Tiga bidan terlihat sibuk menangani seorang ibu hamil di tenda pengungsian bencana gempa bumi Barongkolong, Reo, Kecamatan Reok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sesekali mereka mengusap keringat di wajah dan leher masing-masing. Udara dalam tenda itu terasa panas.
Ibu hamil tujuh bulan itu datang dengan keluhan pusing. Dia berbaring di satu-satunya ranjang pasien di tenda yang khusus untuk perawatan ibu hamil dan persalinan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam tenda itu, tiga bidan tersebut terlihat menenangkan ibu hamil yang masih berbaring. Mereka mengajaknya ngobrol lalu memberinya segelas teh.
Tenda berwarna cokelat itu berukuran sekitar 4x7 meter. Di dalamnya disekat menggunakan terpal biru. Tenda yang nyaris selalu tertutup itu berada di tengah ratusan tenda pengungsi.
detikBali diizinkan masuk ke dalam tenda tersebut pada Kamis (27/8/2026). Waktu saat itu masih menunjukkan pukul 09.30 Wita. Masih pagi, tapi udara dalam tenda itu terasa begitu panas.
Posko Barongkolong berada di ketinggian, sekitar tujuh kilometer dari Pelabuhan Kedindi, Reo. Tak ditemukan kipas angin atau alat pendingin udara lainnya di dalam tenda itu.
detikBali harus keluar masuk tenda itu lantaran udara panas di dalamnya. Sementara, tiga bidan itu tetap bertahan dengan udara panas dalam tenda tebal tersebut.
Bidan-bidan itu bercerita udara panas dalam tenda sudah terasa sejak pagi. Mereka tetap bertahan dalam tenda tanpa alat pendingin ruangan. "Panas sejak jam 8 (pagi). Di sini memang hawa panas," ujar salah satu bidan bernama Putri Fatmawati.
Bidan-bidan itu mengaku selalu kepanasan berada dalam tenda tersebut. "Duduk begini saja kita panas," ujar bidan lain yang berdiri di samping Putri.
Bidan itu bercerita mereka bercucuran keringat terus menerus ketika berdiri selama 1-2 jam saat menangani pasien melahirkan di tenda tersebut. Bidan tersebut menggunakan istilah "keringat biji" untuk menggambarkan gumpalan keringat membasuh tubuh mereka saat menangani persalinan di tengah udara panas dalam tenda tersebut.
"Apalagi saat persalinan butuh waktu 1-2 jam. Keringat biji karena berdiri," tutur bidan tersebut.
Tiga bidan itu kompak minta disediakan kipas angin di tenda tersebut. Mereka mengaku sangat membutuhkannya. "Butuh kipas angin," ujar mereka.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena merespons curhat para bidan tersebut. Dia akan menindaklanjuti dengan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Noted. Kami lanjutkan ke BPBD," ujar Melki melalui pesan WhatsApp, Minggu (30/8/2026).