Sungai-sungai di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), justru bertambah kotor akibat sampah saat musim kemarau. Itu adalah sampah warga setempat, bukan sampah kiriman.
Jumlah sampah bahkan melonjak hingga 10 kali lipat. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mataram bahkan sampai kewalahan menangani sampah-sampah tersebut.
"Sungai kita ini sangat kotor karena kemarau. Yang saya lihat sekarang bukan sampah kiriman karena air tidak ada, ternyata (itu) sampah lokal," kata Kepala Dinas PUPR Mataram, Lale Widiahning, saat diwawancarai, Kamis (10/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lale menuturkan petugasnya kewalahan mengangkut jumlah sampah sungai yang terus bertambah setiap harinya. Akibat minimnya jumlah armada, sampah-sampah sungai tak bisa optimal diangkut petugas Dinas PUPR Mataram.
"Kami keterbatasan armada, kemudian jam pekerja kita juga mulai dari jam 8 pagi sampai 4 sore," jelas Lale.
Lalu mengungkapkan Dinas PUPR Mataram menurunkan sebanyak tujuh damp truck untuk menangani sampah sungai. Satu damp truck mampu mengangkut sampah sekitar 4 kubik.
"Damp (truck) kami ada tujuh, kalau dikali tiga rit jadi (21 rit). Dan satu damp (truck) itu biasanya membawa sampah sekitar 4 kubik. Besar jumlahnya (sekitar 20 ton lebih). Pekerja kami jadi ekstra membersihkan sampah di sungai," ungkap Lale.
Sampah yang diangkut dari sungai-sungai di Mataram diangkut petugas Dinas PUPR Mataram ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Lombok Barat. Lale bersyukur tidak ada penolakan pengiriman sampah ke TPA itu karena tidak ada alternatif tempat pembuangan lain.