- Apa Itu Husnul Khatimah?
- Meninggal pada Hari Jumat, Apakah Tanda Husnul Khatimah?
- Mengapa Harus Hari Jumat atau Malam Jumat?
- Amalan agar Meninggal dalam Keadaan Husnul Khatimah 1. Memperbanyak Taubat dan Istighfar 2. Menjaga Salat Lima Waktu 3. Membiasakan Membaca Al-Qur'an dan Mengamalkannya 4. Menjaga Lisan dari Perkataan Buruk 5. Berbuat Baik kepada Orang Tua 6. Menjauhi Dosa Besar dan Maksiat 7. Memperbanyak Doa agar Diberi Husnul Khatimah
Kabar seseorang meninggal dunia pada hari Jumat sering kali diiringi anggapan bahwa ia wafat dalam keadaan husnul khatimah. Hari Jumat memang dikenal sebagai hari yang istimewa dalam Islam. Namun, meninggal pada hari Jumat, apakah benar sebagai tanda husnul khatimah? Berikut ulasan lengkapnya.
Apa Itu Husnul Khatimah?
Setiap Muslim tentu mendambakan akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah. Dalam buku Menuju Kepulangan: Hakikat Kematian dalam Islam karya Fahmi Hidayat dijelaskan bahwa husnul khatimah adalah meninggal dunia dalam keadaan beriman dan taat kepada Allah SWT.
Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jamiul Ulum wal Hikam. Ia menerangkan bahwa husnul khatimah terjadi apabila seseorang wafat dalam keadaan istiqomah di atas Islam, telah bertaubat dari dosa-dosanya, serta meninggal saat melakukan amal yang diridhai Allah SWT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa di akhir perkataannya ialah lailaha'ilallah maka dia akan masuk surga." (HR. Abu Daud)
Adapun kebalikan dari husnul khatimah adalah suul khatimah. Suul khatimah adalah kondisi meninggal dunia dalam keadaan maksiat atau kekufuran.
Suul khatimah terjadi ketika seseorang wafat dalam kondisi terus-menerus melakukan maksiat, jauh dari zikir, serta tidak bertaubat hingga akhir hayatnya.
Peringatan terkait pentingnya akhir kehidupan manusia juga disampaikan Rasulullah SAW dalam hadits berikut,
"Sesungguhnya ada seseorang yang mengamalkan amalan ahli surga menurut pandangan manusia, namun ternyata ia termasuk penghuni neraka. Dan sesungguhnya ada seseorang yang mengamalkan amalan ahli neraka menurut pandangan manusia, namun ternyata ia termasuk penghuni surga. Sesungguhnya amalan itu tergantung penutupnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Meninggal pada Hari Jumat, Apakah Tanda Husnul Khatimah?
Meninggal dunia pada hari Jumat kerap diyakini sebagai salah satu tanda husnul khatimah. Ust. Ahmad Zacky ElSyafa dalam buku Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun menyebutkan bahwa wafat pada hari Jumat merupakan tanda meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Hal tersebut didasarkan pada sabda Rasulullah SAW berikut,
"Setiap muslim yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat pastilah dilindungi oleh Allah dari cobaan pertanyaan di alam kubur." (HR Ahmad).
Dalam redaksi lain disebutkan, "Allah akan melindunginya dari fitnah kubur."
Penjelasan serupa juga ditemukan dalam buku Taudhihul Adillah 5 karya M. Syafi'i Hadzami. Dalam buku tersebut dikutip keterangan dari kitab Tanqihu al-Qauli Hadits Fi Syarhi Lubabi al-Hadits karya al-'Allamah Muhammad bin 'Umar Nawawi al-Bantani, yang menyebutkan sabda Rasulullah SAW,
"Barang siapa yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malamnya. Diangkatlah padanya dari adzab kubur."
Selain itu, dalam kitab Ihya' 'UlÃģmu ad-Din karya Imam Ghazali juga disebutkan sabda Rasulullah SAW,
"Barang siapa yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, niscaya Allah menulis baginya pahala Syahid, dan dia dipelihara dari adzab kubur. Dan yang demikian itu dengan Syarat Iman."
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa keutamaan meninggal pada hari Jumat tetap memiliki syarat. Mengutip dari buku Al-Maut wa 'Alam Al-Barzakh karya Mahir Ahmad Ash-Shufiy yang diterjemahkan oleh Badruddin dkk, disebutkan bahwa seseorang yang meninggal pada hari Jumat akan memperoleh husnul khatimah apabila ia meninggal dalam keadaan beriman dan beramal saleh.
Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan terkait orang kafir yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat. Mahir Ahmad Ash-Shufiy menegaskan,
"Meskipun meninggal dunia pada malam atau hari Jumat, tanpa keimanan dan amal saleh, ia tetap mendapat siksa kubur."
Dengan demikian, meninggal pada hari Jumat memang memiliki keutamaan dalam Islam. Namun, husnul khatimah pada hakikatnya tetap ditentukan oleh keimanan dan amal saleh seseorang semasa hidup.
Mengapa Harus Hari Jumat atau Malam Jumat?
Hari Jumat dan malam Jumat dikenal memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Keistimewaan inilah yang kemudian dikaitkan dengan keutamaan wafat pada waktu tersebut.
Dalam buku Misteri Kematian karya Mahir Ahmad Ash-Syufiy dijelaskan bahwa hari Jumat merupakan hari yang sangat diagungkan oleh Allah SWT. Keagungan hari Jumat ditegaskan dengan diturunkannya satu surat khusus dalam Al-Qur'an, yakni Surah Al-Jumu'ah.
Selain itu, Allah SWT menjanjikan pahala besar bagi umat Islam yang melaksanakan salat Jumat. Hari Jumat juga dikenal memiliki waktu mustajab untuk berdoa. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
"Pada hari Jumat terdapat saat mustajab, tidak seorang muslim pun yang salat, kemudian berdoa kebaikan kepada Allah maka Allah pasti mengabulkannya." (HR. Muslim, Malik, dan Ahmad).
Tak hanya itu, hari Jumat juga memiliki banyak keutamaan lainnya. Jumat disebut sebagai hari yang paling utama dibandingkan hari-hari lainnya dan dikenal dengan sebutan Sayyidul Ayyam atau penghulu hari. Keistimewaan ini disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang dikutip dalam buku Aktivasi Mukjizat Hari Jum'at karya Rizem Aizid.
"Hari Jumat adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jumat seperti waktu mustajab pada malam lailatul qadar di bulan Ramadan."
Penjelasan mengenai waktu mustajab pada hari Jumat juga disebutkan dalam buku Fiqih Sunah 2. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa terdapat waktu khusus dikabulkannya doa seorang muslim pada hari Jumat, yakni di waktu akhir setelah salat Ashar. Rasulullah SAW bersabda,
"Hari Jumat terdiri dari dua belas saat, di antaranya terdapat satu saat di mana tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah SWT melainkan Allah memberikan sesuatu yang dimohonnya itu kepadanya. Berusahalah untuk menggapai saat itu di saat akhir setelah Ashar." (HR an-Nasa'i, Abu Daud, dan Hakim).
Dengan berbagai keutamaan tersebut, hari Jumat dipandang sebagai waktu yang istimewa dalam Islam, baik untuk beribadah, berdoa, maupun dalam pembahasan tentang keutamaan wafat pada hari tersebut.
Amalan agar Meninggal dalam Keadaan Husnul Khatimah
Setiap muslim tentu berharap dapat menutup hidupnya dalam keadaan husnul khatimah. Merangkum dari buku Panduan Mengurus Jenazah: Sesuai Tuntunan Rasulullah karya Ust. Syaifurrahman, berikut sejumlah amalan yang dianjurkan sebagai ikhtiar agar Allah SWT menganugerahkan penutup kehidupan yang indah kepada hamba-Nya.
