Setiap kali merasa mengantuk, lelah, atau bosan, kita sering menguap. Namun, apa alasan ilmiah kita menguap?
Banyak yang menganggap mengantuk bisa terjadi karena tubuh sedang menambah oksigen. Benarkah demikian? Nyatanya, alasannya tidak sesederhana itu.
Menguap berkaitan dengan perubahan kadar zat kimia di dalam otak yang memengaruhi fungsi tubuh kita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Kita Bisa Menguap
Mengutip BBC Science Focus, salah satu teori menyebutkan bahwa menguap dipicu oleh kebutuhan tubuh akan oksigen. Tarikan napas panjang saat menguap dianggap membantu meningkatkan kadar oksigen dan menurunkan karbon dioksida, terutama saat kita lelah atau berada di tempat yang kurang ventilasi.
Meski begitu, secara ilmiah menguap bukan cara efisien untuk meningkatkan kadar oksigen.
Teori lain mengatakan bahwa menguap berkaitan dengan pengendalian suhu. Baik seluruh tubuh maupun hanya suhu otak sangat sensitif dan membutuhkan suhu yang stabil agar dapat berfungsi.
Sementara teori berikutnya menjelaskan bahwa menguap berkaitan dengan peregangan.
Menguap Bisa Mendinginkan Otak?
Sebuah studi pada 2007 oleh profesor psikologi Andrew Gallup menemukan bahwa menguap kemungkinan besar berfungsi untuk mengatur suhu tubuh dan otak.Saat seseorang menguap, mulut terbuka lebar dan rahang meregang hingga posisi hampir maksimal.
Gerakan ini meningkatkan aliran darah di area kepala dan wajah. Pada saat yang sama, udara yang masuk dengan cepat saat menguap membantu mendinginkan darah tersebut.
Aliran darah yang meningkat ini kemudian didinginkan oleh hirupan udara cepat yang masuk saat menguap, sehingga membantu menurunkan suhunya.Proses ini, yang diduga berperan sebagai mekanisme alami tubuh untuk menjaga suhu otak tetap stabil, seperti dilansir dari Britannica.
Dalam penelitiannya, Gallup menemukan bahwa suhu lingkungan sangat memengaruhi frekuensi menguap. Ketika seseorang berada dalam kondisi suhu tubuh yang hangat, tingkat menguapnya meningkat drastis saat melihat gambar orang lain menguap.
Sebaliknya, saat berada di lingkungan sejuk atau setelah menggunakan kompres dingin di dahi, frekuensi menguap menurun secara signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa menguap berkaitan erat dengan upaya tubuh untuk menjaga suhu otak tetap stabil, terutama setelah aktivitas mental yang melelahkan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(crt/faz)










































