Tradisi lebaran topat di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki keunikan tersendiri. Jika di daerah lain perayaan ini umumnya diikuti para tetua dan kyai, di desa ini justru didominasi anak-anak.
Momentum yang digelar setiap 7 Syawal itu menjadi hari spesial bagi anak-anak Desa Ketangga. Mereka bahkan rela pulang kampung demi mengikuti tradisi tahunan yang hanya dilaksanakan di Masjid Pusaka desa setempat.
"Yang hadir di masjid lebih banyak dihadiri oleh anak-anak, sementara para orang tua hanya mendampingi," kata salah seorang tokoh masyarakat Desa Ketangga, Amaq Hasbi, Sabtu (28/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam perayaan tersebut, ratusan anak berkumpul di masjid dan disuguhi dulang dengan tutup saji berwarna merah atau yang disebut Tebolak Beaq. Dulang itu berisi berbagai makanan, mulai dari ketupat lengkap dengan opor ayam, buah-buahan, hingga aneka jajanan tradisional.
"Sajian makan atau isi Dulang itu dimakan bersama-sama, tujuannya sebenarnya untuk memupuk rasa kebersamaan untuk anak-anak di desa kami," ujar Amaq Hasbi.
Selain dulang, tradisi ini juga memiliki ciri khas berupa telur topat. Telur ayam yang disajikan jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anak dalam setiap keluarga.
"Kalau anaknya 5, ya jumlah telurnya juga 5, begitu seterusnya," terang Amaq Hasbi.
Menurutnya, tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan rutin digelar setiap 7 Syawal. Selain sebagai bagian dari perayaan lebaran topat, kegiatan ini juga menjadi sarana mengenalkan anak-anak pada masjid serta menanamkan nilai berbagi.
"Maknanya memang begitu yang sudah dituturkan kita oleh orang tua kita dulu, kita kenalkan masjid kepada anak-anak. Dan juga untuk membiasakan anak-anak berbagi kepada sesama," jelas Amaq Hasbi.
(dpw/dpw)










































