detikBali

Banyak Nyamuk Bermunculan Saat Kemarau, Begini Penjelasannya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Banyak Nyamuk Bermunculan Saat Kemarau, Begini Penjelasannya


Fahri Zulfikar - detikBali

ilustrasi nyamuk
Ilustrasi nyamuk. (Foto: thinkstock)
Denpasar -

Sejumlah warga mengeluhkan banyaknya nyamuk yang bermunculan meski saat musim kemarau. Ternyata, kemunculan nyamuk yang banyak saat musim kemarau dan suhu udara sedang hangat adalah hal lumrah. Bagaimana penjelasannya?

Dilansir dari detikEdu, nyamuk pada dasarnya lebih aktif dan berkembang biak saat musim hujan. Terlebih jika banyak air atau genangan yang bisa dijadikan tempat bertelur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, suhu yang menghangat saat kemarau juga memicu nyamuk keluar dari persembunyian. Saat tidak ada genangan air, nyamuk akan mencari tempat bertelur, termasuk ke rumah-rumah. Itulah sebabnya banyak nyamuk yang justru muncul di rumah saat kemarau.

"Begitu cuaca menghangat, mereka terbang keluar dari area hibernasi mereka dan bertelur di mana pun mereka bisa," kata Rosalind Murray, asisten profesor dari Universitas Toronto Mississauga yang mempelajari serangga, dikutip dari UTM Toronto.

ADVERTISEMENT

Murray menjelaskan telur nyamuk akan cepat menetas saat suhu semakin hangat. Perkembangan nyamuk menuju dewasa juga semakin cepat pada suhu hangat.

Misalkan, pada suhu 10 derajat, nyamuk-nyamuk dapat tumbuh dari telur hingga dewasa dalam waktu sekitar 40 hari. Sedangkan pada suhu di atas 25 derajat, hanya dibutuhkan empat hari bagi nyamuk untuk tumbuh hingga dewasa.

Di sisi lain, suhu hangat juga menyebabkan metabolisme nyamuk meningkat. "(Ini) tergantung pada spesiesnya, nyamuk hidup selama beberapa hari atau beberapa minggu," imbuh Murray.

Menurut dia, menghangatnya suhu global akibat perubahan iklim juga bisa memicu peningkatan nyamuk. Murray mewanti-wanti suhu yang menghangat akan membawa spesies nyamuk berbahaya bermigrasi ke wilayah permukiman. Terutama nyamuk yang berperan sebagai vektor demam berdarah, virus West Nile, atau virus Zika.

"Kita semakin sering melihat spesies tropis ini bermigrasi ke utara," ungkapnya.

Telur Nyamuk Demam Berdarah Tahan Kondisi Kering

Sementara itu, peneliti entomologi atau ilmu serangga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, mengatakan nyamuk spesies Aedes aegypti bisa tahan terhadap kondisi kering. Meski lebih menyukai air jernih, telur nyamuk pembawa demam berdarah ini tetap bisa bertahan di tempat lembap.

"Telur nyamuk tahan akan kondisi kering sehingga, bila memasuki awal musim hujan, menciptakan genangan-genangan air yang memungkinkan telur tersebut melanjutkan siklus hidupnya," papar Awit, dikutip dari detikNews.

"Sehingga seolah-olah penambahan populasi nyamuk makin tinggi dan serempak," imbuhnya.

Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini!



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads