Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 10.863 gempa susulan mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga pukul 12.50 Wita, Selasa (1/9/2026). Warga diminta untuk menghindari bangunan yang retak karena berpotensi ambruk.
Gempa susulan terjadi setelah gempa bumi magnitudo 7,7 menghantam Pulau Flores pada 15 Agustus lalu. Adapun, gempa susulan terbesar memiliki kekuatan M 6,2.
"Hingga tanggal 1 September 2026 pukul 11.50 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 10.863 aktivitas gempa susulan (after shock) dengan magnitudo terbesar 6,2," ujar Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, Selasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BMKG terus memonitor aktivitas gempa susulan akibat Flores Back-Ara Thrust di wilayah tersebut. Warga diimbau tetap waspada dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Menghindari dari bangunan retak atau rusak diakibatkan gempa bumi," pungkas Arief.
Diketahui, gempa bumi di Pulau Flores menyebabkan tujuh kabupaten di NTT terdampak, yakni Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Tercatat sebanyak 111 orang meninggal dunia akibat gempa dahsyat tersebut per Minggu (30/8). Sementara itu, gempa susulan diperkirakan berlangsung sekitar 3-4 pekan setelah gempa utama mengguncang.