Memulihkan Mental Health dalam Pendekatan Agama di Dunia Pendidikan

Resensi Buku

Memulihkan Mental Health dalam Pendekatan Agama di Dunia Pendidikan

Dr Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikHikmah
Kamis, 22 Jan 2026 06:30 WIB
Memulihkan Mental Health dalam Pendekatan Agama di Dunia Pendidikan
Buku Psikologi Agama Perspektif Pendidikan Islam. Foto: Dok.Pribadi
Jakarta -

Adakah kaitan antara psikologi agama dengan pendidikan agama, khususnya Islam? Jawabannya sontak: Ada.

Merujuk pemikiran ahli komparasi agama global, Mircea Eliade, psikologi agama adalah berbicara tentang bagaimana fitrah manusia sebagai makhluk beragama membentuk perilaku, kesadaran moral, dan pola hidup yang berorientasi kebaikan.

Karena fitrah, atau kebutuhan elementer, maka manusia secara bawaan adalah homo religious atau makhluk beragama. Jadi, saat fitrahnya berkembang melalui pendidikan, bimbingan, dan lingkungan yang mendukung, maka manusia seseorang tak hanya beragama, tetapi juga mampu menghadirkan agama sebagai sumber keteraturan batin, ketenangan hidup, dan orientasi etis dalam hubungan sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini diafirmasi kontan dalam pengantar buku, yang mana penulis mengutip QS. Al Araf ayat 172. Yakni ayat yang menjadi pondasi bahwa selain memori ruhani yang dibawa manusia sejak awal keberadaannya, juga kepercayaan spiritual adalah hasil konstruksi budaya seperti pendidikan.

Di halaman berikutnya terdapat penjelasan lebih jauh mengenai dua potensi jiwa manusia, yakni takwa yang membawa pada amal saleh serta fujur yang condong pada perilaku buruk. Hal ini dipertegas QS. Asy Syams ayat 8-10 (Allah mengilhamkan kepada jiwa potensi fujur dan takwa. Sungguh beruntung orang yang mensucikannya, dan celakalah orang yang mengotorinya).

ADVERTISEMENT

Ayat ini menjadi inti psikologi agama, bahwa pendidikan dalam Islam bukan menghilangkan hawa nafsu, tetapi mengarahkan dan mengendalikannya agar menjadi energi kebajikan. Namun di sisi lain buku ini juga menuliskan, nafsu manusia memiliki kecenderungan destruktif sebagaimana termaktub dalam QS. Yusuf ayat 53 (Sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada keburukan).

Karenanya, dalam tinjauan psikologi agama, seseorang bergerak tidak hanya pada pemahaman teori (ayat kitab suci), tetapi juga implementasi pendidikan akhlak, pembiasaan ibadah, suasana keluarga religius, serta pemberian teladan yang konsisten. Bila lingkungan mendukung, fitrah itu tumbuh menjadi akhlak mulia, namun bila lingkungan lalai maka fitrah bisa rusak dan cenderung mengikuti dorongan impulsif. Dengan kata lain, agama bukan hanya sistem keyakinan, melainkan juga medium terapi psikologis yang dapat menuntun manusia menuju kesehatan mental dan ketenteraman batin.

Banyak penelitian ternama menguatkan, spiritualitas memiliki peran signifikan dalam meredakan gangguan emosional seperti kecemasan, stres, depresi, hingga rasa kehilangan makna hidup. Zakiah Daradjat (1982), pakar pendidikan Islam dan psikologi, menegaskan bahwa agama mampu menjadi penyembuh gangguan kejiwaan. Semakin dekat seseorang dengan ajaran Tuhan, semakin stabil pula kesehatan psikologisnya, dan semakin mudah menghadapi tekanan hidup.

Surah Al Ashr dan At Tin misalnya memberi pesan kuat bahwa manusia berada dalam kerugian batin jika jauh dari iman, amal saleh, dan saling menasihati dalam kesabaran. Artinya, keterlepasan spiritual akan melahirkan kegelisahan dan kekosongan jiwa.


Ruang Kembali

Mengingat Allah melalui ibadah menjadi proses grounding emosional, memperlambat gejolak mental, serta menata pikiran agar fokus pada hal yang baik. Pun, doa juga memiliki efek terapeutik (Carrel, 1980). Baginya, doa sebagai energi penyembuh yang bekerja dalam ranah kejiwaan dan kebadanan. Orang yang membiasakan doa akan mengalami ketenangan berlapis, karena pikiran, rasa, dan batinnya tertambat pada harapan serta kepasrahan kepada Tuhan.

Pada akhirnya, di tengah meningkatnya gangguan mental di Indonesia, agama adalah ruang kembali, tempat jiwa pulih dan menemukan makna eksistensialnya. Buku ini sendiri ditulis akademisi dan pakar psikologi pendidikan-bimbingan dengan pengalaman lebih dari empat dekade mengajar di UPI.

Berbagai pandangan ahli dan ayat Al-Qur'an yang ditampilkan dalam buku ini menegaskan bahwa agama bukan lagi sekadar sistem keyakinan tetapi hadir sebagai ruang pemulihan batin, penyangga mental, serta terapi psikologis yang sangat relevan bagi manusia modern yang hidup di tengah tekanan sosial, kompetisi hidup, dan menurunnya rasa tenang. Melalui iman, salat, doa, dan zikir, individu memperoleh jalan menata emosi, meredakan kegelisahan, membangun harapan, serta menumbuhkan daya tahan menghadapi kesulitan. Ketika nilai-nilai spiritual menjadi landasan berperilaku, maka kesehatan mental tidak hanya pulih tetapi tumbuh menjadi lebih matang karena manusia memiliki pusat kembali dan arah yang pasti. Dengan demikian, agama memberi bukan hanya penguatan logika sehat khas dunia pendidikan, tetapi juga menghadirkan ketenteraman yang tidak dapat diberikan oleh terapi psikologis sekuler semata.


Judul Buku: Psikologi Agama Perspektif Pendidikan Islam
Penulis: Prof Dr Syamsu Yusuf
Penerbit: PT Refika Aditama, Bandung
Tahun Terbit: Oktober 2025 | 152 halaman | ISBN: 978 623 5031 323

Dr. Muhammad Sufyan Abdurrahman

Penulis adalah Dosen Digital Public Relations Telkom University

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads