Dhani Aditya Saputra tak pernah menyangka langkahnya menuju Tanah Suci dimulai sejak usia remaja. Di usianya yang baru 17 tahun, siswa SMA asal Denpasar, Bali, itu kini bersiap menunaikan ibadah haji-sebuah perjalanan panjang yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semua berawal saat ia masih duduk di bangku SMP. Tanpa banyak bicara, sang ibu diam-diam mendaftarkan namanya sebagai calon jemaah haji. Dhani mengaku baru mengetahui hal itu belakangan.
Memasuki masa SMA, ia mulai diajak mengurus berbagai persyaratan. Dari foto hingga administrasi, semua dijalani bersama ibunya. Dari situlah Dhani perlahan memahami bahwa ia benar-benar akan berangkat ke Tanah Suci.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya berdua sama ibu karena bapak belum siap juga untuk berangkat, makanya saya yang anak laki pertama yang diajak berangkat," kata Dhani ditemui usai pelepasan calon jemaah haji di Kantor Gubernur Bali, Sabtu (25/4/2026).
Perjalanan menuju haji bukan hanya soal keberangkatan. Bagi Dhani, ini juga soal proses belajar dan menyiapkan diri. Ia mulai memperdalam pengetahuan tentang haji, mengikuti berbagai materi, hingga menjaga kondisi fisik.
Rutinitasnya berubah. Pola makan dijaga, aktivitas diatur, dan olahraga menjadi bagian penting dari kesehariannya. Semua dilakukan agar tubuh dan mentalnya siap menghadapi ibadah yang berlangsung cukup lama.
"Untuk awal-awal kaget ya karena kan dengar-dengar haji itu kan selama di sana itu tidak sebentar, tidak seperti umrah. Mungkin umrah itu seminggu hampir dua minggu, nah kalau haji kan lama sampai 40 hari, kaget kan," bebernya.
Yang membuat perjalanan ini terasa semakin istimewa, Dhani bahkan belum pernah menjalani umrah sebelumnya. Ini akan menjadi kali pertama ia menginjakkan kaki di Mekkah.
Di balik segala persiapan itu, harapan sederhana ia panjatkan: kesehatan dan kebersamaan dengan sang ibu selama menjalani ibadah.
"Untuk mama sehat-sehat kita beribadah bersama, jaga kondisi fisik, panjang umur pokoknya," ungkap Dhani.
Langkah Dhani menuju Tanah Suci juga diiringi doa dari orang-orang terdekat. Teman-teman sekolahnya ikut memberi dukungan. Tak sedikit pula yang menitipkan harapan agar suatu hari bisa menyusul ke Tanah Suci.
Dhani mungkin bukan yang termuda dalam rombongan calon jemaah haji asal Bali. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Bali, Mahmudi, menyebut ada calon jemaah berusia 14 tahun dari Tabanan. Namun, ia tidak hadir dalam acara pelepasan karena masih berada di pondok pesantren.
Di sisi lain, ada pula kisah dari generasi yang lebih tua. Calon jemaah haji tertua berusia 88 tahun, Mursyidun Nadrah asal Buleleng, juga tidak hadir karena jarak dan kondisi yang tidak memungkinkan.
"Karena jauh jadi nggak hadir, diwakili oleh jemaah haji kita yang sudah sepuh juga di usia 84 tahun atas nama Bu Kartini dan tadi yang termuda umur 14 tahun," beber Mahmudi.
(dpw/dpw)










































