Empat gedung sekolah dasar (SD) kosong setelah dilakukan penggabungan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Mataram. Gedung-gedung yang kosong akan dijadikan sebagai aset daerah, ada juga yang bakal dialihfungsikan.
Kepala Disdik Mataram, Yusuf, menuturkan seluruh aset bangunan sekolah yang terdampak merger bakal diserahkan kembali kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram. Alih fungsi gedung akan ditentukan Pemkot Mataram.
"Semua siswa kan sudah kami distribusikan, hari ini para gurunya mulai kami distribusikan. Untuk gedung sekolah yang kosong akan kami serahkan ke kota untuk jadi aset," kata Yusuf, saat diwawancarai, Kamis (23/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuf mengungkapkan salah satu dari empat gedung sekolah yang resmi ditutup, yakni SDN 19 Mataram, akan dialih fungsikan menjadi pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Sementara gedung lain dalam tahap pembahasan Pemkot Mataram.
Sementara gedung SDN 41 Cakranegara akan dimanfaatkan sementara sebagai ruang kelas tambahan bagi SDN 10 Mataram. "Ruangannya akan digunakan sementara dahulu karena mereka ada yang masuk siang dan sebagian masuk pagi," terang Yusuf.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Disdik Mataram, Syarafudin, menjelaskan ada delapan SD yang telah digabung. Rinciannya, SDN 1 Cakranegara digabung dengan SDN 10 Cakranegara; SDN 36 Ampenan dengan SDN 20 Ampenan; SDN 11 Ampenan dengan SDN 14 Ampenan; serta SDN 15 Mataram dengan SDN 19 Mataram.
Akibat penggabungan delapan sekolah, Syarafudin mengungkapkan ada empat bangunan sekolah yang tidak lagi digunakan untuk aktivitas belajar mengajar. Ia memastikan seluruh aset bangunan tersebut akan dikembalikan pengelolaannya kepada Pemkot Mataram.
"Itu (bangunan) dikosongkan, dan akan diserahkan ke Pemkot. Nanti mau difungsikan untuk apa, akan dibicarakan lebih lanjut," ungkap Syarafudin.
Terkait tenaga pendidik, Disdik Mataram memastikan tidak ada penumpukan maupun rangkap tugas di satu sekolah utama. Para guru akan didistribusikan secara merata ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. "Ndak ada guru yang double," jelas Syarafudin.
(hsa/hsa)