PT PLN (Persero) menyebut kondisi kelistrikan di Bali berpotensi mengalami skema nyala bergilir jika tidak ada tambahan suplai atau pasokan energi hingga 2027. Kondisi itu terjadi karena cadangan listrik Bali saat ini tergolong tipis, sejalan dengan konsumsi listrik yang melonjak.
General Manager PLN UID Bali Ajrun Karim mengatakan masyarakat selama ini mengira kondisi kelistrikan di Pulau Dewata masih surplus. Padahal, dia berujar, cadangan listrik Bali sangat terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang tahunya Bali sudah surplus energi, padahal dalam tanda petik sebetulnya tidak. Kalau 2027 Bali tidak ada tambahan suplai energi, maka ada kemungkinan Bali akan ada nyala bergilir," ungkap Arjun di Denpasar, Kamis (20/8/2026).
Arjun membeberkan beban puncak penggunaan listrik di Bali telah mencapai sekitar 1.295-1.300 megawatt (MW). Sementara itu, total kapasitas daya terpasang dari seluruh pembangkit di Bali sekitar 1.477 MW.
Menurutnya, kapasitas daya listrik tersebut berasal dari berbagai pembangkit di Bali. Mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), PLTU, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
"Bali saat ini beban puncak 1.300 diampu oleh daya terpasang sistem itu dari bauran energi macam-macam, ada PLTG, PLTGU, ada PLTU Celukan Bawang, ada PLTS di Medco. Itu cuma 1.477 MW dengan catatan tidak ada mesin rusak," imbuhnya.
Di sisi lain, Unit 5 PLTD Pesanggaran berkapasitas 100 MW saat ini tengah menjalani pemeliharaan atau overhaul. Kondisi tersebut membuat sistem kelistrikan Bali kehilangan pasokan sekitar 100 MW.
"Kalau 100 MW, maka mau tidak mau PLTD yang katanya orang itu bising, ada emisi, harus kami operasikan. Kalau enggak dioperasikan, maka kita akan dapat istilahnya nyala bergilir, bukan pemadaman bergilir. Nyalanya bergilir," imbuh Arjun.
Selain mengandalkan pembangkit di Bali, sistem kelistrikan Pulau Dewata juga masih bergantung dengan pasokan listrik dari Pulau Jawa melalui empat sirkuit kabel bawah laut. Empat sirkuit kabel tersebut memiliki kapasitas maksimal sekitar 100 MW per sirkuit dan daya yang disalurkan tidak selalu optimal.
"Saat ini, Pulau Bali masih mendapat suplai dari Pulau Jawa empat sirkuit kabel itu kalau dioperasi maksimal 100 MW. Tapi enggak dioperasi maksimal, dioperasikan 60 sampai 80. Jadi, saat ini mendapatkan kiriman suplai dari Jawa kurang lebih sekitar 270 MW," kata Arjun.
Untuk mengantisipasi ancaman kekurangan pasokan listrik, PLN bersama pemerintah tengah mendorong pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan (EBT). Salah satu rencana yang disiapkan yakni pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLN menargetkan penambahan kapasitas PLTS sekitar 1.450 megawatt (MW). Proyek ini ditargetkan rampung pada 2029.
Arjun menerangkan sekitar 600 MW dari tambahan kapasitas PLTS tersebut ditargetkan sudah dapat masuk ke sistem kelistrikan Bali pada 2027. Saat ini, PLTS yang dioperasikan di wilayah PLN UID Bali baru satu, yakni PLTS berkapasitas sekitar 25 MW milik Medco yang berada di Kubu, Karangasem.
Di sisi lain, pembangunan PLTS juga membutuhkan lahan yang cukup luas. Ajrun memperkirakan setiap 1 MW kapasitas PLTS membutuhkan lahan sekitar 1 hektare. Untuk mengakali kendala tersebut, PLN akan memprioritaskan lahan yang selama ini tidak produktif atau belum dimanfaatkan secara maksimal.
"Lahan kita akan prioritas pertama pada lahan tidak produktif, lahan tandus, terus lahan kehutanan, ataupun lahan milik masyarakat yang selama ini tidak dimaksimalkan pemanfaatannya," pungkasnya.
(iws/hsa)