Korea Utara (Korut) menembakkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke arah laut di sebelah timur Semenanjung Korea. Peluncuran rudal ini terdeteksi militer Korea Selatan (Korsel) dan Jepang pada Kamis (20/8) waktu setempat.
Seperti dilansir dari detikNews, Jumat (21/8/2026), militer Korsel awalnya melaporkan mendeteksi setidaknya satu "proyektil tak teridentifikasi" yang diluncurkan Korut.
Dalam perkembangan selanjutnya, seorang pejabat dari kantor Kepala Staf Gabungan Korsel mengatakan kepada AFP bahwa Korut terdeteksi meluncurkan "sekitar 10 rudal balistik jarak pendek dari wilayah Pyongyang".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudal-rudal tersebut terdeteksi melaju sejauh sekitar 300 kilometer sebelum jatuh ke laut di sebelah timur Semenanjung Korea.
Aktivitas peluncuran itu juga terdeteksi Jepang. Kantor Perdana Menteri (PM) Jepang merilis pernyataan melalui media sosial X yang menyatakan bahwa Pyongyang telah meluncurkan "diduga sebuah rudal balistik".
Dalam pernyataan terpisah, otoritas Jepang menyebut rudal balistik yang diluncurkan Korut "telah jatuh" ke lautan. Televisi terkemuka Jepang, NHK, melaporkan rudal itu tampaknya jatuh di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang.
Kantor kepresidenan Korsel, seperti dilansir Reuters, mengecam peluncuran rudal-rudal Korut tersebut dan memerintahkan militer negara itu untuk menjaga kesiapsiagaan penuh.
Dalam pernyataannya, kantor kepresidenan Korsel menyebut rapat keamanan darurat digelar dengan dihadiri para pejabat Kementerian Pertahanan dan jajaran petinggi militer, setelah Korut terdeteksi menembakkan rudal.
"Peluncuran rudal balistik ini merupakan tindakan serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB," tegas kantor kepresidenan Korsel, sembari mendesak Korut untuk segera menghentikan tindakan semacam itu.
Belum ada pernyataan resmi Korut terkait aktivitas peluncuran terbarunya ini.
Peluncuran rudal Korut ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya akan bertemu pemimpin Korut Kim Jong Un pada akhir tahun ini.
Peluncuran itu juga terjadi saat latihan militer gabungan Korsel dan AS yang dipersingkat berakhir pada Jumat (20/8) waktu setempat.
Trump memerintahkan pengurangan signifikan untuk partisipasi AS dalam latihan gabungan itu, dengan menyebut hubungan baiknya dengan Kim Jong Un sebagai alasannya.