×
Ad

Ilmuwan: Robot Tak Bisa Gantikan Guru dalam Pengajaran, Tapi Bisa Melengkapi

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 07 Apr 2026 08:30 WIB
Foto: REUTERS/Monicah Mwangi
Jakarta -

Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan di The University of Chicago (UChicago) mengungkap bila robot tidak bisa menggantikan peran manusia dalam proses mengajar. Tetapi, robot bisa berfungsi sebagai pembimbing tambahan secara individual.

Hal ini dibuktikan dalam penelitian di Sekolah Negeri Chicago, Amerika Serikat. Robot dijadikan seperti guru bimbingan konseling (BK) untuk mengetahui cara anak-anak belajar tentang empati, konflik, dan pemecahan masalah.

Robot-robot itu diprogram untuk bicara terus terang dan tanpa pura-pura. Ilmuwan di balik studi ini, Lauren Wright dan Sarah Sebo menemukan robot yang jujur secara efektif dalam melengkapi pengajaran di kelas.

Studi yang dilakukan Wright dan Sebo ini berhasil memenangkan penghargaan makalah terbaik di Konferensi Internasional The Association for Computing Machinery and the Institute of Electrical and Electronics Engineers (ACM/IEEE) 2026 tentang Interaksi Manusia-Robot.

Kemampuan Sosial dan Emosional

Sarah Sebo menjelaskan studi ini diawali dengan mengamati proses belajar mengajar terkait kemampuan sosial dan emosional anak di Sekolah Negeri Chicago. Ia juga berkomunikasi dengan para guru terkait pengalaman mereka dalam hal pembelajaran sosial dan emosional.

"Kemudian mulai berpikir tentang bagaimana robot dapat melengkapi pekerjaan luar biasa yang sudah dilakukan para guru di sekolah," kata Sebo dikutip dari laman resmi UChicago.

Pembelajaran terkait sosial dan emosional mengajarkan murid keterampilan untuk mengenali dan mengelola emosi, membangun hubungan yang solid, dan mampu menghadapi tantangan.

Studi sebelumnya menemukan bila pengajaran keterampilan ini dapat meningkatkan prestasi akademik jangka panjang, mental murid lebih sehat, hingga mengurangi angka putus sekolah dan kekerasan.

Di Sekolah Negeri Chicago, mata pelajaran sosial dan emosional disampaikan sekali seminggu. Prosesnya diikuti serentak oleh seluruh kelas.

Hal ini, menyebabkan banyak murid yang tidak memperhatikan. Selain itu, guru merasa kewalahan dan menginginkan kesempatan tambahan agar bisa berinteraksi secara individu dengan murid.

Para guru yang terlibat dalam studi ini menyatakan mereka khawatir bila mata pelajaran sosial dan emosional yang ada di sekolahnya justru kurang menjangkau setiap anak. Dari kondisi ini, tim ingin mencoba mencari solusinya.

"Kami ingin membentuk tim yang mampu merancang dan mempelajari teknologi secara unik, berdasarkan praktik terbaik dalam pendidikan pembelajaran sosial dan emosional, dengan masukan dari kepala sekolah, administrator, guru, dan murid di Sekolah Negeri Chicago," jelas Sebo.




(det/nwk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork