Benarkah Remaja Rentan Alami Gangguan Mental? Ini Kata Pakar Unair

Benarkah Remaja Rentan Alami Gangguan Mental? Ini Kata Pakar Unair

Nikita Rosa - detikEdu
Kamis, 10 Nov 2022 08:30 WIB
Ilustrasi kesehatan mental.
Galeri detikEdu: Benarkah Remaja Lebih Rentan Alami Gangguan Mental? (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Usia remaja disebut rentan alami gangguan mental. Temuan ini mengacu pada studi dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS).

Berdasarkan hasil temuan terbaru Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), menunjukkan 1 dari 20 (5,5 persen) atau 2,45 juta remaja terdiagnosis mengalami masalah gangguan mental. Kemudian 1 dari 3 (34,9 persen) setara dengan 15,5 juta remaja memiliki satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Apa alasan dibalik tingginya angka remaja yang alami gangguan mental? menurut Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Margaretha, SPsi, PGDipPsych, MSc perlu dipahami dulu perbedaan antara gangguan mental dengan masalah kesehatan mental.

Seseorang bisa dikatakan mengalami gangguan mental apabila memenuhi seluruh kriteria klinis yang dimaksud sebagai gangguan. Sementara remaja yang tidak memenuhi kriteria tersebut namun memunculkan beberapa persoalan maka remaja itu memiliki masalah kesehatan mental.

"Jadi bedanya antara kita sebut sebagai gangguan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) itu kalau sudah full klinis, tapi kalau masih separuh kita sebut masalah kecemasan," ujarnya dalam situs Unair, Rabu (9/11/2022).

Menurut Margaretha, permasalahan kesehatan mental remaja harus mendapat perhatian serius. Terlebih, terjadi peningkatan jumlah masalah kesehatan mental pada remaja akibat pandemi Covid-19.

Faktor Penyebab Gangguan Kesehatan Mental Pada Remaja

1. Usia dan Stereotip

Usia remaja adalah masa transisi menuju kehidupan dewasa. Dosen psikologi klinis itu mengungkap terdapat jenis gangguan kesehatan mental yang umumnya mulai muncul pada remaja rentang usia 15 hingga 18 tahun.

Masalah ini biasanya menyangkut persoalan orientasi seksual dan gangguan kepribadian. Selain itu, terdapat pula anggapan remaja tidak memiliki masalah dibanding orang dewasa. Sehingga remaja urung mengungkapkan masalah yang mereka alami.

"Saat masa transisi memang secara khas ada pergolakan jadi kalau punya masalah tersamarkan dengan proses pergolakan tersebut. Nah, akhirnya yang benar-benar punya persoalan kesehatan mental atau gangguan kesehatan mental tidak tertolong dan berkembang menjadi masalah yang lebih berat," jelasnya.

2. Terbatasnya Layanan Kesehatan Mental

Selain faktor usia dan stereotip, remaja juga terbatas dalam mengakses layanan kesehatan mental. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan remaja pada orang tua.

Di sisi lain, banyak orang tua masih kurang peka terhadap kesehatan mental. Bahkan sampai tidak memberikan bantuan.

Solusi Gangguan Kesehatan Mental Pada Remaja

Menurut Margaretha, terdapat dua pihak yang bisa menjadi solusi gangguan kesehatan mental pada remaja, yakni:

1. Keluarga

Peran keluarga sebagai tempat perlindungan anak yang utama harus seiring dengan kesadaran dan kepedulian orang tua terhadap isu kesehatan mental remaja.

Apabila keluarga tidak mampu menjalankan peran tersebut, temuan riset I-NAMHS memaparkan sebesar 20 persen dari keluarga akan mencari bantuan di sekolah, tempat ibadah, serta komunitas.

2. Sekolah

Sekolah berperan dalam meningkatkan literasi kesehatan mental kepada pendidik, menyediakan layanan seperti pelajaran pengelolaan stres, serta merekomendasikan siswa ke pihak profesional apabila sudah di luar kemampuan.

"Kalau kita (orang tua dan pendidik) bisa membantu menurunkan jumlah remaja gangguan mental, tentu saat dewasa kita juga mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari pengobatan dan menciptakan masyarakat yang lebih produktif," pungkasnya.



Simak Video "Wanti-wanti Spesialis Kejiwaan soal Gangguan Mental"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia