Puluhan pengungsi gempa bumi di Reo, Kecamatan Reok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai terserang diare. Mereka adalah pengungsi mandiri yang tinggal di tenda-tenda darurat di halaman rumah hingga emperan jalan.
Camat Reok, Rita Udin, mengungkapkan para pengungsi yang terserang diare datang berobat ke posko pengungsian di Barongkolong, Reo. Menurutnya, sudah puluhan warga datang ke posko pengungsian itu dengan keluhan diare.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada 31 kasus diare. Pasien datang berobat dari posko-posko mandiri," kata Udin, Jumat (21/8/2026).
Udin mengatakan korban terserang diare itu umumnya anak-anak. Tenaga kesehatan di posko Barongkolong memperbolehkan para pengungsi pulang setelah memberikan obat diare.
Di sisi lain, Udin menyebut posko pengungsian Barongkolong saat ini memerlukan toilet portabel. Sebab, sebanyak 1.524 korban gempa bumi yang mengungsi di posko tersebut hanya dilayani satu toilet portabel. Sedangkan, dua toilet portabel lainnya di lokasi itu tidak beroperasi.
"Toilet memang terbatas. Banyak pengungsi, agak repot," ungkap Udin.
Menurut dia, sejumlah pengungsi terpaksa kembali ke rumah masing-masing saat membutuhkan toilet. Padahal, gempa susulan masih kerap terjadi di wilayah tersebut.
Diketahui, Reo adalah salah satu wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu. Puluhan orang meninggal dunia di wilayah yang berada di pesisir pantai utara Flores tersebut. Selain korban jiwa, banyak rumah dan bangunan lainnya di daerah itu hancur akibat gempa dahsyat tersebut.
(iws/iws)