Menurut Islam, bencana adalah takdir Allah SWT. ujian keimanan, dan bisa jadi konsekuensi perbuatan manusia (dosa/kerusakan alam), namun sekaligus peringatan untuk kembali kepada-Nya dengan penuh kesabaran, tawakal, dan introspeksi, karena di baliknya ada hikmah dan kasih sayang Ilahi yang bertujuan membersihkan dan meningkatkan kualitas iman.
Sekarang kita menghadapi cuaca ekstrem, cuaca ini adalah bagian dari ujian. Karena manusia dicipta telah mempunyai akal sebagai penyeimbang dari nafsu ( yang membawa keburukan ) maka akal ini yang digunakan manusia untuk menghadapi suatu keadaan ( termasuk dalam hal ini adalah cuaca yang ekstrem, agar bisa mengendalikan sehingga bisa menghindari bencana banjir atau mengurangi resiko dampaknya ).
Penyebab Terjadinya Bencana (Perspektif Islam) :
Takdir dan Kehendak Allah SWT : Semua yang terjadi di muka bumi, termasuk bencana, terjadi atas izin Allah SWT.,dan tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Ini bukan tanpa tujuan, melainkan bagian dari rencana-Nya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Islam, kehendak Allah SWT.(Iradah) mutlak, di mana segala sesuatu terjadi atas izin dan ciptaan-Nya, mencakup kehendak qadariyah (takdir yang pasti terjadi, baik suka atau tidak) dan syar'iyyah (perintah dan larangan yang dicintai-Nya).
"...Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya." (HR. Bukhari-Muslim).
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT. dalam Surah Yasin ayat 82 yang terjemahannya," Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka, jadilah (sesuatu) itu."
Maknanya : Allah SWT, menerangkan betapa mudah bagi-Nya menciptakan sesuatu. Apabila Ia menghendaki untuk menciptakan suatu makhluk, cukuplah Allah berfirman, "Jadilah," maka dengan serta-merta terwujudlah makhluk itu. Mengingat kekuasaan-Nya yang demikian besar, maka adanya hari kebangkitan itu, di mana manusia dihidupkan-Nya kembali sesudah terjadinya kehancuran di hari Kiamat, bukanlah suatu hal yang mustahil, dan tidak patut diingkari.
Ujian (Balā') : Bencana adalah ujian untuk menguji keimanan, kesabaran, dan ketakwaan manusia, sama seperti nikmat. Menurut Islam, bencana adalah ujian (fitnah/cobaan) dari Allah SWT. untuk menguji keimanan, meningkatkan derajat, menghapus dosa, serta menjadi peringatan akan kebesaran-Nya.
Hal ini sesuai dengan Surah at-Taghabun 11 yang terjemahannya," Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Maknanya : Allah SWT.tidak hanya menciptakan makhluk, tetapi juga mengatur seluruh makhluk. Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa seseorang dalam kehidupan ini, kecuali dengan izin-Nya, karena Allah SWT. mengetahui dan mengatur kehidupan ini; dan barang siapa beriman kepada-Nya. dengan istikamah, niscaya Allah SWT. akan memberi petunjuk kepada hatinya dengan memantapkan imannya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di jagat raya maupun yang terjadi di jagat kecil, sanubari manusia.
Akibat Perbuatan Manusia (Fasād) : Bencana bisa menjadi konsekuensi dari kerusakan lingkungan dan kemaksiatan (dosa) yang dilakukan manusia, seperti perusakan hutan atau ketidakpatuhan terhadap hukum Ilahi.
Hal ini telah diperingatkan Allah SWT. dalam firman-Nya Surah ar-Rum ayat 41 yang terjemahannya," Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Maknanya : Bila pada ayat-ayat sebelumnya Allah SWT. menjelaskan sifat buruk orang musyrik Mekah yang menuhankan hawa nafsu, melalui ayat ini Allah SWT. menegaskan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat mempertuhankan hawa nafsu. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, baik kota maupun desa, disebabkan karena perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntunan fitrah. Allah SWT.,menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan buruk mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar dengan menjaga kesesuaian perilakunya dengan fitrahnya.
Peringatan dan Kasih Sayang : Bencana bisa menjadi cara Allah SWT.,mengingatkan manusia agar kembali ke jalan-Nya, menunjukkan kekuasaan-Nya, dan membersihkan dosa-dosa.
Bencana (musibah) tidak semata-mata dimaknai sebagai azab atau murka Allah SWT. Lebih dalam dari itu, bencana merupakan wujud kasih sayang Allah SWT. (rahmah) yang bertujuan untuk menegur, mendidik, dan mensucikan hamba-Nya.
Hikmah dan Sikap Menghadapi Bencana:
Sabar dan Tawakal : Tetap teguh menjalankan kewajiban dan berserah diri kepada Allah.
Introspeksi dan Muhasabah : Menganalisis diri dan perbuatan, serta memperbaiki diri.
Berdoa dan Berusaha : Memohon pertolongan Allah sambil tetap berusaha mencari jalan keluar.
Berkeyakinan penuh : Yakin bahwa di balik musibah ada kebaikan dan rahmat Allah SWT.
Kesimpulan: Bencana dalam Islam dipandang multifaset-sebagai takdir, ujian, teguran, dan kasih sayang-yang semuanya bertujuan membawa manusia lebih dekat kepada Allah SWT.
Semoga menjadi mengerti dan memahami bahwa bencana yang kita hadapi maupun yang akan terjadi semata-mata karena ijin-Nya.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Israel Kembali Serang Gaza setelah Gabung Dewan Perdamaian, 31 Warga Tewas
Kerjanya Meletihkan, Honor Petugas Haji 2026 Bisa Tembus Rp1 Juta per Hari
Anjuran Mempertahankan Nyawa dan Harta dalam Islam