detikBali

Gunung Tambora Naik Status Jadi Waspada

Terpopuler Koleksi Pilihan

Gunung Tambora Naik Status Jadi Waspada


Rafiin - detikBali

Kemenparekraf menghapus gelaran Tambora Menyapa Dunia dari lis Kharisma Event Nusantara (KEN), karena dianggap sepi peminat dan menguras anggaran.
Foto: Pemandangan Gunung Tambora. (Dok. detikBali)
Bima -

Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat (NTB) dari Level I (normal) menjadi Level II (waspada). Warga diminta untuk tak beraktivitas di dalam radius 3 kilometer (km) dari pusat gunung.

Kenaikan aktivitas gunung Tambora dari level normal menjadi waspada berdasarkan laporan khusus nomor : 525 ..Lap /GL.03/BGL/2026 yang dikeluarkan Badan Geologi Kementerian ESDM.

"Gunungapi Tambora secara administratif berada di wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, NTB, menunjukkan terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik," kata Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangannya diterima detikBali, Selasa (10/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lana menjelaskan peningkatan aktivitas ini terutama ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah kejadian kegempaan yang berasosiasi dengan proses pergerakan magma dari kedalaman menuju kantong magma di bawah tubuh gunung api. Berdasarkan data pemantauan kegempaan, pada Januari 2026 tercatat ada 267 kejadian gempa vulkanik dalam (VA).

ADVERTISEMENT

"Pada bulan Februari 2026 jumlah kejadian gempa vulkanik dalam meningkat cukup signifikan menjadi 453 kejadian," jelas dia.

Peningkatan jumlah gempa vulkanik dalam ini, lanjut dia, mengindikasikan adanya peningkatan tekanan fluida magmatik serta suplai magma dari kedalaman menuju sistem magma yang lebih dangkal di bawah Gunung Tambora. Data kegempaan pada periode 1-9 Maret 2026 juga menunjukkan aktivitas seismik yang
masih cukup intensif.

"Selama periode ini tercatat 9 kejadian gempa guguran, 88 kejadian gempa vulkanik dalam, 40 kejadian gempa tektonik lokal, serta 24 kejadian gempa tektonik jauh," beber Lana.

Menurut dia, dominasi gempa vulkanik dalam menunjukkan bahwa proses dinamika magmatik di bawah tubuh gunungapi masih berlangsung dan berpotensi memicu peningkatan aktivitas pada periode selanjutnya. Secara visual, kondisi puncak Gunung Tambora umumnya teramati jelas hingga tertutup kabut, dengan asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan," ungkapnya.

"Kondisi cuaca di sekitar gunung bervariasi dari cerah hingga hujan, dengan arah angin bertiup lemah hingga kencang menuju berbagai arah. "Suhu udara di sekitar gunung berkisar antara 23-33°C," Akun dia.

Berdasarkan hasil evaluasi data visual dan instrumental, khususnya data kegempaan yang menunjukkan peningkatan signifikan pada gempa vulkanik dalam, maka tingkat aktivitas Gunung Tambora dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) terhitung mulai 10 Maret 2026.

"Sehubungan dengan kenaikan tingkat aktivitas masyarakat di sekitar Gunung Tambora serta pengunjung atau wisatawan direkomendasikan untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari pusat gunung," terang Lana.

Selain itu, masyarakat juga tidak diperbolehkan turun ke dasar kaldera, tidak mendekati kerucut parasit Doro Afi Toi maupun Doro Afi Bou, serta tidak mendekati lubang-lubang tembusan gas yang terdapat di dasar kaldera.

"Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran batuan pada tebing dan dinding kaldera, yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat ketidakstabilan lereng," tambah Lana.




(hsa/hsa)










Hide Ads