ADVERTISEMENT

Mahasiswa Sulit Mengelola Emosi? Simak Tips Ampuh dari Psikolog UGM

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 06 Jun 2022 09:30 WIB
Ilustrasi Remaja Kesepian
Foto: Antranias/Pixabay/Mahasiswa Sulit Mengelola Emosi? Simak Tips Ampuh dari Psikolog UGM
Jakarta -

Emosi adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam diri manusia. Seiring bertambahnya usia, akan banyak persoalan yang dihadapi sehingga membuat emosi kerap sekali kurang bisa diatasi.

Baik emosi positif seperti perasaan antusias, bahagia, dan cinta maupun emosi negatif seperti takut, sedih, marah, kecewa, dan lainnya. Seringkali di usia awal 20-an, kontrol emosi masih kurang bisa dikendalikan.

Terkadang bisa meluapkan amarah yang meledak-ledak atau mengekspresikan kegembiraan secara berlebihan saat menghadapi sesuatu.


Pentingnya Belajar Mengelola Emosi

Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., menyampaikan bahwa setiap orang penting untuk belajar mengelola atau meregulasi emosi agar bisa terekspresikan secara wajar dan sehat.

Mengekspresikan emosi dengan pas dan tepat sehingga tidak menimbulkan efek buruk bagi diri sendiri dan orang lain.

"Emosi perlu dikelola, mengekspresikannya dengan sehat dan pas. Tidak menahan-nahan namun juga tidak meledak-ledak," terangnya dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (2/6/2022).

Ampun memaparkan bahwa untuk mengekspresikan emosi dengan tepat, ada sejumlah strategi yang bisa dilakukan. Salah satunya menahan/menekan emosi.


5 Cara Mengelola Emosi:

Psikolog UGM ini mengatakan tidak semua emosi harus diekspresikan atau dilepaskan. Namun, harus selektif dalam melepas dan menahan emosi.

"Harus pilih-pilih, kadang harus melepas dalam ukuran yang pas, tetapi kadang kala harus menahan," jelas Ampuni.

Berikut ini beberapa cara dalam mengelola emosi.


1. Melakukan pemilihan situasi

Setiap individu harus melatih diri untuk memilih akan merasakan emosi atau tidak. Misalnya, setiap melihat dialog politik di TV kita mudah tersulut amarahnya. Maka sebaiknya hal tersebut dihindari.

Semakin dewasa, manusia akan menggunakan energinya dengan tepat sehingga bisa memilih situasi kapan akan melepas emosi.

"Sebelum melakukan pemilihan situasi, kita harus punya self awareness mengenai emosi kita sendiri. Aware apa yang membuat kita marah, kecewa dan lainnya," papar Ampuni.


2. Memodifikasi lingkungan

Sebagai contoh, saat merasa galau dan sendu, maka bisa mulai mengubah keadaan sekitar yang menimbulkan emosi positif. Caranya bisa dengan menata ulang kamar agar lebih bersemangat.


3. Mengubah pola pikir

Salah satu poin terpenting adalah dengan mengubah pemikiran terhadap suatu persoalan. Misalnya, saat diputuskan pacar pasti merasa sedih. Perasaan itu alami dan biarkan tetap alami.

Namun, harus punya batasan kapan harus berhenti sedih dan kapan harus mulai move on. Cara terbaik move on adalah dengan mengubah pola pikir bahwa perpisahan akan selalu terjadi dalam hidup. Kemudian apabila akhirnya mengalami perpisahan, berarti hidup sedang mengajarkan diri untuk jadi kuat. Jadi hadapi dengan pola pikir yang baru.

"Coba pengaruhi dan ubah pikiran negatif menjadi positif/lebih optimis. Memang ini tidak mudah terlebih saat kondisi terpuruk, tetapi harus ada kemauan untuk itu," ucapnya.


4. Mengalihkan perhatian

Cara terbaik untuk mengelola emosi adalah mengalihkan perhatian. Misal dengan melihat tayangan komedi, jalan-jalan atau melakukan hobi untuk mengalihkan emosi.


5. Mengambil jarak dari emosi yang dirasakan

Hal paling mudah diekspresikan adalah rasa bahagia dan marah. Banyak orang cenderung akan berlebihan ketika bahagia dan bisa meluap-luap saat marah.

Oleh karena itu, penting untuk emosi tidak langsung diekspresikan. Misal dengan berdiam diri dulu dan lainnya.

"Mengambil jarak ini juga bisa dengan mensugesti diri, seperti hari ini aku sudah banyak emosi negatif sekarang akan memberi kesempatan tubuh dan pikiran untuk istirahat serta tidak memberi kesempatan bagi emosi negatif menguasai waktu yang ada," ungkapnya.

Ampuni menekankan bahwa mengelola emosi ini sangat penting agar tidak berdampak buruk baik bagi diri maupun orang lain dan lingkungan sekitar.

"Kita harus menjadi tuan untuk emosi kita. Kita harus bisa menguasai emosi dan biarkan kita dikuasai oleh emosi," tutur Psikolog UGM tersebut.



Simak Video "Benarkah Hancurkan Barang itu Termasuk Self Healing? "
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia