Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan di The University of Chicago (UChicago) mengungkap bila robot tidak bisa menggantikan peran manusia dalam proses mengajar. Tetapi, robot bisa berfungsi sebagai pembimbing tambahan secara individual.
Hal ini dibuktikan dalam penelitian di Sekolah Negeri Chicago, Amerika Serikat. Robot dijadikan seperti guru bimbingan konseling (BK) untuk mengetahui cara anak-anak belajar tentang empati, konflik, dan pemecahan masalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robot-robot itu diprogram untuk bicara terus terang dan tanpa pura-pura. Ilmuwan di balik studi ini, Lauren Wright dan Sarah Sebo menemukan robot yang jujur secara efektif dalam melengkapi pengajaran di kelas.
Studi yang dilakukan Wright dan Sebo ini berhasil memenangkan penghargaan makalah terbaik di Konferensi Internasional The Association for Computing Machinery and the Institute of Electrical and Electronics Engineers (ACM/IEEE) 2026 tentang Interaksi Manusia-Robot.
Kemampuan Sosial dan Emosional
Sarah Sebo menjelaskan studi ini diawali dengan mengamati proses belajar mengajar terkait kemampuan sosial dan emosional anak di Sekolah Negeri Chicago. Ia juga berkomunikasi dengan para guru terkait pengalaman mereka dalam hal pembelajaran sosial dan emosional.
"Kemudian mulai berpikir tentang bagaimana robot dapat melengkapi pekerjaan luar biasa yang sudah dilakukan para guru di sekolah," kata Sebo dikutip dari laman resmi UChicago.
Pembelajaran terkait sosial dan emosional mengajarkan murid keterampilan untuk mengenali dan mengelola emosi, membangun hubungan yang solid, dan mampu menghadapi tantangan.
Studi sebelumnya menemukan bila pengajaran keterampilan ini dapat meningkatkan prestasi akademik jangka panjang, mental murid lebih sehat, hingga mengurangi angka putus sekolah dan kekerasan.
Di Sekolah Negeri Chicago, mata pelajaran sosial dan emosional disampaikan sekali seminggu. Prosesnya diikuti serentak oleh seluruh kelas.
Hal ini, menyebabkan banyak murid yang tidak memperhatikan. Selain itu, guru merasa kewalahan dan menginginkan kesempatan tambahan agar bisa berinteraksi secara individu dengan murid.
Para guru yang terlibat dalam studi ini menyatakan mereka khawatir bila mata pelajaran sosial dan emosional yang ada di sekolahnya justru kurang menjangkau setiap anak. Dari kondisi ini, tim ingin mencoba mencari solusinya.
"Kami ingin membentuk tim yang mampu merancang dan mempelajari teknologi secara unik, berdasarkan praktik terbaik dalam pendidikan pembelajaran sosial dan emosional, dengan masukan dari kepala sekolah, administrator, guru, dan murid di Sekolah Negeri Chicago," jelas Sebo.
Melalui kerja sama antar lembaga, robot dijadikan solusi untuk hal ini. Sebanyak 52 murid yang dibagi menjadi tiga kelompok ikut berpartisipasi dalam eksperimen ini.
Kelompok pertama mempelajari pembelajaran sosial dan emosional dari robot dengan dialog fiktif yang sarat akan emosi. Adapun kelompok kedua sebaliknya, mereka belajar dengan robot yang hanya berbicara apa adanya, tanpa kata-kata manis.
Terakhir, kelompok ketiga menerima kurikulum reguler dari sekolah tanpa keterlibatan robot. Hasilnya, kedua kelompok yang belajar dengan robot menunjukkan peningkatan dalam penguasaan konsep pembelajaran sosial dan emosional dibandingkan yang tidak.
Dari dua kelompok yang menggunakan robot sebagai pengajar, peneliti menemukan bahwa robot yang berbicara jujur dan lugas justru membuat siswa lebih aktif. Wright menilai temuan ini menjadi bukti baru bagi ilmuwan saat merancang perilaku robot.
"Memberikan kepribadian fiktif pada robot dengan tujuan membuatnya lebih menarik adalah pendekatan umum untuk robot (di bidang) pendidikan. Hal ini terasa sangat relevan untuk mengajarkan pembelajaran sosial dan emosional," katanya.
Tetapi, robot yang seperti itu justruk membuat murid teralihkan perhatiannya dan membuat mereka kurang nyaman. Oleh karena itu, Wright menyimpulkan suatu pendekatan yang banyak digunakan belum tentuk memberikan hasil yang terbaik.
"Temuan ini menantang kita untuk mempertimbangkan kembali asumsi kita saat merancang perilaku robot, hanya karena suatu pendekatan umum tidak berarti penedekatan tersebut selalu menghasilkan hasil terbaik," jelas Wright lagi.
Melengkapi Bukan Menggantikan Guru
Pesan utama dari penelitian ini menegaskan bila robot adalah pelengkap yang dapat meningkatkan kemampuan guru. Namun, robot tidak mampu menggantikan manusia dalam proses pengajaran.
"Kami sangat yakin bahwa guru manusia adalah elemen terpenting dalam pendidikan dasar. Pekerjaan kami tidak bertujuan untuk menggantikan guru manusia, tetapi sebaliknya," ungkap Sabo.
Dibanding menggantikan manusia, robot di dunia pendidikan bisa berguna untuk membantu guru memperluas jangkauan pengajaran dan lebih memberikan perhatian pada murid. Temuan ini juga mengajak agar teknologi dapat digunakan untuk melengkapi peran guru dan memastikan setiap anak menerima dukungan yang bermakna.











































