Pakar bahasa dari Inggris, Susie Dent, mengatakan bahwa perkembangan bahasa anak zaman sekarang terganggu karena terlalu banyak di depan layar. Kebiasaan bermain gadget membuat banyak anak tertinggal soal kosakata, yang berdampak pada kesulitan atau telat berbicara (speech delay).
"Banyak sekali anak yang kini tertinggal. Kesenjangan kosakata semakin besar dan ada persepsi nyata bahwa perkembangan kosakata terganggu dan itu berdampak pada pembelajaran," kata Dent, dikutip dari The Guardian.
Laporan Oxford University Press tahun 2023 menemukan bahwa 2 dari 5 siswa tertinggal dalam pengembangan kosakata. Menurut laporan, kehidupan digital anak-anak membuat mereka mengurangi waktu membaca sehingga perkembangan bahasa terhambat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini pun membuat Pemerintah Inggris bersiap mengeluarkan panduan bagi orang tua untuk mengatur penggunaan HP pada anak di bawah lima tahun.
Faktor Kebiasaan Orang Tua
Meski begitu, Dent menegaskan dirinya tidak sepenuhnya menolak penggunaan HP. Ia menyebut teknologi dapat berperan besar dalam meningkatkan kosakata jika digunakan dengan tepat.
"Saya tidak mengatakan menolak HP sepenuhnya. Teknologi punya peran besar dalam memperkaya kosakata anak jika digunakan dengan cara yang benar. Tapi saya pikir membaca benar-benar sedang terdampak," katanya.
Ia juga menyoroti peran orang tua dalam membangun kebiasaan bahasa anak. Menurutnya, anak meniru kebiasaan orang dewasa yang sering terpaku pada ponsel sehingga interaksi dan percakapan di rumah berkurang.
"Kita semua pernah melihat orang tua di kafe sibuk menatap ponsel sementara anaknya hanya duduk diam. Itu menyedihkan karena percakapan adalah segalanya," imbuh Dent.
Di sisi lain, Dent menyoroti pentingnya percakapan dalam keseharian, permainan berbasis kata, serta pemanfaatan gim kosakata secara daring. Hal ini sangat membutuhkan dorongan dan pengawasan dari orang tua.
Dorongan untuk Membaca dan Belajar Bahasa Asing
Dent mengaku khawatir karena kesenjangan makin lebar antara anak yang gemar membaca dan yang tidak. Pasalnya, anak yang rutin membaca akan bisa memperkaya kosakata lebih cepat dan dalam jumlah lebih banyak.
Kebiasaan membaca juga membuat anak lebih mudah memahami kata baru dan menggunakannya dalam proses belajar. Selain itu, belajar bahasa asing juga bisa meningkatkan perkembangan bahasa anak.
"Jika ada satu hal yang bisa saya ubah, itu adalah benar-benar mempromosikan pembelajaran bahasa asing di sekolah, karena itu sangat penting. Keuntungan yang bisa diberikannya tidak terukur," ujarnya.
Ia berpendapat belajar bahasa asing harus diwajibkan di sekolah. Karena dampaknya bisa sangat luas bagi anak-anak.
"Saya sangat berharap demikian. Mungkin terlihat seperti tugas yang berat, tetapi saya rasa tidak ada yang pernah menyesal telah mempelajari bahasa asing," pungkasnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(crt/faz)











































