detikBali

Jantung Tiba-tiba Berdebar Tanpa Sebab? Waspada Gejala Aritmia

Terpopuler Koleksi Pilihan

Jantung Tiba-tiba Berdebar Tanpa Sebab? Waspada Gejala Aritmia


Fabiola Dianira - detikBali

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia, I Made Putra Swi Antara, saat ditemui di Sanur, Denpasar, Sabtu (29/8/2026). (Fabiola Dianira)
Foto: Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia, I Made Putra Swi Antara, saat ditemui di Sanur, Denpasar, Sabtu (29/8/2026). (Fabiola Dianira)
Denpasar -

Jantung berdebar kerap tidak dianggap sebagai hal serius. Namun, jika sensasi tersebut muncul tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, kondisi ini patut diwaspadai sebagai salah satu gejala aritmia atau gangguan irama jantung.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia, I Made Putra Swi Antara, mengatakan keluhan yang paling sering dirasakan pasien dengan gangguan irama jantung adalah jantung berdebar tanpa sebab.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keluhan yang paling umum buat masyarakat yang bisa dirasakan adalah berdebar. Biasanya keluhan berdebar yang kita curiga suatu kelainan itu adalah apabila tidak ada pemicu yang jelas," ujarnya, Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya, pada sebagian orang yang sensitif, gangguan irama jantung juga dapat menimbulkan sensasi seperti nyeri di dada. Rasa tersebut dapat muncul sebentar, terasa seperti nyut-nyutan atau dicubit-cubit.

ADVERTISEMENT

Namun, sensasi yang paling khas adalah denyut jantung yang terasa seperti melompat atau berhenti sesaat. Putra menyebut pasien terkadang menggambarkan sensasi tersebut seperti ada denyutan yang terhenti sejenak.

Detakan tersebut biasanya hilang dalam waktu singkat, hanya sekitar 2-3 detik. Sensasinya dapat terasa seperti kendaraan yang melaju kencang kemudian mengalami sedikit getaran.

"Tapi yang paling khas adalah rasa kayak hilang. Denyutannya itu kayak lompat atau kayak kalau orang Bali bilang mecepol, syeng gitu rasanya kayak denyutan di dada itu kayak ada mau copot, mau jatuh. Itu yang paling sering sih keluhannya," katanya.

Meski begitu, Putra menyebut sebagian besar gangguan irama jantung tidak mengancam nyawa. Namun, kondisi tersebut tetap dapat memengaruhi kualitas hidup pasien.

"Kebanyakan gangguan irama jantung itu tidak mengancam nyawa, artinya tidak membahayakan. Tapi kalau gangguan irama jantung kita lebih banyak berbicara masalah kualitas hidup," imbuhnya.

Menurutnya, rasa tidak nyaman akibat aritmia dapat mengganggu konsentrasi hingga kualitas tidur pasien.

Ablasi Jadi Salah Satu Solusi

Untuk menangani aritmia, tindakan ablasi menjadi salah satu opsi medis utama. Berbeda dengan operasi terbuka, ablasi merupakan tindakan minimal invasif yang mirip dengan prosedur pemasangan ring jantung.

"Ini bukan operasi karena tidak ada pisau dan jahitan, hanya menusukkan selang (kateter) masuk ke dalam jantung. Kalau pasang ring itu memperbaiki saluran bensin atau pipa jantung, ablasi ini memperbaiki busi dan pengapiannya. Ibarat servis elektronik, dicari titik yang korslet lalu disolder," jelas Putra.

Menurutnya, tingkat keberhasilan tindakan ablasi dapat mencapai lebih dari 90 persen dalam satu kali tindakan. Ablasi juga bertujuan mengatasi sumber gangguan irama sehingga pasien tidak perlu terus mengonsumsi obat-obatan untuk mengontrol irama jantung dalam jangka panjang.

"Obat itu hanya mengganjal, istilahnya mengontrol. Dan untuk aritmia, ya, jadi kalau sudah diablasi karena tidak muncul lagi gangguan iramanya, 90% lebih tidak muncul ya nggak usah minum obat lagi," tuturnya.

Seiring perkembangan teknologi, tindakan ablasi kini juga didukung teknologi pemetaan tiga dimensi (3D). Teknologi tersebut membantu dokter memetakan kondisi jantung secara lebih tepat sasaran saat melakukan tindakan.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads