Aroma bakpia dan wingko mengantarkan Wimas pada perjalanan panjang menjaga rasa. Perempuan Bali di balik Padu Rasa Indonesia ini memilih jalan sunyi melestarikan kue tradisional lewat pop-up event yang ia rintis dari kecintaannya pada dunia kuliner.
Wimas, panggilan akrab Ni Putu Wimas Astari Yuda, mengemas warisan kuliner Nusantara melalui konsep pop-up event yang kolaboratif dengan sesama pelaku usaha. Lewat Padu Rasa Indonesia, ia menghadirkan pengalaman rasa yang sederhana namun berkesan.
Kecintaan Wimas pada dunia kuliner menjadi awal berdirinya Padu Rasa Indonesia. Ia mulai menekuni usaha ini sejak awal 2020, meski belum langsung berfokus pada kue tradisional Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awal dari 2020, cuma nggak langsung bikin kue Indonesia. Awalnya basic kayak brownies, kue-kue yang ada di coffee shop," jelas Wimas saat ditemui tim detikBali di sela Pop-up event Padu Rasa Indonesia di Madree Cafe Renon, Sabtu (24/1/2026).
Perjalanan ke Yogyakarta menjadi titik balik bagi Wimas. Saat mengunjungi Pasar Ngasem, ia melihat langsung proses pembuatan bakpia dan wingko yang dibuat secara dadakan.
"Habis itu ngeliat ada yang bikin bakpia sama wingko dadakan gitu, jadi yaudah kita coba pop-up sama Cici Claypot," kata Wimas.
Sejak saat itu, Wimas mulai serius menekuni kue tradisional Indonesia. Ia mengaku baru sekitar satu setengah tahun terakhir fokus mengembangkan menu khas Nusantara. Hingga kini, Padu Rasa Indonesia masih didominasi hidangan khas Jawa, tak lepas dari kebiasaannya berkunjung ke Pulau Jawa serta hobinya berburu kuliner.
Bakpia dan Wingko Jadi Andalan
Dalam setiap pop-up event, Bakpia dan Wingko menjadi menu yang paling sering disajikan. Menu lainnya bersifat variatif dan berganti setiap minggu. Pop-up event rutin digelar setiap Sabtu.
Dengan harga mulai Rp 7.000, pelanggan sudah bisa mencicipi kue tradisional dengan tampilan cantik dan rasa yang kuat. Lokasi pop-up biasanya diumumkan melalui media sosial.
Tampilan menu Kue Jongkong dan Lumpang Pandan Suji milik Padu Rasa Indonesia, (24/1/2026). Foto: Maria Christabel DK/detikBali |
"Tempatnya kita update di Instagram sih, tapi sejauh ini masih Denpasar dan Gianyar sih di Ubud, karena kebetulan milik teman, rutin tiap bulan pasti ada," ujar Wimas. Ia juga menyebutkan kolaborasi dengan sejumlah pelaku usaha kuliner seperti Cici Claypot dan Dhatu.
Mimpi Memadukan Rasa Indonesia
Nama 'Padu Rasa Indonesia' dipilih bukan tanpa makna. Wimas memiliki cita-cita agar usahanya berkembang tidak hanya pada kue tradisional, tetapi juga hidangan utama khas Indonesia.
Ia pun berkomitmen menjaga keotentikan rasa dalam setiap resep yang diolah.
"Kita resepnya masih original aja. Pengennya kayak lebih, orang kangen makan itu dan terobati makan itu," terang Wimas.
Ke depan, Wimas juga ingin mengembangkan penggunaan bahan baku lokal dalam setiap produknya dengan melibatkan produsen daerah atau usaha lokal.
"Mungkin kalo lihat tren, sekarang pakainya tepung sagu yang ditanamnya di Indonesia, yang benar-benar lokal, kalo terigu kan impor," jelasnya.
Di akhir pertemuan, Wimas menyampaikan harapannya agar kue tradisional Indonesia bisa kembali hadir di kedai-kedai kopi. Ia juga menyoroti minimnya ketertarikan generasi muda terhadap pelestarian kuliner Nusantara.
"Kebanyakan memang yang 30-an ke atas. Ada sih beberapa yang muda tapi dikit banget, nggak sebanding. Ya, maksudnya biar nggak hilang aja gitu. Biar anak cucu kita tau loh ada kue ini," pungkas Wimas.
(dpw/dpw)











































