Labuan Bajo tidak hanya terkenal di kalangan wisata lokal, tapi juga sudah dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia. Kota kecil yang terletak di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini memiliki keberagam suku yang mendiami Labuan Bajo.
Labuan Bajo yang menjadi titik bertemunya berbagai etnis karena merupakan wilayah pelabuhan dan jalur perdagangan. Setidaknya ada 4 suku utama yang ada di Labuan Bajo dan sudah lama saling berinteraksi satu sama lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Suku Bajo
Suku yang dikenal sebagai pelaut ulung ini adalah salah satu kelompok etnis di Indonesia yang memiliki budaya unik. "Pengembara Laut" begitulah sebutannya, karena sebagian besar waktu mereka habiskan di atas perahu ataupun rumah panggung yang mengapung di laut. Suku Bajo diyakini berasal dari wilayah Filipina Selatan yang akhirnya menetap di Indonesia tersebar ke Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara.
Meski keseharian mereka banyak dihabiskan di laut, Suku Bajo juga memiliki musik dan tari tradisional mereka yang menceritakan bagaimana aktivitas kehidupan maritime mereka seperti memancing, berlayar hingga bagaimana hubungan mereka dengan laut.
Laut yang sudah menjadi identitas Suku Bajo, tentunya mereka punya perahu tradisional yang disebut dengan "lepa - lepa" atau "sope". Proses pembuatan yang terbilang cukup sulit dan rumit, membutuhkan keahlian khusus yang mereka wariskan secara turun-temurun.
Suku Bajo yang sistem kepercayaan mereka erat sekali dengan alam, dan mereka percaya kalau laut adalah sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati. Ada tradisi mereka yang bernama "Mappaleppe" merupakan upacara yang dilakukan sebelum mereka melaut, dan bentuk dari permohonan keselamatan kepada Tuhan dan leluhur.
2. Suku Manggarai
Suku Manggarai yang merupakan kelompok etnis bagian barat Pulau Flores NTT. Suku ini juga dikenal dengan budaya adat yang kuat baik itu lembaga adat hingga upacara-upacara sakral. Salah satu budaya mereka yang terkenal adalah tari Caci, tarian perang yang dipertunjukkan oleh dua pria dilengkapi dengan cambuk dan perisai.
Selain itu mereka memiliki sistem pertanian yang terbilang unik yaitu Sistem Pertanian Lodok yaitu pembagian tanah dengan menyerupai jaring laba-laba. Pusat lodok menjadi titik kumpul keluarga besar yang nantinya setiap sektor akan mewakili anggota keluarga yang mengelola tanah.
Bagi Suku Manggarai adat istiadat sangat dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti upacara adat Penti yang dilakukan sebagai bentuk syukuran panen dan Ritual Reba upacara menyambut tahun baru.
3. Suku Bima atau Mbojo
Suku yang mendiami Pulau Sumbawa bagian Timur ini memiliki identitas yang kuat melalui bahasa daerahnya, kearifan lokal, tradisi hingga sejarah kerajaannya. Suku Bima atau dalam bahasa mereka disebut juga Suku Mbojo mempunyai 7 pemimpin yang disebut dengan Ncuhi.
Mayoritas suku Bima memeluk agama Islam, tapi ada satu kepercayaan yang disebut Pare No Bongi yang menjadi kepercayaan asli dari Bima. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang, dunia roh yang ditakuti disebut Batara Gangga yaitu dewa dengan kekuatan sangat besar dan juga merupakan penguasa.
Sedangkan mata pencaharian utama suku Bima bertani bahkan sempat menjadi segitiga emas pertanian dengan Makassar dan Ternate di zaman kesultanan. Dulunya sebelum bertani, masyarakat Bima juga pernah berburu, sedangkan untuk wanita suku Bima membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar.
4. Suku Bugis
Suku Bugis adalah salah satu suku pendatang yang cukup besar di Labuan Bajo yang berasal dari Sulawesi Selatan sekitar Danau Tempe dan Sidenreng. Suku yang dikenal juga dengan kepiawaiannya merantau ke berbagai wilayah seperti Kalimantan, Sumatera, bahkan Malaysia.
Migrasi mereka diperkirakan pada tahun 1950-an dan 1960-an akibat konflik, dan ada juga disebabkan oleh wilayah Kesultanan Gowa yang meluas hingga ke Flores. Meski suku pendatang, masyarakat Bugis tetap memiliki tradisinya sendiri seperti adat Mappalette Bola atau pindah rumah dan Siri' Na Pacce. Bahkan mereka memiliki tradisi yang berpadu dengan kearifan lokal seperti tradisi Kepok dan Rumusmoso.
Walaupun memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik itu suku asli ataupun suku pendatang suku-suku yang ada di Labuan Bajo tetap hidup berdampingan dan harmonis. Keberagaman yang diciptakan melalui rasa saling menghormati ini justru menjadi kekuatan atas identitas Labuan Bajo yang tidak hanya indah dengan alamnya, namun juga indah dengan keragaman sukunya.
(nor/nor)










































