Apa yang Dimaksud dengan Genosida? Ini Penjelasan dan Contohnya

Kholida Qothrunnada - detikEdu
Jumat, 17 Des 2021 17:30 WIB
Hari Pencegahan Genosida Internasional 9 Desember, Ini Serba-serbinya
Foto: Ilustrasi (BBC World)
Jakarta -

Genosida adalah salah satu bentuk kejahatan dengan memusnahkan kelompok masyarakat tertentu secara sistematis dan disengaja.

Istilah genosida berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata "genos" yang berarti ras, suku, atau bangsa, dan kata bahasa Latin "cide" yang artinya pembunuhan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefinisikan genosida sebagai bentuk pembunuhan besar-besaran, secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras.

Dikutip dari modul PPKN Kelas Xi karya Rizanur, M.Pd, kejahatan genosida adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan, seluruh maupun sebagian kelompok bangsa, ras, etnis, maupun kelompok agama

Tindakan Genosida

Adapun kriteria tindakan-tindakan kejahatan yang termasuk genosida, antara lain:

  • Secara sengaja membunuh setiap anggota yang ada pada suatu kelompok.
  • Mengakibatkan terjadinya penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota kelompok.
  • Menciptakan kondisi kehidupan yang bisa mengakibatkan kemusnahan kelompok, baik secara fisik atau sebagiannya.
  • Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu, ke dalam kelompok yang lainya.


Kejahatan Genosida Termasuk Pelanggaran HAM Berat

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 8 Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, suatu pelanggaran HAM berat, diklasifikasikan menjadi 2 jenis, genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Genosida merupakan salah satu kejahatan yang termasuk dalam pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) berat.

Pelanggaran HAM berat yaitu pelanggaran yang bersifat berbahaya, karena mengancam nyawa manusia. Contohnya seperti kasus pembunuhan, penyanderaan, penganiayaan, perampokan, perbudakan, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri, hukuman kejahatan genosida telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 400 dan 401. Pasal tersebut menyatakan bahwa setiap orang yang melakukan genosida akan mendapatkan ancaman hukuman.
Ancaman hukumannya antara lain:

  • Pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.
  • Pidana penjara paling singkat 5 tahun, hingga paling lama 20 tahun.


Contoh Kasus Kejahatan Genosida


Melansir laman Ensiklopedia Britannica, istilah genosida diciptakan oleh seorang ahli hukum asal Polandia bernama Raphael Lemkin, yang pada saat itu menjabat sebagai penasihat departemen perang AS selama Perang Dunia II.

Meskipun begitu, praktik genosida bisa dibilang sudah terjadi sepanjang sejarah (meskipun beberapa pengamat membatasi kemunculannya pada beberapa kasus).

Berikut adalah beberapa contoh kasus kejahatan genosida yang terjadi di dunia, termasuk Indonesia:

Genosida G30SPKI

  1. Salah satu kasus genosida terbesar yang pernah terjadi di Indonesia ini, pada tanggal 30 September - 1 Oktober 1965. Kekerasan dan demonstrasi genosida ini dilakukan terhadap orang-orang yang diduga komunis, oleh tentara dan kelompok-pemuda yang didukung militer serta pemerintah. Kekerasan terjadi di daerah Aceh, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dan hingga menyebar ke seluruh tanah air. Korban jiwanya diperkirakan mencapai 500 ribu orang. Peristiwa ini juga membunuh sedikitnya 6 jenderal TNI AD dan ajudan dari AH Nasution.
  2. Genosida Rwanda

    Kampanye pembunuhan massal yang direncanakan di Rwanda, Afrika terjadi selama sekitar 100 hari pada bulan April-Juli 1994. Genosida ini digagas oleh elemen-elemen ekstremis dari mayoritas Rwanda, yakni penduduk Hutu dan penduduk Tutsi dan siapa saja yang menentang niat genosida itu.
    Lebih dari 800.000 jiwa warga sipil (terutama penduduk Tutsi), tewas selama kampanye. Selama dan setelah genosida itu, ada sekitar 2.000.000 orang penduduk Rwanda yang meninggalkan negara itu.
  3. Genosida Armenia

Kampanye deportasi ini dilakukan terhadap penduduk Armenia dari Kekaisaran Ottoman oleh pemerintah Turki musa selama Perang Dunia I berkisar 1914-1918. Kehidupan penduduk kota Armenia di Kekaisaran Ottoman, nyatanya sulit dan tidak dapat diprediksi, ditambah mereka sering diperlakukan kasar dari Kurdi yang penduduk dominan. Seringnya pengadilan dan hakim setempat memihak Muslim, menjadikan orang-orang Armenia tidak memiliki banyak jalan lain ketika mereka menjadi korban kekerasan.





Simak Video "PPATK Berharap RI Jadi Anggota FATF Tahun Depan"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia