Malam Idul Fitri biasanya datang dengan suara.
Bedug dipukul bertalu-talu. Takbir menggema dari masjid ke jalanan. Anak-anak berlarian membawa obor, menyusuri kampung dengan riang.
Namun tahun ini, Bali mungkin tidak akan mengenal suara itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam takbiran 2026 diprediksi bertepatan dengan Nyepi-hari ketika seluruh pulau berhenti. Lampu dipadamkan, jalanan kosong, dan semua orang diminta tinggal di rumah.
Takbir tetap ada, tapi tanpa gema. Umat Islam diminta takbir di rumah.
Bagi para perantau muslim di Pulau Dewata, Lebaran tahun ini bukan hanya soal tidak mudik. Ada satu lapis lain yang harus mereka hadapi: merayakan hari kemenangan dalam suasana sunyi.
Mega Satriani sudah terbiasa pulang ke Madiun setiap Lebaran. Itu semacam ritual tahunan, kembali ke rumah, bertemu keluarga, dan merayakan bersama.
Tahun ini, ia tidak melakukannya.
Ia baru saja pulang bulan lalu. Perjalanan panjang Madiun-Bali, ditambah harus membawa balita, membuatnya memilih tinggal. Ia menunda pulang hingga Idul Adha nanti.
Empat tahun tinggal di Bali memberi Mega pengalaman Ramadan yang berbeda.
Di kampung halamannya, suasana puasa terasa seragam. Siang hari lebih lengang, warung banyak yang tutup. Di Bali, kehidupan berjalan seperti biasa.
Orang tetap makan dan minum di siang hari.
"Kalau Ramadan di Bali seru, sih. Kalau aku pribadi ya, bisa lebih belajar toleransi karena di sini kan minoritas. Di saat teman-teman yang lain makan dan minum, ya kita membiasakan diri dengan itu. Jadi di situasi seperti ini malah meningkatkan kesabaran dan toleransi, bukan berarti kita puasa terus membatasi," ujar perempuan 27 tahun itu, Rabu (11/3/2026).
Di tengah perbedaan itu, ia tetap menemukan kehangatan.
Deretan penjual takjil, kegiatan buka bersama di masjid, hingga pengalaman mengikuti tradisi Megibung-makan bersama dalam satu wadah besar-memberinya rasa kebersamaan yang berbeda.
"Yang dirasakan itu kebersamaannya. Karena prinsip Megibung dalam adat Bali itu kan makan bareng ramai-ramai, jadi kita merasakan kebersamaan dan persaudaraannya makin kuat," katanya.
Di sudut lain Bali, Fermandia Juli Sandian menjalani Ramadan dengan ritme yang berbeda.
Ia bekerja di sektor Food and Beverage di Kuta. Jadwal kerja yang padat membuatnya tidak mendapat jatah cuti Lebaran. Rekan-rekannya sudah lebih dulu mengambil giliran.
Ini menjadi kali kedua ia tidak pulang ke Sidoarjo saat Lebaran.
"Keluarga di rumah ya fine-fine aja karena kalau misal balik pun waktunya sudah kepotong sehari untuk perjalanan. Sedangkan, liburan ini cutinya 3 hari," katanya.
Bagi Ferman, perbedaan paling terasa datang saat waktu berbuka.
Di kampung, ia selalu pulang ke rumah dan makan bersama keluarga. Di Bali, ia berbuka setelah pulang kerja, sendiri, tanpa percakapan panjang di meja makan.
"Kalau di Jawa kan kita pulang dari kerjaan, ketemu keluarga, makan-makan gitu, kan. Kalau di sini ya udah, pulang kerja, buka puasa, ya udah," ceritanya.
Namun kesendirian itu tidak selalu bertahan lama.
Di masjid, ia menemukan wajah-wajah lain dengan cerita serupa.
Baca juga: Kala Masjid Ajak Umat Hormati Nyepi |
"Mungkin karena di sini itu muslim minoritas, ya. Jadi, kadang di masjid ramai banget kalau lagi buka puasa. Mungkin karena sama-sama perantau," ujarnya.
Tahun ini, pengalaman mereka kembali berubah.
Malam takbiran yang biasanya penuh suara, kemungkinan akan berjalan tanpa keramaian.
Mega tidak melihat itu sebagai kehilangan.
Baginya, ini justru menjadi ruang untuk saling memahami.
"Menurutku ini sebenarnya jadi momentum untuk memperkuat toleransi dan saling pengertian antar umat. Kita hargai momentum Nyepi itu tadi. Toh saat kita beribadah juga dihargai oleh umat Hindu. Jadi nggak harus memaksakan. Kalau masih bisa ibadah di rumah ya di rumah saja, tidak mengurangi nilai ibadah itu sendiri," ucapnya.
Fermandia Juli Sandian, perantau di Bali yang tak pulang mudik pada Lebaran Idul Fitri 2026. Foto: Fabiola Dianira/detikBali |
Ferman merasakan hal yang sedikit berbeda.
Ada ruang kosong yang sulit dijelaskan ketika takbir tidak lagi terdengar seperti biasanya. Tapi ia memilih menerima itu sebagai bagian dari hidup di Bali.
"Kan ada wajib dan sunnah. Nah, takbiran tuh bukan hal-hal wajib, gitu kan. Jadi bisa lah takbiran di rumah masing-masing, gitu kan. Karena memang Nyepi juga setahun sekali. Mungkin mereka juga setiap hari dengar kita azan, sebagainya. Mereka toleransi, kan. Memberikan kita azan, gitu," jelasnya.
Situasi seperti ini, katanya, bukan yang pertama.
Ia pernah menjalani salat Tarawih di kamar kos saat aktivitas di luar dibatasi karena bertepatan dengan Nyepi.
Kini, menjelang Idul Fitri, ia kembali bersiap untuk menyesuaikan diri.
Bagi para perantau seperti Mega dan Ferman, Lebaran tahun ini mungkin tidak ramai.
Tidak ada gema takbir di jalanan, tidak ada pawai, tidak ada keramaian.
Yang ada adalah ruang yang lebih sunyi, dan di dalamnya, cara lain untuk tetap merayakan.
(dpw/dpw)
