akan diampuni.
Kedua. Puasa adalah perisai (penghalang).
Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan, "Puasa itu perisai (penghalang), yang akan menghalangi seorang hamba dari api neraka." Hadits itu dikuatkan oleh hadits riwayat Imam Nasa'i, "Puasa itu penghalang, selagi ia tidak dirusak."
Berdasarkan hadits itu kita meyakini bahwa puasa yang kita lakukan, selagi tidak dirusak, akan menjadi penghalang (perisai) dari api neraka kelak. Adapun hal-hal yang merusak puasa diantaranya adalah dusta, menggunjing, menfitnah, dan kemaksiatan lainnya. Karena itu sudah selazimnya kita menjaga puasa kita agar tetap bermakna. Rasulullah mengingatkan, "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya puase kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang shalat malam, tapi tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali hanya begadang." (HR Ibnu Majah)
Demikianlah, dua dari banyak keutamaan puasa ini semoga menjadi motivasi bagi kita agar bisa menjalankan puasa sebaik-baiknya.
Allohumma ainna 'ala dzkirika wasykrika wahusni ibadatika. Aamiin ya robbal alamin.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
5. Kultum Kelima: Menyambut Ramadan Bulan Penuh Ampunan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillahi robbil alamin. Wabihi nastainu ala umuri dunya wadin. Assholatu wassalamu ala muhammadin Saw. Amma ba'du. nabiyina
Puji beserta syukur kehadirat Allah SWT atas nikmatNya yang luar biasa. Sholawat dan salam marilah kita sampaikan kepada junjungan alam, nabi kita Muhammad SAW.
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT.
Ramadan. Bulan suci ini menyapa kembali. Kemuliaan di hadapan. Kedatangannya disambut beraneka rasa oleh orang-orang.
Pertama. Ada orang yang menyambutnya biasa-biasa saja. Ramadan baginya tak lebih dari rutinitas tahunan. Tak ada perubahan apa-apa. Biasa saja. Hadirnya bulan kemuliaan baginya tak memberikan pengaruh sedikit pun, selain kenyataan ia harus berpuasa. Menahan lapar dahaga. Bagi orang seperti ini apa yang akan dilewatkan selama ramadan ini takkan membekas makna, takkan memberi pengaruh setitik pun.
Kedua. Orang yang menanggapi secara sinis. Orang ini merasa berat ketika datangnya bulan suci. Ia malas melakukan ibadah. Baginya puasa itu berat. Ramadan itu bikin enek. Karena selama Ramadan ia tak lagi bisa makan-makan secara bebas dan berbuat sesuka hati. Orang menngggap datangnya Ramadan adalah musibah. Naudzubillahimindzalika.
Ketiga. Orang yang begitu antusias menyambutnya. Ia begitu merasa istimewa di bulan berkah ini. Ia menyapa Ramadan dengan kegembiraan. Meski begitu, nyatanya ada dua golongan atas sambutan penuh kegembiraan ini. Ada yang antusias menyambut, sekadar karena Ramadan serasa seru. Ada pesta petasan. Ada ngabuburit. Ada sahur bareng keluarga. Berbuka dengan makanan yang enak. Puasa dijadikan ajang diet, melangsingkan perut, dll. Golongan ini menyambut antusias Ramadan karena suasana menyenangkan.
Golongan kedua, antusias menyambut Ramadan karena keimanan dan keilmuan. Ia senang karena paham Ramadan adalah bulan keberkahan. Bulan kemuliaan. Saat ganjaran kebaikan dilipatgandakan. Ia menyambutnya dengan khusyuk. Bukan sekadar karena banyak "hal menarik" selama Ramadan. Baginya itu hanya sebagai tambahan. Yang terutama adalah karena keinsyafan betapa berharganya bulan ini, sayang jika terlewatkan tanpa makna yang terhadirkan.
Termasuk manakah kita? Semoga termasuk yang menyambut Ramadan dengan antusias berlandas keimanan dan keilmuan. Pada gilirnanya semoga kita bisa mengisi Ramadan ini dengan banyak kebajikan. Aamiin Ya Robbal Alamin.
Rabbana aatina fidunya hasanah, wafilakhiroti hasanah, waqina adzabannar.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
6. Kultum Keenam: Jaga Kemurnian Tauhid: Bahaya Bersumpah Atas Nama Selain Allah
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ .
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:
Hadirin jemaah sholat Isya' dan Tarawih yang semoga dirahmati dan dimuliakan oleh Allah Ta'ala, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah yang masih mempertemukan kita dengan malam kelima belas Ramadan. Malam pertengahan ini menjadi waktu yang tepat untuk muhasabah aqidah, menjaga kemurnian tauhid dari hal-hal yang tampak ringan di lisan, namun berat di sisi Allah.
Para hadirin yang dimuliakan Allah,
tauhid adalah fondasi seluruh amal. Tanpa tauhid yang lurus, ibadah kehilangan nilainya. Karena itu, Islam sangat menjaga setiap ucapan dan perbuatan yang berpotensi merusak kemurnian tauhid, termasuk kebiasaan bersumpah atas nama selain Allah-sesuatu yang sering dianggap sepele.
Allah Ta'ala menegaskan bahwa hanya Dia yang berhak diagungkan secara mutlak. Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ له
"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya." (QS. al-An'am: 162-163)
Ayat ini menegaskan bahwa pengagungan tertinggi hanya milik Allah. Maka segala bentuk sumpah, janji, dan penguatan ucapan yang bersifat ibadah harus ditujukan kepada Allah semata.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Rasulullah secara tegas melarang bersumpah dengan selain Allah. Beliau bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ
"Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah kufur atau berbuat syirik." (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan shahih)
Hadits ini terdengar sangat keras, karena perkara ini menyentuh wilayah aqidah. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah syirik kecil, karena mengagungkan selain Allah dengan pengagungan yang semestinya hanya bagi Allah.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini berlaku untuk semua makhluk: nabi, wali, orang tua, Ka'bah, bahkan amanah. (Sharh Sahih Muslim).
Para hadirin yang dimuliakan Allah,
di tengah masyarakat, sering kita dengar ungkapan seperti: "Demi Nabi," "Demi orang tua," "Demi anak," atau "Demi kehormatanku." Meskipun niatnya bukan menyekutukan Allah, lisan tetap wajib dijaga, karena ucapan adalah cerminan aqidah.
Rasulullah bersabda:
مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفُ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa hendak bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan (nama) Allah atau diam." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberikan alternatif yang jelas: sumpah hanya dengan Allah, atau tidak bersumpah sama sekali. Islam tidak membutuhkan penguat selain kejujuran dan ketaatan.
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menegaskan bahwa kebiasaan bersumpah dengan selain Allah termasuk pintu-pintu kecil kesyirikan yang wajib ditutup.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Islam juga mengajarkan adab ketika tanpa sengaja terlanjur mengucapkan sumpah yang keliru. Rasulullah bersabda:
مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
"Barang siapa bersumpah lalu mengucapkan dalam sumpahnya: 'Demi Lata dan 'Uzza', maka hendaklah ia mengucapkan: 'La ilaha
illallah'." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa tauhid bisa diperbaiki dengan segera, selama ada kesadaran dan taubat.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa lisan adalah pintu terbesar tauhid dan kesyirikan, sehingga penjagaannya merupakan bagian dari penjagaan iman.
Para hadirin yang dimuliakan Allah,
Ramadan adalah waktu terbaik untuk membersihkan aqidah, meluruskan ucapan, dan membiasakan lisan dengan kalimat tauhid. Jangan remehkan dosa lisan, karena kerusakan aqidah sering bermula dari hal-hal kecil yang dibiarkan.
Hadirin jemaah yang dimuliakan Allah,
marilah kita jaga kemurnian tauhid dengan menjaga lisan. Jangan mengagungkan selain Allah dengan sumpah, pujian, atau pengagungan yang berlebihan. Jadikan Ramadan sebagai momentum memurnikan iman dan memperhalus ucapan.
7. Kultum Ketujuh: Ramadan Tiba: Bersihkan Hati, Luruskan Niat, Sambut Dengan Cinta
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ..
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:
Hadirin jemaah sholat Isya' dan Tarawih yang semoga dirahmati dan dimuliakan oleh Allah Ta'ala,
Marilah kita panjatkan syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah karena kembali dipertemukan dengan bulan yang mulia, bulan yang selalu dinanti oleh orang-orang beriman: bulan Ramadan.
Para hadirin yang dimuliakan Allah,
Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ramadan adalah tamu agung dari Allah yang datang membawa ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Maka, sebagaimana tamu mulia yang datang ke rumah kita, Ramadan pun perlu disambut dengan persiapan, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Persiapan paling awal dan paling penting adalah membersihkan hati. Sebab Ramadan bukan hanya ibadah jasad, tetapi ibadah hati.
Allah Ta'ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (۸۸) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (۸۹)
"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. asy-Syu'ara': 88-89)
Ayat ini mengajarkan bahwa nilai ibadah di sisi Allah sangat ditentukan oleh kondisi hati. Ramadan yang dijalani dengan hati penuh iri, dengki, dendam, dan sombong, dikhawatirkan hanya menyisakan lapar dan dahaga.
Rasulullah pun mengingatkan kita tentang pentingnya kebersihan hati dalam ibadah. Beliau bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga." (HR. Ibn Majah, dinilai hasan oleh para ulama)
Para hadirin yang dirahmati Allah,
membersihkan hati berarti memulai Ramadan dengan taubat yang jujur, memaafkan sesama, dan menanggalkan penyakit-penyakit batin. Inilah makna awal menyambut Ramadan dengan benar.
Setelah hati dibersihkan, langkah berikutnya adalah meluruskan niat. Ramadan adalah ibadah besar yang mudah tercampur dengan kebiasaan, tradisi, bahkan riya'. Padahal Rasulullah telah meletakkan kaidah agung dalam seluruh ibadah:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنَّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini adalah poros seluruh agama, karena sah atau rusaknya amal kembali kepada niat
Meluruskan niat pada bulan Ramadan berarti menegaskan dalam hati bahwa kita berpuasa, shalat, membaca Al-Qur'an, dan beramal karena Allah semata, bukan karena kebiasaan, bukan karena lingkungan, dan bukan pula sekadar mengikuti kalender.
Para hadirin yang dimuliakan Allah,
setelah hati dibersihkan dan niat diluruskan, barulah Ramadan pantas disambut dengan cinta. Cinta kepada Ramadan bukan sekadar ungkapan, tetapi terlihat dari sikap dan sikap kita dalam menyambutnya.
Rasulullah memberikan teladan cinta kepada Ramadan. Beliau bergembira dengan kedatangannya dan memberi kabar gembira kepada para sahabat. Dalam sebuah hadits disebutkan:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ النَّارِ
"Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup." (HR. an-Nasā'ī, dinilai shahih)
Para ulama menjelaskan bahwa kabar gembira Nabi ini adalah bentuk tarbiyah agar umat mencintai Ramadan, bukan merasa terbebani olehnya.
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan bahwa orang yang benar-benar mencintai Ramadan akan bersedih saat berpisah dengannya, sebagaimana orang yang mencintai kekasihnya.
Menyambut Ramadan dengan cinta berarti: gembira dengan datangnya ibadah, rindu kepada Al-Qur'an, bersemangat memperbaiki diri, dan merasa kehilangan jika satu hari Ramadan terlewat tanpa amal.
Para hadirin yang dirahmati Allah,
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan perubahan. Siapa yang masuk Ramadan dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan cinta kepada Allah, insya Allah akan keluar sebagai pribadi yang lebih bertakwa.
Hadirin jemaah yang dimuliakan Allah,
Ramadan telah tiba. Maka mari kita sambut ia dengan sebaik-baik sambutan: membersihkan hati dari dosa, meluruskan niat dalam setiap amal, dan menghadirkannya dalam hidup kita dengan cinta.
اللَّهُمَّ سَلَّمْنَا لِرَمَضَانَ، وَسَلَّمْ رَمَضَانَ لَنَا، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا.
"Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadan, sampaikan Ramadan kepada kami, dan terimalah amal kami di dalamnya."
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ.
"Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya', lisan kami dari dusta, dan pandangan kami dari khianat."
Baca juga: Muntah Seperti Apa yang Membatalkan Puasa? |
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Soal Presiden Beli Sapi Kurban Pakai APBN, MUI: Disunnahkan bagi Pemimpin
Prabowo Akan Salat Idul Adha di Prancis, Kurban 1.098 Sapi Tetap Jalan
Guru Besar UIN Jakarta: Sapi Kurban Presiden Dipahami sebagai Program Sosial Negara