detikBali

Bupati Flores Timur Tak Mau Biayai Pengobatan Korban Bentrok di Adonara

Terpopuler Koleksi Pilihan

Bupati Flores Timur Tak Mau Biayai Pengobatan Korban Bentrok di Adonara


Yurgo Purab - detikBali

Bentrokan antardesa kembali pecah di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (9/5/2026). (Istimewa)
Foto: Bentrokan antardesa kembali pecah di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (9/5/2026). (Istimewa)
Flores Timur -

Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen buka suara terkait bentrok antarwarga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak, Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Antonius menegaskan pemerintah tidak akan menanggung biaya pengobatan korban bentrokan antardesa itu.

"Kami tegas tidak membiayai pengobatan akibat perang. Pembuat keputusan perang harus gentleman menanggung segala biaya," kata Anton saat dikonfirmasi detikBali, Senin (11/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menilai konflik tersebut telah merugikan daerah, termasuk karena pemerintah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan aparat keamanan. Karena itu, menurutnya, pemerintah desa juga harus ikut bertanggung jawab dalam menjaga situasi keamanan di wilayah masing-masing. Anton bahkan menyebut pemerintah daerah dapat memotong Alokasi Dana Desa (ADD) apabila biaya pengobatan korban nantinya ditanggung lebih dulu oleh pemerintah.

"Perang sudah buat rugi daerah, karena membiayai konsumsi aparat keamanan. Maka demi keadilan, kami tidak membiayai pengobatan korban perang. Kalau berutang, kami akan potong alokasi Dana Desa. Pemerintah Desa harus bertanggung jawab atas urusan keamanan. Kalau cinta Lewotana Flores Timur, stop perang," tegas Anton.

ADVERTISEMENT

Ia turut mengimbau masyarakat menghentikan budaya perang sebagai cara menyelesaikan persoalan. Menurutnya, bentrokan hanya membawa kerugian dan penderitaan bagi warga.

"Perang hanya bikin susah. Harga diri Lewo (kampung) tidak perlu lagi ditunjukkan melalui keperkasaan perang," imbuhnya.

Anton menilai konflik antarkampung dalam beberapa dekade terakhir tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan, termasuk sengketa tanah. Ia juga menyoroti perubahan makna perang adat yang dinilai sudah jauh berbeda dibanding masa lalu.

"Perang akhir-akhir ini adalah perang yang semrawut. Berbeda dengan perang adat murni pada masa lampau yang ditujukan untuk mencari kebenaran," terangnya.

Untuk mencegah konflik serupa terulang, Antonius mendorong penyelesaian masalah melalui dialog dan komunikasi antarmasyarakat. Ia meminta warga lebih bijak mengelola emosi demi menjaga masa depan generasi berikutnya.

"Lebih baik omong baik-baik. Harus ada budaya omong, dialog. Harus ada kecerdasan mengelola emosi. Jika tidak, kita mewariskan sesuatu yang sangat buruk buat generasi masa depan kita," tandasnya.

Sebelumnya, korban bentrokan antara Desa Narasaosina dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, bertambah menjadi tujuh orang. Catatan sebelumnya, ada enam orang korban akibat bentrokan itu.

Satu korban tambahan bernama Fildan Ahmad, warga Desa Bele. Pria berusia 24 tahun itu sudah rujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba, Lembata, NTT, Minggu pagi (10/5/2026).

"Masuk tadi pagi pukul 06.40 Wita. Ada luka di dahi. Pasien kami rujuk ke Lembata tadi pukul 09.45 Wita lewat Pelabuhan Boleng," kata Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stef, kepada detikBali.




(nor/nor)










Hide Ads