Perajin tahu dan tempe memilih memperkecil ukuran produknya untuk menyiasati kenaikan harga kedelai. Strategi tersebut dilakukan agar harga jual tahu dan tempe tetap terjangkau dan tidak kehilangan pelanggan.
Dilansir detikFinance, Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Kusnoto mengatakan harga kedelai kini mencapai Rp 11.600 per kilogram (kg), dari sebelumnya sekitar Rp 9.500/kg. Bahkan, harga kedelai di sejumlah daerah sudah menyentuh Rp 12.000/kg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kusnoto, tekanan yang dihadapi perajin pada 2026 lebih berat dibandingkan 2022. Sebab, kenaikan biaya tidak hanya terjadi pada kedelai, tetapi juga berbagai kebutuhan produksi lainnya, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), plastik kemasan, hingga ongkos angkutan.
"Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja. Plastik naik, minyak goreng naik, daya beli juga seperti ini," kata Kusnoto kepada detikcom, Sabtu (3/10/2026).
Karena alasan itulah ukuran tahu dan tempe diperkecil. Dia mencontohkan, tempe yang sebelumnya dalam satu batang dipotong menjadi enam bagian, kini dipotong menjadi tujuh bagian dengan harga jual yang sama.
Kusnoto menjelaskan, misalnya dalam sehari perajin yang menggunakan 1 kuintal kedelai bisa menghasilkan 22 batang tempe. Jika satu batang dijual Rp 10.000 dan dipotong menjadi tujuh bagian, omzet kotornya Rp 1,54 juta. Namun, setelah dikurangi berbagai biaya produksi, keuntungan yang tersisa sangat tipis.
Berdasarkan data Gakoptindo harga jual tempe 250 gram dan tahu 500 gram dalam perbandingan tersebut masih tercatat Rp 5.000. Harga tahu dan tempe tidak naik karena perajin khawatir kehilangan pelanggan.
"Harga jual tahu dan tempe belum naik, alhasil disiasati mengecilkan ukuran. Sebagian besar mengurangi produksi, satu dua sudah mulai ada yang menghentikan produksinya karena dampak kedelai mahal," lanjutnya.
Tak hanya tekanan harga kedelai yang naik. Berbagai komponen biaya produksi juga meningkat. Kurs dolar AS yang berada di kisaran Rp 14.500-15.500 pada 2022 kini diperkirakan Rp 18.000. Harga plastik juga meningkat dari sekitar Rp 20.000-25.000/kg pada 2022 menjadi Rp 35.000-45.000/kg pada 2026.
Gakoptindo mencatat ongkos logistik yang menjadi indeks 100 pada 2022 kini berada di kisaran indeks 125-145. Harga minyak goreng Minyakita juga meningkat dari HET Rp 14.000/liter pada 2022 menjadi Rp 15.700/liter pada 2026.
Di tengah tekanan biaya tersebut, perajin juga berharap pemerintah segera memperkuat kebijakan stabilisasi harga kedelai. Kusnoto menyebut dirinya mendapat informasi mengenai program subsidi kedelai sebanyak sekitar 250 ribu ton dengan nilai sekitar Rp 500 miliar. Namun, ia mengatakan manfaat kebijakan tersebut belum dirasakan perajin.
Ia juga menyebut skema tersebut hanya dapat digunakan ketika harga kedelai di pasar sudah menembus sekitar Rp 12.500-13.000/kg. Kusnoto menyayangkan kebijakan ini, karena biaya produksi tahu tempe bukan hanya kedelai.
"Kalau harga terus naik yang pasti bagi mereka yang punya modal akan tetap berproduksi walaupun katakanlah kedelai sampai harga Rp 15.000/kg, karena orang punya duit berapapun tempe harganya pasti dibeli, namun juga nggak sedikit perajin yang bisa bertahan produksi, alias ya akan gulung tikar," pungkasnya.
Baca selengkapnya di detikFinance