×
Ad

Unsur-unsur Abu Vulkanik, Ada Bahan Pembuat Kaca

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 07 Sep 2026 14:00 WIB
Abu vulkanik dari erupsi Halema'uma'u Crater, Kīlauea Volcano, Hawai'i, 2008. Foto: USGS/Public Domain
Jakarta -

Sejumlah pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) imbas aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) dan dampaknya. Kebijakan PJJ diharapkan menjaga keselamatan dan kesehatan warga sekolah dari paparan abu vulkanik erupsi GAK.

Per Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatotologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi klaster sebaran abu vulkanik yang meliputi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran (SE) No. KL.01.02/A/17765/2026, yang menjelaskan partikel abu vulkanik tidak hanya memengaruhi kesehatan saluran pernapasan, mata, kulit; mengontaminasi air dan pangan; dan meningkatkan risiko cedera dan kecelakaan lalu lintas karena mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin.

Apa saja yang terkandung pada abu vulkanik sehingga paparannya harus dihindari?

Apa Itu Abu Vulkanik?

Sebelum mengetahui materi penyusunnya, kenali dulu apa itu abu vulkanik. US Geological Survey (USGS) dalam laman resminya menjelaskan, abu vulkanik adalah istilah untuk material berbutir halus yang keluar selama erupsi gunung api karena ekspansi gas saat letusan memecah magma atau batuan padat menjadi partikel.

Secara umum, pecahan batuan vulkanik tanpa melihat ukurannya disebut tephra. Pecahan yang lebih besar disebut lapili atau blok, relatif berat dan jatuh di dekat kawah gunung api.

Sementara itu, abu vulkanik adalah jenis tephra halus.Partikel abu vulkanik sangat kecil, dengan diameter kurang dari 2 mm, sering kali kurang dari 10 mikron. Abu vulkanik dapat terbawa angin hingga jarak yang cukup jauh sehingga dapat berdampak pada warga yang jauh dari kawah gunung api, termasuk jika terhirup.

Ini yang Membentuk Abu Vulkanik

Pecahan Batu dan Kaca Alami

USGS menjelaskan, abu vulkanik terdiri dari partikel-partikel kecil bergerigi dari batuan dan kaca alami yang terlempar ke udara oleh aktivitas gunung api. Meskipun dikenal dengan nama 'abu', abu vulkanik merupakan partikel pecahan, bukan hasil bakaran api seperti abu lembut dari bakaran kertas atau kayu.

Selaras, British Geological Survey (BSG) menjelaskan, abu vulkanik terdiri dari pecahan kaca dan batuan kecil, tajam, dan bersudut, sehingga memiliki sifat abrasif. Karena itu, tidak hanya bisa merusak organ manusia, abu vulkanik bisa merusak pesawat terbang.

Materi penyusun abu vulkanik yang basah dapat menghantarkan listrik. Karena itu, pemadaman listrik dapat terjadi di daerah yang terkena hujan abu vulkanik untuk mengantisipasi korsleting dan kerusakan komponen elektronik.

Setelah letusan penghasil abu vulkanik berakhir, angin dan aktivitas manusia bisa membuat abu vulkanik berputar-putar di lingkungan tempat jatuhnya selama berbulan-bulan dan bertahun tahun sehingga berbahaya bagi kesehatan dan ekonomi dalam jangka panjang.

Silika Kristalin

Peneliti Volcano Science Center USGS David Damby dan rekan-rekan dalam Frontiers in Immunology (2018) menjelaskan, abu vulkanik adalah debu mineral heterogen yang biasanya terdiri dari campuran fragmen amorf (kaca) dan kristalin (mineral). Abu vulkanik umumnya mengandung banyak polimorf silika kristalin (SiO2 ) kristobalite.

Pasir silika atau kuarsa yang mengandung silika kristalin dapat menjadi bahan pembuat kaca. Jika terhirup, silika kristalin dapat memicu peradangan dengan merangsang inflammasom NLRP3, kompleks reseptor dalam tubuh yang penting dalam mendorong respons imun inflamasi.

Kementerian Kesehatan Singapura menjelaskan, di samping silika, abu vulkanik juga mengandung sejumlah kecil kalium, aluminium, dan besi. Pada orang sehat, paparan jangka pendek terhadap tingkat abu vulkanik yang tinggi dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, saluran pernapasan, kulit, dan mata, serta dapat masuk ke balik softlens.

Sedangkan bagi yang sudah memiliki penyakit jantung atau paru-paru kronis, misalnya asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau gagal jantung, potensi pengaruh pada jantung dan paru-paru menjadi lebih tinggi.

Hidrogen Halida

USGS menjelaskan, partikel abu juga sering dilapisi dengan hidrogen halida (HF, HCl, HBr) yang adalah asam beracun. Setelah mengendap, partikel abu yang dilapisi hidrogen halida dapat meracuni pasokan air minum, tanaman pertanian, dan lahan penggembalaan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta warga di daerah yang terdampak abu vulkanik mewaspadai potensi dampak kesehatan dengan mengurangi kegiatan di luar ruangan dan memakai masker.

"Kalau pun harus keluar, jangan lupa pakai masker. Utamakan memakai masker dengan tipe KN95. Kalau tidak ada masker KN95, cari apapun masker yang ada atau setidaknya menutup hidung dan mulut," kata Budi melalui akun Instagram, diakses Senin (7/9/2026).



Simak Video "Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat"

(twu/nah)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork