detikBali

Gubernur Iqbal Optimistis Entaskan Kemiskinan di Bumi Gora

Terpopuler Koleksi Pilihan

Gubernur Iqbal Optimistis Entaskan Kemiskinan di Bumi Gora


Ahmad Viqi - detikBali

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat menghadiri rapat paripurna di DPRD NTB, Senin (30/3/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat menghadiri rapat paripurna di DPRD NTB, Senin (30/3/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)
Mataram -

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal optimistis bisa mengentaskan kemiskinan di Bumi Gora. Iqbal mengatakan dalam satu tahun kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri telah berhasil melunaskan utang daerah senilai Rp 280 miliar yang bersumber dari Silpa dan BTT.

"Kita berhasil mengelola keuangan yang kita miliki. Kita bisa memasuki tahun 2026 tanpa satu sen pun utang. Kalaupun ada utang, adalah utang di PT SMI yang memang itu adalah utang yang direncanakan," ujar Iqbal saat paripurna di DPRD NTB, Selasa (31/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iqbal meyakini kemiskinan di NTB dapat berkurang di akhir masa kepemimpinannya pada 2029. Saat ini, persentase kemiskinan di NTB masih berada pada 11 persen.

ADVERTISEMENT

Setelah melunaskan utang yang menjadi beban pada awal kepemimpinan Iqbal-Dinda, kini anggaran daerah dapat lebih difokuskan pada tiga agenda utama. Mulai dari program pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan penguatan sektor pariwisata.

Salah satu program unggulan sebagai motor penggerak ekonomi NTB adalah Desa Berdaya. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga NTB dari tingkat desa miskin ekstrem.

Iqbal membeberkan angka kemiskinan NTB tercatat sebesar 11,38 persen per September 2025. Angka tersebut turun dibandingkan Maret 2025 sebesar 11,78 persen. Ia menyebut capaian ini bahkan melampaui target nasional yang berada di kisaran 11,68-12,18 persen.

Meski sempat mengalami minus pada triwulan pertama tahun 2025, NTB mencatat pertumbuhan sebesar 3,22 persen pada sektor tambang dan 8,33 persen tanpa sektor tambang. Sektor pariwisata juga tumbuh lebih dari 7 persen, sementara sektor pertanian mendekati target dengan capaian 5,33 persen.

"Nilai tukar petani NTB juga mengalami peningkatan signifikan, menjadi salah satu yang tertinggi secara nasional," kata Iqbal.

Kontribusi ekonomi NTB terhadap nasional mencapai 0,84 persen, sementara industri pengolahan meningkat signifikan menjadi 6,69 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB juga naik menjadi 73,97 poin dengan kategori tinggi. Kemudian, tingkat pengangguran terbuka berada di angka 3,05 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional.

Capaian Satu Tahun Kepemimpinan Iqbal-Dinda

Sebelumnya, Iqbal menyampaikan capaian kinerja selama satu tahun kepemimpinannya. Iqbal mengungkapkan realisasi pendapatan daerah pada tahun anggaran 2025 mencapai Rp 6,476 triliun atau 99,79 persen dari target sebesar Rp 6,498 triliun. Meski hampir memenuhi target, angka tersebut mengalami penurunan sebesar 2,19 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 yang mencapai Rp 6,621 triliun.

"Pendapatan daerah pada tahun anggaran 2025 terealisasi sebesar Rp 6,476 triliun atau 99,79 persen dari target Rp6,498 triliun dan menurun sebesar 2,19 persen dari realisasi tahun 2024 sebesar Rp 6,621 triliun," ujar Iqbal.

Dari sisi komponennya, pendapatan asli daerah (PAD) terealisasi sebesar Rp 2,759 triliun atau 98,21 persen dari target Rp 2,809 triliun. Realisasi ini juga mengalami penurunan sebesar 5,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,910 triliun.

Sementara itu, pendapatan dari dana transfer terealisasi sebesar Rp 3,537 triliun atau melampaui target Rp 3,498 triliun. Adapun lain-lain pendapatan daerah yang sah tercatat sebesar Rp 179,71 miliar atau 99,79 persen dari target Rp 182,05 miliar. Namun mengalami penurunan signifikan sebesar 53,19 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp 383,92 miliar.

Di sisi belanja, Pemprov NTB mengalokasikan anggaran sebesar Rp 6,497 triliun pada tahun 2025, dengan realisasi mencapai Rp 6,051 triliun atau 93,14 persen Belanja tersebut terdiri dari belanja operasional sebesar Rp 4,569 triliun atau 92,37 persen dari target Rp 5,055 triliun.

Kemudian belanja modal terealisasi sebesar Rp 536,12 miliar atau 91,19 persen dari target Rp 587,93 miliar. Sementara belanja transfer terealisasi penuh sebesar Rp 841,75 miliar atau 100 persen dari target yang ditetapkan. Selain itu, terdapat belanja tidak terduga yang terealisasi sebesar Rp 4,008 miliar.

Menurut Iqbal, penurunan pendapatan daerah menjadi perhatian pemerintah daerah. Ia mendorong adanya dukungan dari DPRD NTB untuk mempercepat pengesahan revisi peraturan daerah (Perda) terkait pajak dan retribusi sebagai salah satu langkah strategis peningkatan pendapatan.

"Terkait dengan pendapatan ini, pada kesempatan ini kami memohon dukungan dari seluruh pimpinan dan seluruh anggota dewan untuk dapat melakukan percepatan revisi perda mengenai retribusi, karena ini sangat penting bagi kita dalam rangka meningkatkan pendapatan," kata Iqbal.




(iws/iws)










Hide Ads