detikBali

Penjelasan Ahli soal Anak Kerbau Berkepala Dua di Manggarai Barat NTT

Terpopuler Koleksi Pilihan

Penjelasan Ahli soal Anak Kerbau Berkepala Dua di Manggarai Barat NTT


Ambrosius Ardin - detikBali

Anak kerbau kembar siam lahir dalam kondisi mari di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT, Selasa (25/8/202).
Anak kerbau kembar siam lahir dalam kondisi mari di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT, Selasa (25/8/202). (Foto: Dok pribadi Syprianus Andi)
Manggarai Barat -

Warga digegerkan dengan anak kerbau berkepala dua di Kampung Pinggong, Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak kerbau yang baru lahir itu memiliki satu badan dengan dua kepala.

Pejabat Otoritas Veteriner pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Manggarai Barat, Yanuarius Saridin, mengungkapkan kasus anak kerbau berkepala dua sangat jarang terjadi. Diketahui, anak kerbau kembar siam tersebut lahir dalam kondisi sudah mati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara ilmu kedokteran hewan, kerbau yang lahir dengan dua kepala termasuk kelainan bawaan (congenital malformation) yang sangat jarang," ungkap Yanuar, Kamis (27/8/2026).

Yanuar menjelaskan istilah yang tepat untuk kasus kelahiran anak kerbau kembar siam bergantung pada bentuk anatomisnya. Jika satu tubuh memiliki dua kepala dan dua leher, dia berujar, kondisi tersebut disebut dicephalia atau dicephalus (bicephaly).

ADVERTISEMENT

"Jika yang tampak terutama adalah duplikasi wajah pada satu kepala, istilahnya diprosopia (diprosopus)," ujar dia.

Yanuar menerangkan pada ruminansia atau hewan pemamah biak), dicephalia dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat penyatuan atau dua tengkorak dengan satu leher. Ada pula istilah iniodymus, yakni dua tengkorak yang menyatu di bagian oksipital.

Selanjutnya ada istilah derodymus atau tengkorak dan dua leher yang relatif terpisah, tetapi memiliki satu tubuh. Menurut Yanuar, kasus anak kerbau kembar siam di Manggarai Barat ini diklasifikasikan sebagai derodymus.

Secara embriologis, Yanuar menjelaskan, munculnya kasus anak kerbau kembar siam ini merupakan kelainan yang berkaitan dengan gangguan proses pembentukan dan pemisahan embrio pada fase awal perkembangan. Salah satu mekanisme yang paling banyak didukung adalah pemisahan tidak sempurna dari embrio kembar monozigot, sehingga sebagian struktur berkembang menjadi dua individu atau dua bagian tubuh, tetapi bagian lainnya tetap menyatu.

"Penelitian terbaru pada sapi dan kerbau menunjukkan bahwa beberapa kasus dicephalia dan diprosopia mempunyai asal monozigot, berdasarkan pemeriksaan molekuler yang menunjukkan kedua kepala memiliki profil genetik yang sama," jelas Yanuar.

Ia menegaskan kelahiran anak kerbau kembar siam belum tentu karena faktor keturunan. Penyebab kelainan bawaan pada fetus sapi atau kerbau dapat dikelompokkan secara umum menjadi faktor genetik/herediter. Misalkan gangguan perkembangan embrio, gangguan nutrisi tertentu, infeksi selama kebuntingan, dan faktor lingkungan lainnya.

Khusus untuk kasus kerbau berkepala dua kepala, Yanuar menyebut penyebab pasti sering tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pemeriksaan luar. Bahkan pada beberapa laporan kasus sapi, pemeriksaan tidak menemukan penyebab etiologis yang pasti.

"Karena itu, tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa kerbau tersebut pasti hasil perkawinan sedarah atau pasti karena kelainan genetik tanpa pemeriksaan lebih lanjut," tegas dia.

Yanuar lantas menjelaskan penyebab induk kerbau kesulitan melahirkan anak kembar siam tersebut. Menurut dia, kepala fetus merupakan bagian yang paling besar dan keras. Jika terdapat dua kepala, diameter bagian depan fetus menjadi jauh lebih besar dan bentuknya tidak normal.

"Akibatnya fetus dapat mengalami distokia (kesulitan melahirkan) karena kedua kepala tidak dapat melewati jalan lahir secara normal. Risiko distokia meningkat seiring semakin lengkapnya duplikasi kepala," kata Yanuar.

Anak kerbau kembar siam, dia melanjutkan, memiliki peluang hidup yang kecil. Ia menyebut banyak kasus anak ternak kembar mati sebelum lahir.

"Prognosis umumnya sangat buruk, terutama bila terdapat kelainan pada otak, jantung, saluran pernapasan, atau organ vital lainnya. Banyak kasus polycephaly/dicephalia pada ruminansia dilaporkan lahir mati atau mati tidak lama setelah kelahiran," jelas Yanuar.

Yanuar menjelaskan jika kejadian berulang pada induk yang sama atau pada garis keturunan tertentu, aspek genetik perlu mendapat perhatian lebih serius. Literatur veteriner menunjukkan adanya kelainan fetus sapi yang bersifat herediter, walaupun tidak semua kelainan kongenital bersifat genetik.

"Penyebab spesifik pada satu kasus tidak dapat dipastikan hanya dari bentuk luar dan perlu pemeriksaan veteriner/patologi untuk menentukan tipe serta kemungkinan faktor penyebabnya," pungkasnya.

Anak Kerbau Berkepala Dua

Sebelumnya, kasus kelahiran anak kerbau berkepala dua terjadi di Kampung Pinggong, Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, Selasa (25/8). Proses kelahiran kerbau kembar siam itu dibantu tim Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Sano Nggoang.

"Kami ke TKP, dengan kondisi anak kerbau sudah mati, posisi awal kami coba sesuaikan dengan kondisinya, suntik hormon perangsang, setelah itu sambil rogoh dan tarik pelan, tapi tidak bisa," ungkap koordinator Puskeswan Kecamatan Sano Nggoang, Syprianus Andi, Kamis (27/8).

Syprianus kemudian memastikan anak kerbau itu kembar setelah ditemukan telinga berbeda pada kepala dengan posisi salah satu kepala menutup jalan lahir. Menurut dia, proses melahirkan anak kerbau kembar siam itu cukup rumit. Petugas Puskeswan memotong leher salah satu kepala anak kerbau tersebut.

"Melalui pertimbangan dengan pemilik, kami lakukan pemotongan leher (fetotomi). Ketika kepala sudah terpotong, dengan sendirinya kepala kembaran putar pada posisi normal, dan akhirnya bisa keluar," jelas Syprianus.

"Prosesnya agak rumit dan berisiko dengan peralatan apa adanya," tandas dia.



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads