Lima mahasiswa yang merusak gerbang Kantor Bupati Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), disidang. Puluhan mahasiswa mengawal proses persidangan itu dengan berunjuk rasa di depan PN Dompu.
Dalam demonstrasi tersebut, para mahasiswa berorasi, menggalang petisi, dan mengumpulkan 6.000 koin.
"Lima saudara kita sedang diadili, saudara kita dijadikan kambing hitam," kata salah seorang mahasiswa, Haerudin, dalam orasinya, Kamis (1/8/2024).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haerudin mengungkapkan lima rekan mereka itu ditetapkan sebagai tersangka kasus perusakan ketika berunjuk rasa menuntut kenaikan harga jagung dan air bersih pada 22 Mei 2024.Mereka dilaporkan ke polisi oleh Pemkab Dompu.
"Kami menuntut keadilan dengan mengumpulkan 6 ribu koin dan tanda tangan petisi. Mereka ini murni memperjuangkan nasib petani, memperjuangkan harga jagung," teriaknya di atas mobil pengeras suara," katanya.
"Kami akan terus mengikuti proses sidang, sampai saudara-saudara kami mendapatkan keadilan," sambungnya.
Rekan mahasiswa lainnya Yusuf, mengatakan, aksi perusakan terjadi karena mahasiswa kecewa dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Dompu Gatot Gunawan Perantauan Putra yang tidak mau menemui mereka pada saat melakukan unjuk rasa.
Mahasiswa mulai mendobrak pintu gerbang hingga rusak. Pemda Dompu kemudian melaporkan kejadian itu ke Polres Dompu. Berselang beberapa hari, belasan mahasiswa diperiksa dan lima orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.
"Saat itu pemda tidak mau menemui masa aksi, padahal kami sesuai prosedur. Kemudian timbul reaksi dengan mendorong gerbang hingga rusak dan dilaporkan ke polisi oleh pemda," jelas Yusuf.
Mahasiswa juga telah meminta maaf atas kerusakan yang timbulkan. Namun Pemkab Dompu tetap melaporkan kejadian itu ke polisi.
"Kami sudah minta maaf dan membuat pernyataan ke sekda. Tapi Sekda Dompu tidak mau menandatangani surat itu sehingga saudara-saudara kami diproses hukum," tuturnya.
(dpw/gsp)