Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram akan membangun 52 unit tempah dedoro di 18 pasar tradisional. Hal ini dilakukan untuk mengatasi penumpukan sampah organik setelah adanya pembatasan ritase di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Lombok Barat, sejak Desember 2025.
"Program tempah dedoro ini harus cepat dilaksanakan. Semua pasar diminta untuk membuat tempat dedoro. Rencananya akan bangun 52 unit di 18 pasar," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mataram, Nizar Denny Cahyadi, Selasa (27/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tempah dedoro merupakan metode pengolahan sampah organik menggunakan buis beton yang ditanam di tanah serta dilengkapi penutup. Menurut Nizar, pembangunan 52 unit tempah dedoro akan dilakukan pekan ini.
Nizar menuturkan tempah dedoro seharusnya dibangun di 19 pasar tradisional di Mataram. Namun, khusus Pasar Karang Jasi, terkendala lahan yang sempit. Menurutnya, sampah organik yang ditampung pada tempah dedoro memiliki masa simpan 5-6 bulan.
"Kalau untuk pasar, masa simpan sampah organiknya bisa 2-3 bulan. Itu sudah penuh. Nanti kalau sudah penuh, sampahnya akan jadi pupuk," ujar Nizar.
Nizar berharap sampah organik yang dikirim ke TPS bisa berkurang dengan tersedianya tempah dedoro di 18 pasar tradisional. "Tidak muluk-muluk, setidaknya kami bisa mengurangi 30 persen saja sampah organik di Kota Mataram. Itu sudah bagus sekali," imbuhnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, mengatakan Pemkot Mataram berencana menganggarkan sekitar Rp 8 miliar untuk membangun tempah dedoro di setiap lingkungan. Menurutnya, jika masa simpan sampah organik di 18 pasar sudah penuh, maka perwakilan pasar bisa meminta untuk mengangkat agar tempah dedoro bisa segera dikosongkan.
"Nanti satgas yang akan mengangkatnya. Jadi masyarakat tidak perlu susah-susah, tidak perlu khawatir siapa yang akan tempah dedoronya nanti," kata Alwan, Selasa.
"Diameter tempah dedoro sekitar 50-60 sentimeter (cm), sedangkan kedalamannya 1,5 meter sampai 2,5 meter," imbuhnya.