detikBali

Pimpinan Ponpes di Bima Sodomi 10 Santri Sudah Mengabdi Sejak 1998

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pimpinan Ponpes di Bima Sodomi 10 Santri Sudah Mengabdi Sejak 1998


Rafiin - detikBali

poster
Ilustrasi pelecehan seksual santri. Foto: Edi Wahyono
Bima -

Terungkap fakta baru kasus pimpinan pondok pesantren (Ponpes) inisial RS menyodomi 10 santri di Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pria berusia 50 tahun itu ternyata telah mengabdi di pondok sejak tahun 1998.

"RS sudah puluhan tahun mengajar dan tinggal di lingkungan Ponpes," ungkap Perwakilan Yayasan Ponpes, Sriyati, kepada detikBali, Selasa (2/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan pelaku lain yang juga guru berinisial SY merupakan alumni pondok. SY mengajar sejak 2022.

"Sedangkan SY, adalah alumni dan juga guru di Ponpes," sebut Sriyati.

ADVERTISEMENT

Terkait kasus yang melibatkan RS dan SY, pihak Yayasan Ponpes telah menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada aparat kepolisian. Yayasan Ponpes juga akan membantu aparat kepolisian untuk menuntaskan kasusnya hingga RS dan SY dihukum setimpal.

"Yayasan Ponpes telah membentuk tim Advokat sendiri untuk mengawal proses penegakkan hukum kasus ini," jelasnya.

Selain itu, tambah Sriyati Yayasan Ponpes juga telah membentuk Tim khusus mandiri dari berbagai unsur dan pihak untuk melakukan pendampingan terhadap para korban pelecehan. Seperti pendampingan memulihkan mental, trauma, psikologis hingga spiritual.

"Kita akan turun langsung melakukan pendampingan dan memulihkan trauma korban," tandasnya.

Kronologi

RS diduga menyodomi 10 santri yang rata-rata masih duduk di kelas 7 dan kelas 9 di Kecamatan Belo. Parahnya, aksi bejat pimpinan ponpes itu dilakukan bersama seorang guru di ponpes tersebut berinisial SY. Keduanya kini telah dibekuk polisi.

Kasus dugaan pencabulan itu terungkap setelah sejumlah korban memberanikan diri untuk bercerita kepada orang tua mereka. Dari sana, para korban lain mulai ikut mengaku menjadi korban pencabulan.

"Berawal dari pengakuan dan saling berbagi cerita para korban hingga diketahui oleh orang tua mereka," ungkap kerabat korban AD kepada detikBali, Sabtu (30/5/2026).

Menurut AD, sejumlah korban menyebut RS dan SY melakukan pencabulan saat para santri tertidur di asrama. RS dan SY diduga telah melakukan perbuatan tak terpuji itu berulang kali dan berlangsung sejak lama. Hanya saja, para korban awalnya takut untuk bercerita.

"Sudah bertahun-tahun beraksi dan dilakukan berulang kali. Tapi para korban memilih diam dan tak berani bercerita. Mungkin karena takut," katanya.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads