detikBali

Kronologi Gebby Vesta dan Teman Bule Prianya Diperas Sopir Taksi di Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kronologi Gebby Vesta dan Teman Bule Prianya Diperas Sopir Taksi di Bali


Sui Suadnyana, Agus Eka - detikBali

Sopir taksi (kaus hijau) mengikuti WNA penumpangnya saat menarik uang di ATM.
Foto: Sopir taksi (kaus hijau) mengikuti WNA penumpangnya saat menarik uang di ATM. (Tangkapan layar Instagram)
Badung -

Polisi membeberkan kronologi dugaan intimidasi dan pemerasan sopir taksi terhadap selebgram Gebby Vesta dan teman prianya yang warga asing di Bali. Kasus ini diselidiki oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Kuta Utara.

Kapolsek Kuta Utara Kompol I Ketut Sukadana, mengatakan keributan itu terjadi di depan minimarket Circle K, Jalan Semat, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 03.30 Wita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sukadana menuturkan cekcok bermula saat sopir taksi inisial INBU (36) mengangkut Gebby Vesta bersama rekannya, AW, dari tempat hiburan Miss Fish menuju vila di Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi, Badung. Mereka bersepakat dengan tarif awal Rp 300 ribu.

"Awalnya mereka sepakat ongkosnya Rp 300 ribu dari Miss Fish menuju Pererenan. Nah, di tengah jalan, penumpang asing ini mengaku tidak pegang uang cash sehingga mintalah diantarkan ke mesin ATM terdekat," ujar Sukadana, Selasa (2/6/2026).

ADVERTISEMENT

Kecurigaan mulai muncul ketika INBU mengikuti AW masuk ke dalam ruang anjungan tunai mandiri (ATM) di kawasan Berawa Kitchen untuk memastikan penarikan uang. Tak berselang lama setelah melanjutkan perjalanan sekitar 100 meter, si pria WNA itu meminta mobil berbalik arah karena menduga kartu ATM miliknya tertinggal di lokasi sebelumnya.

"Sopir ini ikut membuntuti ke dalam bilik ATM sehingga membuat penumpang perempuan (Gebby) merasa nggak nyaman dan curiga dengan gerak-gerik sopir. Suasana makin tegang sewaktu mereka harus balik lagi karena si pria mengira kartu transaksinya ketinggalan," jelas mantan Kapolsek Melaya, Jembrana, tersebut.

Lantaran rute perjalanan menjadi bolak-balik, INBU berinisiatif meminta biaya tambahan kepada penumpangnya di dalam mobil. Gebby Vesta langsung menilai permintaan tersebut sebagai bentuk pemerasan meskipun rekan asingnya terlihat tidak keberatan dengan ongkos ekstra itu.

"Karena kendaraannya terus berputar-putar di rute yang sama, pengemudi meminta tambahan uang jasa kepada penumpangnya. Hal itulah yang memicu kesalahpahaman karena pihak perempuan merasa sopir ini sudah keterlaluan dan berniat memeras mereka," imbuh Sukadana.

Perselisihan mencapai puncaknya sewaktu rombongan kembali singgah di gerai Circle K, Jalan Semat Tibubeneng, agar AW bisa beli minuman ringan. Tindakan INBU yang ikut masuk ke dalam toko modern untuk memastikan kepastian tarif tambahan justru memicu adu argumentasi sengit dengan Gebby Vesta seperti viral di medsos.

"Keterangannya, dia (sopir) mau menegaskan lagi soal kesepakatan ongkos tambahan yang diminta sebelumnya. Masalah itu direspons, berdebat, yang mengira ada unsur paksaan di sana," urai Sukadana.

Keributan akhirnya mereda setelah AW yang disebut agak sedikit mabuk hanya bayar ongkos taksi sesuai tarif awal Rp 300 ribu. Gebby dan AW kemudian memilih pergi ke vila tujuan dengan memesan jasa angkutan online yang lain.

"WNA itu menyuruh sopir pergi setelah cuma bayar Rp 300 ribu. Kami belum melihat adanya indikasi kuat unsur pidana pemerasan, namun klarifikasi menyeluruh tetap berjalan," jelas Sukadana.



(iws/iws)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads