Menjelang Hari Raya Idul Fitri, umumnya seluruh masyarakat Muslim di Tanah Air memiliki tradisi masing-masing untuk menyambut hari kemenangan. Tradisi lebaran dilakukan dengan merujuk pada berbagai kebiasaan sosial dan budaya yang memiliki makna mendalam.
Di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), terdapat sebuah kearifan lokal unik bernama Ka'a Ilo. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini rutin dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ka'a Ilo tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat, tetapi juga menyimpan nilai-nilai tradisional yang menghadirkan nostalgia masa lampau yang bermakna bagi kehidupan mereka.
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai makna dibalik tradisi Ka'a Ilo. Berikut uraian mengenai tradisi Ka'a Ilo Bima, yang harus kalian ketahui. Yuk, simak informasi selengkapnya!
Makna Tradisi Ka'a Ilo
Pada mulanya, tradisi Ka'a Ilo dilakukan sejak masa lampau. Di mana masyarakat Bima memiliki kebiasaan membakar lampu yang terbuat dari buah pohon mantau dan biji jarak, yang disebut Ilo Peta. Seiring berkembangnya waktu, tradisi ini menjadi kegiatan rutin di kalangan masyarakat Bima.
Dalam pelaksanaannya, tradisi ini digelar selepas waktu Magrib hingga menjelang Isya selama tiga hari berturut-turut menjelang Idul Fitri. Kegiatan tersebut menjadi simbol spiritualitas masyarakat sekaligus wujud penghormatan terhadap nilai-nilai luhur budaya dan kehidupan sosial.
Nilai Luhur dan Sosial
Tidak hanya berfungsi sebagai nilai-nilai spiritual, tradisi Ka'a Ilo juga mencerminkan makna penting dalam struktur kehidupan sosial. Dimana tradisi Ka'a Ilo dapat mempererat hubungan kekeluargaan antara warga, sekaligus menunjukkan kebersamaan dan gotong royong. Lebih daripada itu, tradisi tersebut juga mengandung nilai-nilai luhur yang sangat dihormati karena menjadi landasan hidup masyarakat setempat.
Masyarakat Bima meyakini bahwa tujuh hari menjelang Idul Fitri, arwah leluhur yang dikenal dengan sebutan Dou Woro akan kembali ke dunia untuk mengunjungi Istana Bima atau Asi Mbojo, sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabatnya. Sebagai bentuk penyambutan, masyarakat kemudian menyalakan Ilo Peta sebagai simbol penghormatan dan penerimaan terhadap kedatangan para leluhur tersebut.
Di sisi lain, terdapat pula pandangan yang menyebutkan bahwa tradisi Ka'a Ilo merupakan simbol pelepasan bulan suci Ramadhan sekaligus penyambutan turunnya malaikat pada malam Lailatul Qadar. Tradisi ini pun menjadi bagian penting dari khazanah budaya Ramadan masyarakat Bima yang terus dilestarikan hingga kini.
Sayangnya, seiring pesatnya perkembangan modernisasi, tradisi ini kini semakin jarang dijumpai. Meski demikian, di sejumlah desa tradisional, tradisi tersebut masih tetap diperingati dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Itulah filosofi dan makna dibalik tradisi Ka'a Ilo di Bima, NTB. Semoga informasinya bermanfaat ya, detikers!
(nor/nor)










































