Masyarakat adat di setiap daerah memiliki bangunan tradisional dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masing-masing. Bangunan ini mencerminkan keragaman arsitektur yang diwariskan oleh para leluhur.
Demikian halnya masyarakat adat di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki rumah adat Lopo. Bagi masyarakat setempat, rumah adat Lopo tak sekadar bangunan. Melainkan ruang kultural sekaligus tempat untuk menyemai inti dari demokrasi yang paling hakiki: musyawarah.
Simak bentuk, fungsi, hingga aspek sosial kemasyarakatan rumah adat Lopo bagi masyarakat Timor, NTT, seperti dirangkum detikBali berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana Bentuk Rumah Adat Lopo?
Lopo merupakan bangunan berbentuk bulat kerucut dengan atap jerami. Rumah adat Lopo tidak memiliki dinding dan dibangun di halaman rumah masyarakat Timor.
Rumah adat Lopo memiliki empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu. Masing-masing tiang memiliki panjang sekitar 3 meter.
Perhitungan ini didasarkan pada etnomatematika masyarakat yang menggunakan lima jengkal tangan orang dewasa setara dengan 1 meter. Biasanya, tiang-tiang pada rumah adat Lopo dibuat menggunakan kayu akasia.
Lopo tidak berlantai dan hanya beralaskan tanah. Bagian bawah Lopo dilingkari batu-batu yang menjadi penanda batas bangunan.
Selain empat tiang penyangga di ruang bawah, terdapat satu tiang di bagian atas yang disebut ni enaf atau tiang perempuan yang menopang atap. Bahan atap biasanya menggunakan alang-alang atau ijuk. Meski kini telah ada yang menggunakan bahan seng sebagai pengganti ijuk.
Fungsi Sosial hingga Ruang Demokrasi
Mayoritas masyarakat Timor bergerak di bidang agraris. Ruang atas Lopo digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil atau barang berharga agar terhindar dari serangan hewan seperti tikus.
Stok hasil panen yang disimpan di Lopo dapat bertahan lama. Pangan yang tersimpan di bangunan itu menjadi persediaan ketika musim kemarau tiba.
Selain itu, ruang atas Lopo juga hanya dapat dimasuki oleh kaum perempuan. Sebab, masyarakat Timor menganggap perempuan memiliki tanggung jawab atas peran domestik, termasuk penyediaan logistik makanan.
Perkumpulan masyarakat dan musyawarah adat ketika terjadi masalah juga hampir selalu dilakukan di Lopo. Seorang pemimpin akan duduk di sisi timur Lopo dan berada lebih tinggi dari warga lainnya.
Meski pemimpin memiliki posisi yang lebih tinggi, semua peserta yang hadir dalam pertemuan memiliki suara dan kesempatan mengutarakan pendapat yang sama. Kesetaraan dalam bermusyawarah ini menjadi bentuk demokrasi sederhana yang diterapkan oleh masyarakat Timor.
Keberadaan Lopo yang tanpa dinding menjadi cermin keterbukaan masyarakat dalam berdemokrasi. Lopo menjadi tempat untuk bermusyawarah maupun menerima tamu yang datang berkunjung.
(iws/iws)










































