Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 25 Agustus 2026. Maulid Nabi bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal.
Berikut sejarah Maulid Nabi yang dilansir dari berbagai sumber.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Maulid Nabi
Menurut buku Sejarah Maulid Nabi yang dicatat oleh Ahmad Sauri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dikenal oleh masyarakat muslim Arab setidaknya sejak tahun kedua hijriyah. Namun, ada pula yang meyakini peringatan Maulid Nabi telah ada sejak zaman Rasulullah.
Maulid Nabi diperingati setiap 12 Rabiul Awal sebagai hari lahir Nabi Muhammad SAW. Rasulullah lahir di Mekkah pada Senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah 570 Masehi. Pada tahun itu, Raja Habasyah mengirimkan pasukan tentara serta para gajah untuk meruntuhkan Ka'bah. Lalu Allah SWT menghancurkan pasukan tersebut, karena memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam catatan yang sama, dijelaskan juga bahwa seseorang bernama Khaizuran yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa Al-Hadi dan Al-Rasyid datang ke Madinah dan memperintahkan penduduk untuk mengadakan perayaan kelahiran Rasulullah SAW di Masjid Nabawi.
Khaizuran juga pergi ke Mekkah untuk melakukan perintah yang sama untuk merayakan kelahiran Rasulullah. Jika di Madinah bertempat di masjid, penduduk Mekkah diminta untuk merayakan Maulid Nabi di rumah mereka masing-masing.
Tradisi di Indonesia
Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan berbagai ekspresi dan kegiatan. Misalnya, masyarakat Jawa merayakan Maulid dengan membaca Manakib Nabi Muhammad dan Kibat Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba', Saroful Anam, Burdah dan lain-lain.
Setelah membaca Manakib Nabi Muhammad, masyarakat biasanya menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara kolektif dari warga. Masyarakat muslim di Indonesia mensyukuri atas teladan, jalan hidup dan tuntutan yang dibawa oleh Rasulullah.
Di Sulawesi Selatan merayakan Maulid dengan cara yang unik yang dinamakan Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Bahkan dirayakan lebih ramai daripada hari raya Idul Fitri.
Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk merefleksika diri sekaligus meneladani sifat rasul. Peringatan Maulid Nabi di Indonesia juga tidak lepas dari pengaruh Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Nusantara.
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia mulai dikembangkan oleh Wali Songo sekitar tahun 1404 Masehi. Tujuannya saat itu ingin menarik hari masyarakat Jawa agar mau memeluk agama Islam.
Maulid Nabi di Indonesia juga dikenal dengan perayaan Syahadatain Kraton Trah Mataram Islam yang masih menajga tradisi Maulid Nabi dengan menggelar perayaan Grebeg Maulud karena tradisi masyarakat merayakan Maulid Nabi dengan cara menggelar upacara nasi gunungan.