Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menegaskan pelaksanaan Sensus Ekonomi tidak serta-merta mengubah desil atau tingkat kesejahteraan masyarakat. Data desil dapat berubah karena diperbarui secara berkala setiap tiga bulan.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan pembaruan data desil tidak hanya bersumber dari BPS. Menurutnya, data tersebut dihimpun dari berbagai sumber.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Update terkait dengan desil itu tiga bulan sekali, yang meng-update itu bukan BPS saja. Jadi, update data-data desil itu dari berbagai sumber," ujar Agus di Denpasar, Selasa (1/9/2026).
Agus membeberkan data yang digunakan dalam pembaruan desil berasal dari berbagai instansi. Termasuk data dari Dapodik terkait siswa, data PLN mengenai penggunaan listrik, serta data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
Selain itu, pembaruan data juga dilakukan secara berkala melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial (Kemensos). Data dari berbagai sumber tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah sehingga menghasilkan pembaruan data desil setiap tiga bulan.
"Data desil itu sangat dinamis. Kenapa dinamis? Kan itu terkait dengan kesejahteraan, pengeluaran itu kan bisa berubah dengan cepat. Walaupun tidak semua, tapi perubahan itu kan ada," imbuhnya.
Agus menekankan bahwa desil tidak sama dengan angka kemiskinan absolut. Menurutnya, angka kemiskinan dapat berubah seiring dengan kondisi ekonomi masyarakat. Sementara desil menggambarkan posisi kesejahteraan berdasarkan sejumlah indikator.
Dalam menentukan desil, dia melanjutkan, terdapat sekitar 41 indikator yang diperhitungkan. Termasuk di antaranya indikator perumahan dan kepemilikan aset. Agus menegaskan penentuan desil mempertimbangkan berbagai indikator secara keseluruhan, bukan hanya satu indikator.
"Misalnya gini, 'oh lantai saya lebih bagus daripada lantainya dia, tapi kok desil saya lebih rendah?' Tapi ternyata indikator-indikator yang lain tidak menunjukkan begitu," beber Agus.
(iws/iws)