detikBali

Pertumbuhan Pemakaian Listrik Bali 2026 Tertinggi se-Indonesia

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pertumbuhan Pemakaian Listrik Bali 2026 Tertinggi se-Indonesia


Fabiola Dianira - detikBali

Pemeliharaan jaringan yang dilakukan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali pada Sabtu (20/7/2024).
Ilustrasi pemeliharaan jaringan listrik. (Foto: Dok. PLN UID Bali)
Denpasar -

PLN UID Bali mengungkap pertumbuhan pemakaian listrik di Bali pada 2026 mencapai 8,02 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Indonesia dan melampaui pertumbuhan ekonomi Bali yang berada di kisaran 5,6 persen.

"Artinya pertumbuhan listriknya melampaui dari pertumbuhan ekonomi. Bisa disimpulkan bahwa listrik sudah masuk ke semua simpul-simpul sendi kehidupan," ujar General Manager PLN UID Bali Ajrun Karim, Kamis (20/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ajrun mengatakan peningkatan konsumsi listrik di Bali mulai terlihat signifikan setelah pandemi COVID-19 atau seiring dengan kembali bergeraknya sektor pariwisata. Pada 2019, dia berujar, beban puncak listrik Bali masih sekitar 750 MW.

Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 800 MW pada 2020 dan 1.100 MW pada 2021. Setelah pandemi, Arjun melanjutkan, beban puncak kembali melonjak hingga mencapai lebih dari 1.200 MW.

ADVERTISEMENT

"Jadi pasca-COVID itu pariwisata bergerak, listrik langsung melonjak," imbuhnya.

Menurut Arjun, peningkatan konsumsi listrik terutama terlihat di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). Kawasan tersebut selama ini menjadi pusat aktivitas pariwisata dan ekonomi Bali.

Di sisi lain, Ajrun juga menyoroti pola beban listrik Bali yang menurutnya cukup menarik. Sebab, beban listrik pada siang hari hampir sama dengan beban puncak.

"Beban puncaknya Bali itu menarik karena hampir sama dengan beban siang. Beban siang di 1.260 MW sampai 1.285 MW, beban puncak di 1.290 MW sampai 1.300 MW. Jadi hampir kecil sekali bedanya," jelasnya.

Saat ini, PLN UID Bali memiliki sekitar 1,547 juta pelanggan. Sekitar 80 persen di antaranya merupakan pelanggan ritel, sedangkan sekitar 15 persen merupakan pelanggan tegangan menengah.

Meski jumlahnya lebih sedikit, pelanggan tegangan menengah mendominasi penggunaan daya listrik. Pelanggan tersebut umumnya berasal dari sektor usaha dan pariwisata.

"Rata-rata di TM, di tegangan menengah, di usaha-usaha ini jasa pariwisata. Hotel, homestay, restoran," tuturnya.



(iws/iws)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads
LIVE