1. Memperbanyak Taubat dan Istighfar
Taubat merupakan kunci keselamatan seorang hamba. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa, namun kebiasaan bertaubat dan beristighfar akan menjaga hati tetap lembut, bersih, dan dekat kepada Allah SWT.
2. Menjaga Salat Lima Waktu
Salat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab. Menjaga salat dengan baik menjadi salah satu sebab utama seseorang memperoleh akhir kehidupan yang baik.
Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa menjaga salat, maka baginya cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat." (HR. Ahmad)
Kebiasaan menunaikan salat tepat waktu menjadikan hati senantiasa terikat dengan Allah SWT hingga akhir hayat.
3. Membiasakan Membaca Al-Qur'an dan Mengamalkannya
Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Orang yang dekat dengan Al-Qur'an akan senantiasa dibimbing oleh Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya, termasuk saat menghadapi sakaratul maut.
Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda,
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim)
4. Menjaga Lisan dari Perkataan Buruk
Menjaga lisan merupakan tanda kesempurnaan iman. Banyak dosa besar terjadi akibat ucapan yang tidak dijaga dan tidak dipikirkan dampaknya.
Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada sesuatu yang lebih banyak memasukkan manusia ke dalam neraka selain hasil panen dari lisan mereka." (HR. Tirmidzi)
5. Berbuat Baik kepada Orang Tua
Ridha Allah SWT sangat bergantung pada ridha kedua orang tua. Berbakti kepada orang tua disebut oleh para ulama sebagai salah satu jalan terbesar menuju husnul khatimah.
"Dari sahabat Abdullah bin Umar RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, 'Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,'" (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
6. Menjauhi Dosa Besar dan Maksiat
Dosa besar seperti zina, riba, minuman memabukkan, sihir, dan berbagai bentuk maksiat lainnya dapat menjadi penghalang husnul khatimah apabila tidak disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh.
7. Memperbanyak Doa agar Diberi Husnul Khatimah
Doa merupakan senjata bagi setiap mukmin. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk senantiasa memohon akhir kehidupan yang baik. Berikut beberapa doa yang dapat diamalkan.
-Doa Husnul Khatimah Versi Pertama
ØąŲØ¨ŲŲŲŲØ§ ØŖŲŲŲØąŲØēŲ ØšŲŲŲŲŲŲŲØ§ ØĩŲØ¨ŲØąŲØ§ ŲŲØĒŲŲŲŲŲŲŲŲØ§ Ų ŲØŗŲŲŲŲ ŲŲŲŲ
Bacaan latin: Rabbana afrigh 'alayna shabran wa tawaffana muslimin
Artinya: "Tuhan kami! Tuangkanlah kesabaran (ke dalam hati kami sehingga memenuhi relung-relungnya) dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu)."
-Doa Husnul Khatimah Versi Kedua
اŲŲŲØĒŲ ŲŲŲŲŲ ŲŲŲ Ø§ŲØ¯ŲŲŲŲŲŲØ§ ŲŲØ§ŲŲØĸØŽŲØąŲØŠŲ ØĒŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲØŗŲŲŲŲ ŲØ§ ŲŲŲØ§ŲŲØŲŲŲŲŲŲ Ø¨ŲØ§ŲØĩŲŲŲŲØŲŲŲŲ
Bacaan latin: Anta waliy fiddunya wa al-akhirah, tawaffani musliman wa alhiqni bish-shalihin
Artinya: "Tuhan Pemeliharaku, Engkau adalah Pembelaku (yang paling dekat kepadaku) dalam kehidupan dunia ini (demikian juga) di akhirat nanti. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim (yang berserah diri dengan tulus kepada-Mu) dan ikutkanlah aku dalam kelompok orang-orang yang saleh."
- Doa Husnul Khatimah Versi Ketiga
اŲŲŲŲŲ ŲŲ Ø§ØŽŲØĒŲŲ Ų ŲŲŲŲØ§ Ø¨ŲØ§ŲŲØŲØŗŲŲŲŲ ŲŲ Ø§ØąŲØ˛ŲŲŲŲŲØ§ Ų ŲØąŲاŲŲŲŲØŠŲ ŲŲØ¨ŲŲŲŲŲŲ Ų ŲØŲŲ ŲŲØ¯Ų ØĩŲŲŲŲŲ Ø§ŲŲŲŲ ØšŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲØŗŲŲŲŲŲ Ų ŲŲ Ø§ŲŲŲŲØ¸ŲØąŲ ØĨŲŲŲŲ ŲŲØŦŲŲŲŲŲ Ø§ŲŲŲŲØąŲŲŲ Ų Ø§ŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲ Ø§ØąŲØ˛ŲŲŲŲŲŲ ŲŲØ¨ŲŲŲ Ø§ŲŲŲ ŲŲŲØĒŲ ØĒŲŲŲØ¨ŲØŠŲ ŲŲØšŲŲŲØ¯Ų اŲŲŲ ŲŲŲØĒŲ Ø´ŲŲŲØ§Ø¯ŲØŠŲ ŲŲØ¨ŲØšŲØ¯Ų اŲŲŲ ŲŲŲØĒŲ ØŦŲŲŲŲØŠŲ اŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲ Ø§ØąŲØ˛ŲŲŲŲŲŲ ØŲØŗŲŲŲ Ø§ŲŲØŽŲاØĒŲŲ ŲØŠŲ اŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲ Ø§ØŦŲØšŲŲŲ ØŽŲŲŲØąŲ ØŖŲØšŲŲ ŲØ§ØąŲŲŲØ§ ØĸØŽŲØąŲŲŲ ŲŲ ØŽŲŲŲØąŲ ØŖŲØšŲŲ ŲØ§ŲŲŲŲØ§ ØŽŲŲŲØ§ØĒŲŲ ŲŲŲ ŲŲ ØŽŲŲŲØąŲ ØŖŲŲŲŲØ§Ų ŲŲŲØ§ ŲŲŲŲŲ Ų ŲŲŲŲØ§ØĻŲŲŲ ŲŲ ØĩŲŲŲŲŲ Ø§ŲŲŲŲ ØšŲŲŲŲ ØŗŲŲŲŲØ¯ŲŲŲØ§ Ų ŲØŲŲ ŲŲØ¯Ų ŲŲ ØšŲŲŲŲ ØĸŲŲŲŲ ŲŲØĩŲØŲØ¨ŲŲŲ ŲŲ ØŗŲŲŲŲŲ Ų
Bacaan latin: Allahummakhtim lana bil-husna warzuqna murafaqata nabiyyika Muhammadin shallallahu 'alay-hi wa sallam wa an-nadzhra ila wajhikal-karim. Allahummarzuqni qablal-mawti tawbatan wa 'indal-mawti syahadatan wa ba'dal-mawti jannah. Allahummarzuqni husnal-khatimah. Allahummaj'al khayra a'marina akhirahu wa khayra a'malina khawatimahu wa khayra ayyamina yawma liqa'ika wa shallallahu 'ala sayyidina muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Artinya: "Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan akhir yang baik, anugerahilah kami rezeki berupa keberadaan bersama Rasul-Mu Muhammad SAW serta memandang ke wajah-Mu Yang Mahamulia. Ya Allah, anugerahilah aku pengampunan sebelum wafat, dan syahadat pada saat kematian dan surga setelah kematian. Ya Allah, anugerahilah aku husnul khatimah/akhir yang baik. Ya Allah, jadikanlah perjalanan hidup kami yang terbaik adalah akhirnya, amal-amal kami yang terbaik adalah kesudahannya, dan hari terbaik kami adalah hari pertemuan dengan-Mu."
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Resmi Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Apakah Nanti Malam Takbiran? Ini Prediksinya
Hasil Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2026 Diumumkan Jam Berapa?