×
Ad

Pertama Kali, Ilmuwan Temukan Gula di Antara Bintang-bintang Luar Angkasa

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 19 Jul 2026 20:00 WIB
Foto: NASA/W STENZEL/Ilustrasi Tata Surya.
Jakarta -

Para astronom mendeteksi gula alami yang biasanya ditemukan dalam raspberry di awan debu dan gas antarbintang di dekat pusat galaksi Bima Sakti. Penemuan ini menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, senyawa yang penting bagi kehidupan dapat terbentuk di hamparan luas di antara bintang-bintang.

Penemuan tersebut sekaligus memicu optimisme bahwa molekul lain yang penting untuk asal-usul kehidupan, bisa jadi dapat ditemukan di luar angkasa. Tim yang dipimpin oleh para astronom di Pusat Astrobiologi Spanyol mendeteksi gula tersebut, yang disebut eritrosa, yang terbuat dari empat atom karbon.

Gula memainkan peran penting dalam sistem kehidupan, membantu menyediakan energi, membangun struktur biologis, dan membentuk bagian dari materi genetik seperti RNA dan DNA. Untuk melakukan pengamatan, tim tersebut menggunakan dua teleskop radio, satu di Observatorium Yebes di utara Madrid. Sementara, teleskop yang lainnya di Institut Astronomi Radio dalam Milimeter Range, yang dikenal sebagai IRAM, di Sierra Nevada, Spanyol Selatan.

Gula Tercipta Sebelum Bintang dan Planet?

Para ahli mempelajari awan molekuler yang dikenal sebagai G+0.693−0.027 di dekat pusat galaksi. Para peneliti mengidentifikasi gula tersebut dengan membandingkan tanda molekulnya dalam data gelombang radio dari awan molekuler dengan pola panjang gelombang eritrosa yang diukur di laboratorium.

Tim awalnya mencari gula yang lebih sederhana dengan tiga atom karbon, tetapi tidak menemukan satu pun.

"Temuan ini tidak terduga, karena pandangan yang berlaku dalam astrokimia adalah bahwa molekul antarbintang tumbuh ukurannya melalui penambahan atom karbon secara berurutan," kata Izaskun Jiménez-Serra, seorang astronom di Pusat Astrobiologi di Madrid dan Dewan Riset Nasional Spanyol, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNN Science Minggu (19/7/2026).

"Penemuan kami menunjukkan gula yang relatif kompleks sudah dapat disintesis di ruang antarbintang, sebelum bintang dan planet lahir," ungkapnya.

Studi tersebut menunjukkan bahwa eritrosa dapat dibuat dari molekul yang lebih sederhana pada butiran debu es di ruang angkasa dan kemudian dapat menjadi bagian dari sistem kimia yang lebih kompleks. Para ilmuwan mendeteksi lebih dari 340 molekul dalam materi dan gas yang ada di ruang antarbintang Bima Sakti, tetapi tidak ada gula, catat studi tersebut.

"Gula dan senyawa terkait gula telah ditemukan di asteroid, tetapi penemuan senyawa di ruang antarbintang ini memperkuat dugaan Tata Surya kita mungkin telah bertabur dengan senyawa organik yang sudah ada sebelumnya," kata Mark Sephton, seorang profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Teknik di Imperial College London, yang tidak terlibat dalam penelitian ini kepada CNN Science.

Beberapa Jenis Gula Diperkirakan dari Luar Angkasa

Para ilmuwan telah lama bertanya-tanya bagaimana molekul gula pertama kali terbentuk di Bumi. Percobaan laboratorium telah menunjukkan bahwa molekul gula tidak mudah terbentuk dalam kondisi ekstrem yang diperkirakan ada pada babak awal sejarah Bumi.

Deteksi sebelumnya terhadap gula seperti ribosa dan glukosa dalam meteorit primitif dan dalam sampel dari asteroid Bennu yang dikumpulkan pada 2020 menunjukkan bahwa beberapa jenis gula mungkin berasal dari luar angkasa. Sephton mengatakan ada kemungkinan gula masuk ke dalam asteroid saat terbentuk dan akhirnya dikirim ke permukaan Bumi melalui meteorit.

Yoshihiro Furukawa, seorang profesor di Departemen Ilmu Bumi Universitas Tohoku di Jepang yang merupakan bagian dari tim yang menemukan gula dalam sampel dari Bennu, setuju bahwa gula dapat mencapai Bumi dan planet lain melalui komet dan debu asteroid, meskipun proses bagaimana kehidupan muncul masih belum jelas.

"Temuan ini sangat menarik, karena kami telah menunggu deteksi aktual seperti ini," katanya.

Para peneliti memperkirakan bahwa antara 0,5 juta dan 50 juta metrik ton gula ini mungkin telah menghujani permukaan Bumi selama periode yang dikenal sebagai Late Heavy Bombardment yang terjadi sekitar 4 miliar tahun yang lalu ketika asteroid menghantam planet-planet bagian dalam Tata Surya.

Namun, menurut NASA, apakah peristiwa semacam itu terjadi, sebenarnya masih menjadi perdebatan ilmiah.

Eritrosa ditemukan dalam jumlah sangat kecil di raspberry dan beberapa buah lainnya dan diproduksi sebagai bahan untuk kosmetik seperti produk penyamakan kulit dan produk penggelap kulit karena bereaksi dengan lapisan luar kulit dan menghasilkan tampilan kulit yang kecokelatan.

"Penemuan eritrosa sangat menarik karena membuka kemungkinan untuk menemukan gula lain di luar angkasa seperti ribosa, yang merupakan bagian dari RNA, dan molekul penting lainnya untuk asal-usul kehidupan," kata Carlos Briones, salah satu penulis studi dan peneliti evolusi molekuler di Dewan Riset Nasional Spanyol dan Pusat Astrobiologi, dalam sebuah pernyataan.



Simak Video "Video: 2028, Jerman Mau Terapkan Pajak Minuman Manis!"

(nah/faz)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork