Studi Ungkap Misteri Awan Jupiter, Ada Badai Raksasa Berukuran 2 Kali Bumi

ADVERTISEMENT

Studi Ungkap Misteri Awan Jupiter, Ada Badai Raksasa Berukuran 2 Kali Bumi

Devita Savitri - detikEdu
Minggu, 18 Jan 2026 19:00 WIB
Studi Ungkap Misteri Awan Jupiter, Ada Badai Raksasa Berukuran 2 Kali Bumi
Foto: Badai raksasa berputar-putar di permukaan Jupiter, membuat ilmuwan kesulitan mengungkap apa yang ada di baliknya. (NASA/JPL-Caltech/SwRI/MSSS, Pemrosesan gambar oleh Kevin M. Gill, Β© CC BY)
Jakarta -

Planet terbesar di Tata Surya, Jupiter punya banyak misteri yang belum terungkap oleh para ilmuwan. Salah satunya terkait dengan warna planet tetangga Bumi itu.

Warna planet Jupiter didominasi cokelat, krem, putih, merah muda, dan oranye. Berbagai warna ini berasal dari awan amonia dan senyawa kimia di atmosfernya.

Dalam studi terbaru yang dilakukan ilmuwan The University of Chicago (UChicago) dan Jet Propulsion Lab ditemukan, Jupiter punya awan-awan spektakuler yang terus berputar-putar. Awan ini mengandung air sama seperti Bumi, tetapi jauh lebih padat, bahkan sangat padat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keadaan ini menyebabkan belum ada pesawat ruang angkasa asal Bumi yang bisa memberikan pengukuran secara tepat tentang apa yang ada di baliknya. Namun, studi yang dilakukan UChicago berbeda.

ADVERTISEMENT

Menggunakan model komputasi yang canggih, para ilmuwan mendapat pandangan yang lebih dalam tentang Jupiter. Dalam hal ini, komputer menciptakan model atmosfer Jupiter yang diklaim paling lengkap saat ini.

"Ini adalah bukti bagaimana model komputasi generasi terbaru dapat mengubah pemahaman kita tentang planet lain," kata Jeehyung Yang, peneliti pascadoktoral UChicago dan penulis pertama studi tersebut dikutip dari laman resmi kampus.

Penuh Badai Raksasa

Badai jadi salah satu fenomena yang tak asing di Jupiter. Langit planet tersebut diketahui terus digempur badai setidaknya selama 360 tahun.

Hal ini diketahui astronom usai menemukan bintik merah besar aneh di permukaannya kala menggunakan teleskop. Bintik merah besar itu adalah badai raksasa yang ukurannya dua kali ukuran Bumi dan telah berputar selama berabad-abad.

Namun rupanya, badai itu hanyalah salah satu dari banyaknya badai di Jupiter. Angin kencang dan awan tebal menyebabkan seluruh permukaan Jupiter tertutup oleh beragam badai.

Keadaan inilah yang membuat para ilmuwan tidak mengetahui apa yang ada di balik badai-badai itu.

Pada 2003, pesawat ruang angkasa Galileo milik Nasa mencoba untuk menelitinya. Namun, pesawat tersebut kehilangan kontak dengan Bumi saat mencoba turun ke atmosfer lebih dalam.

Misi lanjutan dari Galileo adalah Juno, saat ini dalam proses membuat katalog Jupiter dari jarak aman di orbit. Pengukuran dari jarak ini memberikan informasi terkait komponen apa saja yang ada di atmosfer bagian atas planet.

Banyak Unsur Kimia di Atmosfer Jupiter

Saat ini telah ditemukan bahwa atmosfer Jupiter bagian atas mengandung amonia, metana, hidrosulfida, air, karbon monoksida, dan lainnya. Komponen-komponen ini kemudian digabungkan dengan ilmu reaksi kimia untuk membangun model atmosfer Jupiter yang dalam.

Kimia atmosfer Jupiter sangat kompleks. Molekul bergerak-gerak di bagian dalam atmosfer yang sangat panas ke bagian atas yang lebih dingin. Kemudian, molekul itu berubah fase dan tersusun kembali menjadi molekul dengan reaksi berbeda-beda.

Studi ini juga menghitung perilaku awan dan tetesan air. Untuk mengetahui semua fenomena ini dengan lebih baik, Yang bekerja sama dengan tim ilmuwan lain. Bersama-sama, mereka menggabungkan kimia dan hidrodinamika ke dalam satu model.

Proses ini dinilai pertama kali dilakukan oleh para ilmuwan.

"Kimia itu penting, tetapi tidak mencakup tetesan air atau perilaku awan. Hidrodinamika saja terlalu menyederhanakan kimia. Jadi, penting untuk menggabungkannya," jelas Yang.

Misi Pencarian Planet Layak Huni

Salah satu temuan tim peneliti adalah perhitungan jumlah oksigen yang dimiliki Jupiter. Menurut studinya, Jupiter kemungkinan memiliki jumlah oksigen sekitar 1,5 kali lebih banyak daripada Matahari.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah memperdebatkan angka tersebut. Mengethaui jumlah yang tepat dinilai sangat penting untuk memahami bagaimana Tata Surya bisa terbentuk.

Semua unsur yang membentuk planet adalah bahan yang sama dengan pembentuk Matahari. Perbedaannya terletak pada jumlah bahan-bahan ini.

Informasi yang didapatkan dari sebuah planet dapat menjadi petunjuk bagaimana ia bisa terbentuk. Salah satu petunjuk bisa dilihat dari besaran jumlah oksigen di sebuah planet.

Pada akhirnya, mengetahui lebih banyak tentang apa yang menciptakan sebuah planet tertentu dapat membantu manusia dalam mencari planet layak huni di luar Tata Surya kita sendiri.

Model dalam penelitian Yang menunjukkan, atmosfer Jupiter kemungkinan bersirkulasi naik dan turun jauh lebih lambat daripada yang diketahui saat ini. Setidaknya, butuh waktu beberapa minggu bagi satu molekul untuk bergerak melalui satu lapisan atmosfer.

"Ini benar-benar menunjukkan betapa banyak hal yang masih harus kita pelajari tentang planet, bahkan di Tata Surya kita sendiri," tandas Yang.

Studi ini terbit di jurnal The Planetary Science pada 8 Januari 2026 dengan judul "Coupled 1D Chemical Kinetic Transport and 2D Hydrodynamic Modeling Supports a Modest 1-1.5Γ— Supersolar Oxygen Abundance in Jupiter's Atmosphere".




(det/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads