Unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Kuta Utara menyelidiki dugaan intimidasi dan pemerasan sopir taksi terhadap selebgram Gebby Vesta beserta rekan bule prianya. Polisi mendatangi kediaman pengemudi itu di Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung, guna meminta klarifikasi.
"Kami sudah monitor. Anggota sudah cek bahkan kami datangi rumah sopir yang bersangkutan diDalung untuk meminta keterangan awal supaya kami dapat fakta utuh perselisihan itu," kata Kapolsek Kuta Utara, Kompol I Ketut Sukadana, Selasa (2/6/2026).
Sukadana mengatakan polisi juga mendalami keterangan seluruh pihak yang terlibat dalam rekaman video tersebut, yakni MD (40) alias Gebby Vesta, penumpang sekaligus pengunggah video, dan teman prianya yang juga WNA berinisial AW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, polisi menyebut keributan itu murni karena salah paham soal tarif tambahan dan belum menemukan bukti kuat adanya pemerasan. Tuduhan pemerasan itu, lanjut Sukadana, dinilai belum terbukti karena sopir taksi meminta ongkos ekstra atas dasar rute perjalanan yang berubah bolak-balik akibat kartu ATM penumpang yang tertinggal.
Indikasi pemerasan juga tidak terpenuhi karena sang bule selaku penumpang tidak masalah dengan ongkos ekstra itu dan tetap membayar tarif awal tanpa paksaan. Tarif yang disepakati di awal sebesar Rp 300 ribu.
Selain itu, kata Sukadana, dari hasil pendalaman, tindakan sopir ikut masuk ke minimarket, seperti dalam video viral, untuk memastikan kesepakatan tarif kepada si warga asing. Hanya saja, tindakan itu disalahartikan oleh Gebby Vesta hingga memicu adu mulut.
Sopir tersebut tak ditahan. "Ya kesalahpahaman antara sopir taksi dan penumpang terkait persepsi permintaan tarif tambahan. Belum ditemukan indikasi kuat adanya tindakan pemerasan," jelas Sukadana.
Sopir Taksi Disebut Minta Uang Tambahan
Sebelumnya, dalam video yang diunggah selebgram Gebby Vesta, terlihat cekcok dirinya dengan sopir angkutan lokal hingga viral di medsos. Keributan diduga dipicu oleh aksi dugaan pemerasan dan intimidasi yang dilakukan sang sopir setelah mereka pulang dari sebuah restoran di kawasan Kuta Utara, Badung.
Gebby membatalkan pesanan angkutan online karena kasihan dan sepakat menyewa taksi lokal seharga Rp 300 ribu. Masalah muncul saat sopir ikut masuk ke dalam ruang mesin ATM, lalu meminta uang tambahan sebesar Rp 200 ribu lagi hingga melontarkan kata-kata kasar dan memaksa mereka turun.
Gebby Vesta membenarkan kejadian itu terjadi pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 03.30 Wita setelah mereka hangout di Miss Fish, Tibubeneng. Dirinya berani memviralkan kejadian ini demi mewakili korban lain yang mengalami modus serupa namun takut untuk bersuara.
(iws/iws)










































