Sebagai bentuk komitmen dalam mengurangi emisi karbon dan pelestarian lingkungan, PT Freeport Indonesia (PTFI) melakukan penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Labuhan Alas, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). NTB menjadi wilayah dengan luasan penanaman mangrove terbesar di luar Papua.
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengatakan penanaman mangrove dilakukan sebagai komitmen perusahaan dalam menjaga lingkungan. Penanaman mangrove ini juga dihajatkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan juga menurunkan emisi karbon.
"Dalam operasionalnya kita tentu saja tidak semata-mata hanya produksi yang dipikirkan, tapi lebih juga kepada soal lingkungan khususnya terlebih khusus lagi adalah soal perubahan iklim dan menurunkan emisi karbon secara menyeluruh," kata Tony, Selasa (7/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PTFI menargetkan penanaman mangrove seluas 10 ribu hektare di Papua dan 2 ribu hektare di luar Papua. Dari target tersebut, NTB menjadi wilayah dengan areal penanaman terbesar di luar Papua. Hingga saat ini, PTFI telah merealisasikan penanaman mangrove di NTB seluas 484 hektare. Dengan rincian, 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Kabupaten Lombok Timur.
"Program penanaman di NTB ini merupakan bagian dari rencana besar kami dalam mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan penyerapan karbon," kata Tony.
Ia menjelaskan, NTB dipilih sebagai lokasi utama penanaman mangrove di luar papua dikarenakan kawasan tersebut sangat mendukung bagi ekosistem pertumbuhan mangrove. Tony menilai NTB memiliki potensi untuk pengembangan tanaman mangrove selain Papua.
"Kami melakukan kajian di berbagai daerah seperti Kalimantan Timur, Bangka Belitung hingga Pulau Jawa. Hasilnya, NTB memiliki potensi yang sangat besar karena kondisi alam dan ekosistemnya sangat sesuai untuk pengembangan mangrove," jelasnya.
Penanaman mangrove PT Freeport Indonesia di Desa Labuhan Alas, Kecamatan Alas, Sumbawa, NTB Foto: Freeport |
Tony menambahkan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga tingkat keberhasilan tumbuhnya mangrove. Berdasarkan hasil pemantauan, tingkat keberhasilan atau survival rate penanaman mangrove Freeport mencapai sekitar 90 persen, baik di Papua maupun di NTB.
"Setelah ditanam, kami terus melakukan pemantauan hingga mangrove tumbuh dengan baik. Kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah, akademisi, dan para ahli untuk memastikan keberhasilan program ini," ujarnya.
Gerakan pemulihan ekosistem laut melalui penanaman mangrove ini disambut baik oleh Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat. Ia menyebut hal ini merupakan tanggung jawab semua kalangan.
"Gerakan untuk menanam mangrove ini sudah termasuk gerakan nasional, semua pihak, semua organisasi, bisnis maupun non bisnis semuanya memiliki tanggungjawab untuk memperbaiki alam kita salah satunya melalui penanaman mangrove, kami sangat menyambut baik gerakan ini," ucap Jumhur.
Menurut Jumhur, tanaman mangrove memiliki daya serap emisi karbon 5 kali lebih tinggi daripada mohon bisa. Selain itu, tanaman ini nantinya bisa berdampak terhadap makhluk laut dan ekonomi masyarakat.
"Perlu diketahui bahwa daya serap emisi karbon sekitar 4 sampai 5 kali dari pohon biasa. Jadi betul-betul memang sangat diperlukan, itu bisa menjadi tempat ikan, kerang, dan juga bisa menjadi ekowisata. Banyak sekali kegiatan ekonomi yang bisa dihasilkan," kata Jumhur.
