Etnosentrisme Berkait dengan Konflik, Apa Faktor Penyebab dan Dampaknya?

Etnosentrisme Berkait dengan Konflik, Apa Faktor Penyebab dan Dampaknya?

Olivia Sabat - detikEdu
Rabu, 17 Nov 2021 13:15 WIB
Pertumpahan darah terus terjadi di Myanmar. Protes dan kerusuhan terus memanas di Myanmar usai junta militer merebut kekuasaan enam minggu lalu. Korban tewas pun berjatuhan.
Etnosentrisme dapat menimbulkan konflik (Foto ilustrasi: AP Photo)
Jakarta -

Dikutip dari Oxford Bibbliographies, etnosentrisme adalah kecenderungan melihat dunia hanya melalui sudut pandang kelompoknya sendiri. Etnosentrisme juga biasanya disertai dengan sikap serta pandangan meremehkan masyarakat lain.

Pengertian lainnya, etnosentrisme adalah sikap suatu kelompok yang merasa dirinya paling baik, paling benar, dan paling hebat dibandingkan kelompok masyarakat lain. Dengan begitu, mereka menjadikan nilai dan norma yang dimiliki sebagai dasar untuk menilai kelompok masyarakat lain.

Adapun William Graham Sumner, ilmuwan sosial Amerika Serikat yang pertama kali menggunakan istilah etnosentrisme ini pada 1906. Menurut Sumner, etnosentrisme adalah pandangan terhadap sesuatu dimana kelompok sendiri sebagai pusat dari segala sesuatu dan semua yang lain diukur dan dipandang dengan rujukan kelompoknya.

Sebenarnya berdasarkan asal katanya, etnosentrisme berasal dari bahasa Yunani ethnos dan kentro. Ethnos kemudian menjadi etnos memiliki arti suku, sedangkan kentro atau sentrisme berarti titik pusat.

Beberapa faktor penyebab yang memengaruhi munculnya etnosentrisme adalah tipe kepribadian, derajat identifikasi etnik, dan ketergantungan. Biasanya, semakin tinggi derajat identifikasi etnik, semakin tinggi juga derajat etnosentrisme yang dimiliki.


Dampak Etnosentrisme

Melansir Modul Pelatihan Guru Mata Pelajaran Sosiologi oleh Kemdikbud, etnosentrisme tidak selalu memiliki nilai negatif. Dalam hal tertentu, etnosentrisme juga memiliki nilai positif.

Dampak positif dari etnosentrisme:
1. Mendorong dan menguatkan kelompok yang sama karena kesamaan latar belakang sejarah yang sama
2. Menjaga keaslian dan keutuhan budaya sendiri
3. Meningkatkan semangat cinta atas budaya sendiri
4. Memperkuat persatuan dan kesatuan suatu kelompok

Sementara itu, dampak negatif etnosentrisme adalah:

1. Menghambat hubungan antarsuku bangsa, proses asimilasi, dan integrasi sosial.
2. Menimbulkan konflik dalam masyarakat, baik antarindividu atau antarkelompok.
3. Menimbulkan diskriminasi pada bidang tertentu.
4. Berpotensi memunculkan aliran politik tertentu.

Cara Mengatasi Etnosentrisme

Dalam Modul Pelatihan Guru Mata Pelajaran Antropologi oleh Kemdikbud, disebutkan bahwa etnosentrisme merupakan salah satu penyebab terjadinya konflik sosial budaya di Indonesia.

Maka dari itu, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah sosial budaya, yakni
1. Menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat
2. Menanamkan multikulturalisme
3. Menyaring kebudayaan yang masuk ke Indonesia sesuai dengan Pancasila
4. Menanamkan jiwa nasionalisme
5. Mengurangi fanatisme yang berlebihan
6. Bersikap toleransi
7. Menumbuhkan empati
8. Menumbuhkan sikap inklusif

Contoh dari etnosentrisme

1. Kelompok Nazi di Jerman yang menganggap ras Arya adalah ras paling unggul sehingga menimbul peristiwa genosida.

2. Konflik etnis yang terjadi di Kalimantan

3. Peristiwa kolonialisme dan imperialisme. Sepanjang era imperialisme dan penjajahan Eropa, ada kepercayaan luas bahwa penduduk asli lebih rendah atau bahkan tidak cerdas.



Simak Video "Poundsterling Terjun Bebas ke Level Terlemah Dalam 37 Tahun Terakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia