Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng mencatat kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Buleleng, Bali, mencapai 6.530 kasus per 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat rabies.
Kepala Dinkes Buleleng, Sucipto, mengatakan tiga korban meninggal karena rabies itu memiliki riwayat penanganan yang berbeda. Dua korban tidak melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan setelah digigit hewan. Sementara satu korban lainnya sempat berobat, tetapi tidak menuntaskan vaksinasi antirabies (VAR).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kurangnya pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko gigitan hewan penular rabies ini menjadi perhatian serius bagi kita semua," kata Sucipto, Kamis (14/10/2026).
Sucipto mengingatkan masyarakat agar segera mencari pertolongan medis setelah digigit hewan yang berisiko menularkan rabies. Penanganan yang terlambat atau vaksinasi yang tidak lengkap, dia berujar, dapat berakibat fatal.
Pemkab Buleleng telah melakukan sejumlah upaya untuk menekan penyebaran rabies. Termasuk membentuk 74 Tim Siaga Rabies (TISIRA) di tingkat desa, menerbitkan 129 peraturan desa (perdes), serta menetapkan 33 perarem atau aturan adat terkait pengendalian rabies.
Meski begitu, Sucipto menilai upaya tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat. Ia mengimbau warga agar tidak mengabaikan gigitan hewan dan segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan sesuai prosedur.
Selain rabies, Sucipto juga menyoroti penyakit zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia serta penyakit infeksi emerging (PIE). Risiko penularan dapat meningkat akibat interaksi manusia dengan hewan, perubahan lingkungan, pola hidup, hingga mobilitas masyarakat.
"Pencegahan zoonosis dan PIE tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan. Perlu perubahan perilaku masyarakat dan pendekatan one health yang mengintegrasikan sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan," tegasnya.
Menurut Sucipto, pendekatan one health dilakukan melalui penguatan higiene dan sanitasi, keamanan pangan, penanganan hewan secara aman, serta pengelolaan lingkungan. Ia menekankan upaya tersebut membutuhkan kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra pembangunan, dan pemangku kepentingan lainnya.