Daftar Isi
Suku Dawan atau juga dikenal sebagai Atoni Meto adalah suku yang menempati Pulau Timor, Indonesia. Suku ini memiliki kebiasaan berburu yang masih dilestarikan hingga sekarang, sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup. Menariknya, dari kebiasaan ini tercipta sebuah tarian yang unik dengan nama Tari Bonet.
Tarian ini adalah salah satu tari tradisional tertua yang dimiliki oleh Suku Dawan di Pulau Timor. Tarian ini melambangkan cara Suku Dawan dalam bertahan hidup dengan memanfaatkan kekayaan alam sekitar. Tak hanya itu, dalam pelaksanaan tarian ini juga menampilkan sebuah syair pantun yang sarat akan makna.
Agar mengetahui lebih dalam tentang Tari Bonet, simak ulasan berikut ini. Informasi ini detikBali rangkum dari Buku yang ditulis oleh I Made Sumerta, dkk (2016) dengan judul Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Tari Bonet di Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-usul Tari Bonet
Secara etimologi Tari Bonet berasal dari bahasa Suku Dawan yaitu Na Bonet yang berarti mengepung, mengurung, dan mengelilingi. Jadi, Tari Bonet adalah menari dengan posisi membentuk lingkaran. Tari Bonet digunakan sebagai ungkapan rasa syukur dan sukacita atas keberhasilan mendapatkan hewan buruan sekaligus merupakan ritual penyucian roh hewan buruan sebelum diolah menjadi makanan.
Gerakan membentuk lingkaran dalam Tari Bonet merupakan taktik Suku Dawan untuk mendapatkan hewan buruan dengan dibarengi suara sorakan, dan beberapa ekor anjing sebagai penghalau. Hewan buruan Suku Dawan antara lain rusa, babi, kera dan burung. Saat berburu, Suku Dawan menggunakan berbagai alat seperti tombak, pentungan, jerat atau perangkap.
Setelah berhasil mendapatkan buruan, para lelaki akan kembali ke pemukiman dengan disambut oleh kaum perempuan dengan tarian dan bunyi-bunyi tradisional. Tarian akan dilakukan dengan bergandengan tangan membentuk lingkaran dan mengelilingi api unggun sebagai lambang penolong, sumber energi, dan menjadi warisan penting dari tradisi berburu masyarakat Suku Dawan.
Seiring berkembangnya zaman, Tarian ini kemudian dipentaskan di berbagai acara adat dan pesta pernikahan masyarakat Suku Dawan. Bisa dikatakan tarian ini memiliki fungsi hiburan bagi Suku Dawan.
Macam-macam Tari Bonet
Suku Dawan yang berada di wilayah Timor mengenal beberapa jenis Bonet. Di daerah Mollo memiliki beberapa jenis Bonet, yaitu Bonet Buat, Bonet Bako, Bonet Nano Nakaf, dan Bonet Nitu. Setiap jenis Tarian Bonet ini memiliki fungsi nya masing-masing, seperti Tari Bonet Nitu yang hanya boleh dilakukan saat ada bangsawan yang meninggal dan para penari akan mengelilingi lesung sambil menyanyi dan menumbuk padi.
Sedangkan di wilayah Amanatun terdapat jenis Tari Bonet Naek, Bonet Ana, Bonet Fenai yang dilakukan oleh kaum perempuan dan Bonet Bauksala yang dilakukan oleh tetua adat sembari menuturkan sejarah. Pada wilayah Amanuba ada jenis Tari Bonet Naek, Bonet Mnutu, Bonet Tek-koti, dan Bonet Taub Usif.
Perlengkapan Penari Bonet
Sebelum melakukan Tarian Bonet, para penari harus menyiapkan beberapa perlengkapan yang disesuaikan dengan jenis kelamin. Para penari pria akan mengenakan kain sebanyak dua lembar, satu kain dililitkan di bagian tubuh dan satunya lagi digunakan sebagai selendang. Selain itu, penari pria juga menggunakan kemeja, destar (penutup kepala), ikat pinggang, pundi-pundi sirih pinang (tas atau wadah untuk menyimpan sirih pinang), muti (manik-manik), dan gelang perak.
Cara melilitkan kain pada tubuh pria harus berbentuk tangga, yang merupakan simbol marga ayah pada Suku Dawan. Sedangkan untuk penggunaan destar memiliki perbedaan yang cukup signifikan antara pengguna laki-laki muda, dewasa dan juga dipengaruhi oleh status sosial.
Sedangkan untuk penari wanita, menggunakan kain, kebaya, selendang, dan rambut di sanggul dengan dihiasi sisir berbentuk bulan sabit yang terbuat dari perak atau emas. Tidak hanya itu, penari wanita juga menggunakan pending (ikat pinggang tradisional), muti (manik-manik), dan gelang perak. Berbeda dengan penggunaan kain pada penari pria, kain pada penari wanita berujung buntu tanpa rumbai. Hal ini melambangkan bahwa marga perempuan tidak diturunkan kepada anak-anaknya.
Prosesi Pelaksanaan Tari Bonet
Jika dahulu tarian ini dipentaskan saat kaum laki-laki pulang dari berburu, saat ini tarian Bonet dapat ditemui pada acara adat atau pesta pernikahan yang melibatkan seluruh anggota masyarakat. Uniknya tarian ini dilaksanakan secara spontan, tanpa ada persiapan dari jauh-jauh hari.
Prosesi Tari Bonet diawali dengan permintaan kepada pemantun Bonet yang hadir. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang menyanyikan lagu atau syair sebagai pembuka dan ajakan supaya seluruh masyarakat yang hadir ikut bernyanyi. Selanjutnya diikuti dengan gerakan membentuk lingkaran untuk mengelilingi api unggun. Pada tahap awal ini akan terdengar dengan jelas suara derapan kaki yang seragam menciptakan suara yang unik.
Selama Bonet berlangsung, penari pria dan wanita berdiri selang-seling sesuai keinginan mereka. Gerakan kaki dilakukan secara bergantian dan serempak yang menciptakan irama gemerincing dari gelang kaki. Penari dapat terbagi menjadi dua kelompok dalam satu lingkaran untuk saling berbalas syair atau pantun.
Tahap akhir Bonet ditandai dengan melambatnya gerakan dan nyanyian, lalu diakhiri dengan syair penutup. Bonet juga dapat berakhir ketika salah satu pihak menyatakan tidak sanggup lagi untuk melanjutkan balas syair. Bonet dapat berlangsung semalam suntuk dengan syair yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan antar kelompok.
Syair atau pantun dalam Tari Bonet
Syair pembuka sebelum melaksanakan Tari Bonet berfungsi sebagai pengantar sebelum memulai pantau atau berbalas syair. Berikut syair pembuka:
Teo am bai ole hau be
Besa te teo a'manu
Manu tili teo teo am baino ole ...
Syair Pertama:
Nunu tae tili nanoe tam Baumata
Artinya: Baumata dibayangkan sebagai pohon beringin yang rindang dan tumbuh didekat mata air yang memiliki kesegaran dan kesejukan. Ini juga menandakan sebagai tempat terbuka dan bisa menerima siapa saja yang ingin berkunjung.
Syair Kedua:
Tenu kola nem on Baumata
Artinya: Para tamu di simbolkan sebagai burung (Kola) yang datang berkunjung ke Baumata.
Syair Ketiga:
Kola manu muti hen jani
Neo kuan bale nahe nok amlile.
Artinya: Menggambarkan burung yang telah menerima kebaikan dari Baumata, kemudian kembali ke tempat asal mereka dengan perasaan suka cita. Di tempat asal mereka akan menceritakan kemegahan Baumata sebagai pohon yang rindang, sejuk, dan memiliki buah yang banyak.
(nor/nor)










































